Mutiara

Ibunda Orang Beriman

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat
Tuhan mencintai sebagian kelakuan   kita dan membenci sebagian lainnya. Perbuatan yang disukai-Nya adalah keluhuran hati dan pertolongan terhadap sesama, terutama kepada mereka yang lemah.

Dari hari ke hari, ekonomi Abu Thalib kian tidak menentu. Penghasilannya terlalu sedikit untuk mencukupi keluarganya yang besar. Perlu ada tambahan pemasukan. Namun dari mana harus diperolehnya? Setelah nguping  sana-sini,  dia kemudian memanggil  keponakannya, yang juga menjadi tanggungannya.

Kata Abu Thalib, “Anakku. Kamu tahu, kita bukan keluarga berpunya. Dan keadaan ini makin menekan kita. Saya dengar ada kafilah yang segera berangkat ke Syam. Kabarnya, Khadijah binti Khuwailid membutuhkan tenaga untuk menjaga barang-barang dagangannya. Kalau kamu bersedia, saya kira dia tidak keberatan untuk mengikutsertakanmu.”

Sang keponakan pun bersedia mengikuti saran pamannya.

Abu Thalib kemudian mendatangi Khadijah dan menanyakan apakah dia bersedia mempekerjakan keponakannya. Hanya, Abu Thalib mengajukan syarat agar Khadijah mengupah dua kali lipat. Yakni empat ekor unta, kepada keponakannya, dari  yang biasa diberikan kepada orang lain. Dengan senang hati Khadijah menerima permohonan itu. Katanya, “Abu Thalib, biarpun permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, tetap saya kabulkan. Apalagi buat orang yang dekat dan aku sukai.”

Khadijah rupanya punya cukup punya informasi tentang reputasi keponakan Abu Thalib yang satu itu. Cerdas, cermat, dan bisa dipercaya. Penduduk kota menggelarinya al-Amin dibelakang namanya. Muhammad.

Adapun Khadijah, dia adalah seorang wanita kaya, cantik, dan terhormat. Dia sering mempekerjakan sejumlah orang untuk membawa dagangannya ke luar Mekah. Sudah dua kali dia ditinggal wafat suaminya. Pertama dia menikah dengan Abu Halal Annabbasy ibn Zurarah. Setelah Abu Halal meninggal dunia, Khadijah menikah lagi dengan Atiq ibn Abid Al-Makhzumi. Semasa perkawinannya yang kedua inilah usaha perdagangan Khadijah maju pesat. Itu antara lain berkat bantuan ayahnya, Khuwailid, dan beberapa orang kepercayaannya.  Kala itu, Khadijah adalah salah seorang dari sedikit pengusaha Mekah yang punya kemampuan manajerial. Dia tidak hanya pandai membaca kemauan pasar, tetapi juga piawai dalam mengelola aset dan merekrut orang-orang yang menjadi kepercayaannya. Maka,t idak heran bila ia menjadi wanita terkaya di Jazirah Arab.

Selain kaya, Khadijah adalah perempuan yang independen. Beberapa pemuka Quraisy yang  mencoba melamarnya, diatolak. Namun entah mengapa, kekagumannya kepada Muhammad kemudian berkembang menjadi perasaan cinta. Untuk itu, dia mengutus sahabatnya, Nufaisa, menjajaki Muhammad.

Ia menanyakan mengapa Muhammad tidak menikah padahal usianya sudah lebih dari cukup. Yang ditanya menjawab, bahwa dia bukan  tidak mau mencari pasangan hidup, tetapi merasa belum cukup punya modal untuk menyiapkan sebuah perkawinan.

Nufaisa pun cepat merespons, dengan menyatakan, andaikan ada   yang mau menyediakan dan yang melamar Muhammad itu cantik, beharta, terhormat, dan memenuhi syarat, apakah dia mau menerima?

Sang utusan menjawab singkat, ‘Khadijah”,  ketika Muhammad bertanya mengenai perempuan yang dimaksud. Hanya saja, Muhammad masih masygul karena dia tidak tahu langkah yang mesti dia lakukan. Nufaisa pun segera merespons, agar urusan itu diserahkan padanya.     

Dengan 20 ekor unta muda sebagai mas kawin, Muhammad pun melangsungkan pernikahannya dengan Khadijah. Waktu itu mempelai wanita berusia 40 tahun, sedangkan yang pria berumur 25 tahun.

Rasululullah s.a.w. tidak menikah dengan perempuan lain selama Khadijah masih hidup. Dia mendampingi Muhamad 25 tahun lamanya dan wafat tiga tahun sebelum hijrah. Dia memberikan enam orang anak, salah seorangnya adalah Fatimah Az-Zahra yang dikawinkan dengan Ali ibn Abi Thalib r.a.

Khadijah membebaskan Muhammad untuk tidak mengurus harta  dan mengelola usaha dagangnya serta membiarkannya menggunakan waktu untuk berpikir dan merenung. Tak hanya itu, Khadijah juga selalu memberikan dorongan dan semangat kepada  Rasulullah untuk menjalankan dakwahnya. Dia bahu-membahu dengan suaminya ketika harus menghadapi embargo ekonomi dari kaum Quraisy, penentang Islam. Dia terus bertahan dengan penuh pengorbanan sampai hartanya ludes. Tidak heran jika Rasulullah sangat mencintainya dan seperti kehilangan pegangan ketika Khadijah meninggal. Dan, inilah yang selalu dikenangnya: “Ketika aku miskin, dia mengayakan aku.  Ketika orang-orang menganggapku gila, ia tetap percaya kepadaku. Sewaktu semua orang lain menentangku, Khadijah mendukungku. Waktu semua orang masih kafir, dia telah memeluk Islam. Waktu semua orang lain tidak menolongku, Khadijah datang menolongku.”

Banyak ulama yang menempatkan Khadijah sebagai salah seorang dari tiga wanita besar dalam Islam, di samping Fatimah dan Aisyah. Kata mereka, urutannya adalah Fatimah, Khadijah, kemudian Aisyah. Ibn Qaiyim al-Jauziyah, seorang murid dan pengikut Ibn Taimiyah, berpendapat, jika orang memandang atas dasar hubungan darah dengan Nabi, maka Fatimah berada pada urutan atas. Namun kalau orang melihat siapa yang pertama kali masuk Islam dan siapa yang memberikan dukungan moral dan material kepada Islam, maka Khadijah-lah yang pertama menduduki posisi itu. Lalu jika orang memandangnya dari segi keluasan ilmu serta pengabdiannya dalam penyebaran Islam, maka Aisyah sungguh tiada bandingannya.

Di antara ucapan terkenal Ummul Mukminin Al-Kubra (Ibunda orang-orang beriman yang agung), sebutan untuk Khadijah, adalah pertama, manusia adalah jenis makhluk yang merupakan sumber penjelmaan kebesaran Tuhan. Kedua, Allah selalu memperhatikan kelakuan manusia dan memberikan ganjaran untuk itu. Tuhan mencintai sebagian kelakuan   kita dan membenci sebagian lainnya. Perbuatan yang disukai-Nya adalah keluhuran hati dan pertolongan terhadap sesama, terutama kepada mereka yang lemah.

Sumber: Muhammad Hussain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, terjemahan Ali Audah (1980); Khwaja Jamil Ahmad, Hundred Greater Muslims (1984)

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda