Aktualita

Paskah Berdarah di Sri Lanka: Apa Pelajaran Bagi Umat?

Ketenangan dan keindahan Sri Lanka diusik oleh serangan bom paskah yang menewaskan sekitar 250 orang (ilustrasi foto : Daniel Klein/Unsplash)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Serangkaian teror pengeboman yang terjadi di Sri Lanka pada Minggu, 21 April, mengguncang kekhusyukan Paskah yang tengah dirayakan warga Kristiani di seluruh dunia. Umat yang sedang melaksanakan ibadah Paskah di Gereja St.Anthony’s Shrine di Kochchikade, Gereja St.Sebastian di Katuwapitiya, Negombo dan Gereja Zion di Batticaloa menjadi target serangan. Pelaku juga menyasar empat hotel mewah di pusat kota Kolombo meskipun satu serangan gagal terlaksana. Sedikitnya 250 orang tewas dan lebih dari 500 yang lainnya mengalami luka-luka.

Kepolisian Sri Lanka menyebutkan pengeboman dilakukan dua kelompok Islamis setempat, yaitu Jamaah Tauhid Nasional (National Thawheedh Jamaath/NTJ) dan Jamiatul Millah Ibrahim (Jammiyathul Millathu Ibrahim/JMI). Sebelum serangan Minggu Paskah, tak satupun dari dua kelompok ini dikenal luas ataupun dilaporkan pernah terlibat dalam serangan masif serupa. Secara terpisah, kelompok militan ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan. Belum jelas sejauhmana keterlibatan ISIS dalam serangan Minggu Paskah dan apa keterkaitan kelompok militant tersebut dengan NTJ dan JMI yang pada Sabtu (27/4) sudah dinyatakan otoritas Sri Lanka sebagai kelompok terlarang.

Kritik keras disuarakan berbagai pihak terhadap pemerintah Sri Lanka karena mengabaikan peringatan intelijen akan terjadinya serangkaian pengeboman, termasuk salah satunya dari badan intelijen India yang disampaikan beberapa jam sebelum terjadinya serangan.   

Ucapan simpati dan duka mendalam hingga kini masih berdatangan untuk pemerintah dan rakyat Sri Lanka, negara berpenduduk 22 juta jiwa yang mayoritas penganut ajaran Buddha. Bom Sri Lanka tidak bisa dimungkiri merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa diterima oleh siapapun dan atas alasan apapun.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo menegaskan dalam akun Twitter miliknya, @jokowi, Indonesia mengecam keras serangan bom di beberapa tempat di Sri Lanka pada Minggu Paskah. “Atas nama seluruh rakyat Indonesia, saya juga menyampaikan duka cita yang mendalam kepada pemerintah Sri Lanka dan seluruh keluarga korban. Semoga korban yang luka-luka dapat segera pulih.”

Dalam pernyataan di situs resmi kemlu.go.id, Kementerian Luar Negeri RI mengatakan pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban dan seluruh keluarga mereka. Kedutaan Besar RI di Kolombo terus memantau perkembangan situasi dan telah berkoordinasi dengan otoritas keamanan, rumah sakit dan perhimpunan warganegara Indonesia setempat. Kementerian menyebutkan hingga saat ini tidak ada informasi mengenai WNI yang menjadi korban dalam insiden tersebut. Saat ini ada sekitar 374 warganegara Indonesia bermukim di Sri Lanka, termasuk sekitar 140 orang yang berada di Kolombo, ibukota negara.

Serangan Sri Lanka menghentak kembali kesadaran kita bahwa terorisme masih menjadi ancaman bagi masyarakat dunia.  Cengkeraman teror dan ketakutan bahkan menebar hingga tempat-tempat peribadahan yang seharusnya disucikan dan dihormati. Serangan teror dan kekerasan terhadap umat beragama yang tengah beribadah menunjukkan betapa nilai-nilai agama dan kemanusiaan sudah tidak lagi dihargai.

Kita tidak mengetahui pasti apa alasan atau motivasi sembilan pelaku bom bunuh diri tersebut sehingga mereka tega melancarkan aksi keji. Sebagian besar pelaku berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga yang mapan secara ekonomi. Beberapa mereka bahkan pernah bersekolah di luar negeri seperti Inggris dan Australia. Ruwan Wijewardene, menteri muda bidang pertahanan Sri Lanka, menyampaikan kepada parlemen pekan lalu, NJT dan JMI bertanggung jawab atas serangan. Pendiri NJT, Zahran Hashim, ikut melancarkan aksi bunuh diri di Shangri-La Hotel di Kolombo.  

NJT, yang dibentuk di Kattankudy, kota di kawasan timur Sri Lanka, pada 2014, dilaporkan pernah menyatakan dukungan kepada ISIS. Sebelum bom Paskah, kelompok ekstrimis lokal tersebut belum mempunyai sejarah serangan massal yang mematikan. NJT hanya tercatat pernah melancarkan aksi vandalisme ke kuil-kuil Buddha di Mawanella, Sri Lanka tengah, pada Desember 2018. Sejumlah patung Buddha dirusak. Dokumen yang dikirim ke Kepolisian Sri Lanka awal April menyebutkan, NTJ berencana menyerang gereja-gereja dan perwakilan pemerintah India.

Pengeboman Sri Lanka juga dinilai sejumlah kalangan bukti keberhasilan ISIS berkembang menjadi organisasi berbasis Internet yang mampu terus melancarkan serangan-serangan canggih serta membangun sel-sel baru di berbagai wilayah dunia. Meskipun koalisi Barat pimpinan Amerika Serikat berhasil merebut basis kekuatan terakhir “kekhalifahan” ISIS di Baghouz, Suriah, pada Maret lalu, kelompok militan tersebut tidak menunjukkan sedikitpun keinginan untuk menghentikan operasi-operasi besar mereka.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda