Mutiara

Perangai Penguasa Dulu. Sudah Berubah?

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Raja Jawa ini selain membantai ribuan ulama, juga menyekap puluhan selir sampai tewas dan mengubur hidup-hidup mereka. Tapi penguasa sekarang, bisa  membunuh dengan cara yang santun.

Tidak ada ada penguasa di tanah Jawa yang melebihi kekejaman  Raja Mataram Sunan Amangkurat I. Penerus Sultan Agung gemar membunuh, bahkan terhadap orang-orang yang tidak bersalah. Kekejaman paling masyhur adalah ketika ia mengumpulkan para ulama dan keluarganya di alun-alun Plered, kemudian membunuhnya.   Pembunuhan para ulama yang jumlahnya mencapai 5.000 orang itu (ada yang menyebut 6.000) karena Sunan jengkel terhadap kritik mereka yang menyatakan bahwa Sunan sudah banyak menyimpang dari norma agama.

Kekejaman Amangkurat terus berlanjut, ketika dia menyekap 43 orang selirnya di sebuah ruangan, tanpa diberi makan atau minum. Dan siapa saja yang kelaparan dipaksa makan sesama mereka yang sudah mati, sampai akhirnya hanya seorang yang masih hidup. Kepada selir yang masih hidup itu, Raja bertanya mengapa dia tidak mati. Selir itu menjawab, “Hamba tidak tahu, Sri Baginda.” Lalu sang Raja menimpali, “Baiklah kalau begitu. Tetapi kamu akan menyusul istriku yang sudah mati.” Setelah itu Amangkurat memerintahkan agar selir itu dikubur hidup-hidup di sebelah makam permaisurinya. Selain selir-selirnya, masih ada 350 wanita lain yang mati dibunuh.

Peristiwa penyekapan sampai mati dan penguburan hidup-hidup itu terjadi setelah Amangkurat I ditinggal istri yang paling dicintainya, Ratu Malang. Sedemikian sedihnya ia ditinggal permaisurinya itu, ia mengabaikan segala masalah kerajaan. Setelah pemakaman istrinya, ia diam-diam kembali ke makam istrinya, tanpa diketahui seorang pun. Saking cintanya kepada Ratu Malang, ia tidak bisa menahan diri dan turut membaringkan dirinya di dalam kuburan. Semua orang ribut mencari. Dan setelah dicari kian kemari, akhirnya ia ditemukan berada di disi jenazah istrinya yang sudah membusuk. Toh akhirnya ia bisa dibujuk kembali ke istana. Dan tidak berapa lama  ia pun mengeluarkan perintah yang mengerikan itu.

Berita lain menyebutkan, jika beberapa orang di antara istri atau selirnya yang tercantik menjadi sedih atau sakit, atau meninggal, maka semua dayang mereka, atas perintah Raja, tidak hanya dibunuh, tetapi juga banyak yang dikubur hidup-hidup bersama orang yang meninggal itu. Ini hanya semata karena amarahnya terhadap para hamba-hamba wanita itu yang dianggapnya lalai sehingga menewaskan istrinya.

Kritik memang sering menjengkelkan, bahkan penguasa kerap menganggapnya sebagai ancaman. Karena itu, bukan hanya membungkam para pengeritik, para penguasa sering berlaku sadis seperti yang diperlihatkan oleh Sunan Amangkurat I, yang notabene penerus kerajaan Islam di Tanah Jawa.

Zaman memang telah berubah, dan boleh dibilang tidak ada penguasa yang melakukan kekejaman secara vulgar seperti raja Jawa itu. Perilaku keji para penguasa sekarang sudah dibungkus  sedemikian rupa sehingga di luar tampak anggun atau bahkan innocent. Tetapi bukankah sama biadabnya, membunuh dengan muka sangar dan membunuh sambil tersenyum? Oleh karena itu, janganlah tertipu oleh penampilan luar. Sebuah sabda   mengingatkan kita, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk penampilan dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan perbuatan kalian.” (H.R. Muslim)

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda