Cakrawala

10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga. Vol. 8

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Sa’d  bermimpi: dunia gelap gulita. Seluruh penjuru dunia tampak kelam. . Dadanya sesak. Dan nyawanya seakan lepas. Tetapi kejadian itu hanya sebentar. Setelah itu datang sinar, dan dunia pun benderang. Hatinya terasa lega. Apa yang terjadi kemudian?

Dalam hadis yang diiriwayatkan dari  Abdurrahman ibn Auf, disebutkan 10 sahabat Nabi yang digembirakan atau dijamin bakal masuk surga. Mereka adalah  (1) Abu Bakar Ash-Shiddiq, (2) Umar ibn Khaththab. (3) Utsman ibn Affan, (4) Ali ibn Abi Thalib, (5) Zubair ibn Awwam, (6)  Abu Ubaidah Amir ibn Al-Jarrah, (7) Abdurrahman ibn Auf, (8) Sa’d (Sa’ad) ibn Abi Waqqash, (9) Thalhah ibn Ubaidillah, (10) Sa’id ibn Zaid.    Sebagaimana halnya pada figur dan perjuangan Rasulullah s.a.w., kita juga bisa mengambil suri tauladan dari para sahabat yang tergolong generasi pendahulu atau as-sabiquunal awaaluun itu. Tiga tulisan terdahulu memuat masing-masing Abu Bakar Ash-Shiddiq,  Umar ibn al-Khaththab, Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Zubair ibn Awwam,  Abu Ubaidah ibn Jarrah, dan Abdurrahman ibn Auf. Tulisan berikut ini tentang Sa’d ibn Abi Waqqash, si  anak panah pertama dalam Islam, dan panglima perang yang berhasil menaklukkan kekaisaran Persia.

Dikisahkan,  suatu hari ketika Sa’d sedang berada di tokonya ia mendapat kunjungan Abu Bakar. Sang tamu yang mengaku membawa urusan penting bertanya:  “Apakah kamu kenal Muhammad?”

“Ya tentu saja, saya pamannya, seperti sudah Anda tahu,” jawab Sa’d.

“Apakah kamu punya kecurigaan kepada Muhammad?”

“Tidak. Dia sebaik-baik orang, dan semulia-mulia manusia yang saya kenal.”

“Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepadanya untuk menjadi Nabi. Allah telah menurunkan kepadanya Alquran sebagai pedoman untuk mengajak manusia meninggalkan berhala, utuk beriman kepada Tuhan  Yang Esa, menyadarkan orang-orang yang dianiaya, dan menetapkan ajaran persamaan antar umat manusia?”

“Kalau memang demkian, apakah dia kufur terhadap Latta,  Uzza dan Manat?”

“Mengapa tidak, sedang berhala itu semua adalah batu-batu yang tuli, tidak membahayakan dan tidak memberi kemanfaatan.”   

“Siapakah manusia yang telah beriman,” tanya Sa’d setelah tafakkur sebentar.

“Saya, Ali ibn Abi Thalib dan Zaid ibn Haritsah,” jawab Abu Bakar.

Sa’d  lalu teringat akan mimpinya semalam. Dunia gelap gulita. Matahari tertutup. Seluruh penjuru dunia tampak kelam. Waktu itu ia merasa  susah sekali. Dadanya sesak. Dan nyawanya seakan lepas. Tetapi kejadian itu hanya sebentar. Setelah itu datang sinar, dan dunia pun benderang. Hatinya terasa lega. Dan bersamaan dengan datangnya cahaya benderang itu, ia melihat wajah-wajah manusia yang ia kenal: Abu Bakar, Ali ibn Abi Thalib, dan Zaid ibn Haritsah.

“Di manakah Muhammad sekarang?” kata Sa’d seraya menoleh kepada Abu Bakar.

“Di kampung Ajyad.”

“Mari kita sekarang meneminya.”

Ringkas cerita, Sa’d ibn Abi Waqqash pun masuk Islam, dan menjadi bagian penting dalam perjuangan Islam.  Waktu itu ia berusia 17. Ia dikenal sebagai pemanah ulung, dan peunggang kuda yang hebat. Nabi pernah berkata kepda Sa’d:  “Kutebus dengan bapak dan ibuku, lepaskan panah. Lepaskan panah, wahai anak muda yang kuat. Ya Allah, lepaskanlah panahnya dan kabulkanlah doanya.”  Ia termasuk pasukan yang dikirimkan Nabi ke Rabigh. Ketika kaum musyrikin menyerang mereka, Sa’d melemparkan anak panahnya. Menurut riwayat Ibn Asakir, itulah anak panah pertama yang dilemparkan di dalam Islam.

Panglima Perang

Sa’d adalah gubernur Irak pada masa kekhalifahan Umar ibn Khattab. Setelah memenangkan pertempuran Qadisiah dan menerima penyerahan beberapa kota terdekat, Panglima  Sa’d ibn Abi Waqqash dan pasukannya meragsek ke Babilonia. Di wilayah ini beberapa jenderal Persia ternama, seperti Firuzan, Hurmuzan, dan Mihran mencoba menghimpun kembali pasukan yang sudah tecerai-berai. Pasukan Sa’d hanya memerlukan satu serangan utuk menguasai Chaldea, wilayah Nabi Ibrahim dulu. Firuzan kabur ke Nahawand, Hurmuzan ngacir ke Ahwaz,   Iran Barat sekarang, dan Mihran meloloskan diri ke Madain. Di ibu kota  Kaisar Muda Yezdajrid itu, yang dulu kota Nabi Salih, sekali lagi Mihran menyusun kekuatan.

Madain terletak di tepi Sungai Tigris, yang membelah daerah yang dikuasai oleh pasukan Muslim dan pasukan Persia. Tatkala tentara Sa’d mencapai bibir sungai jembatan sudah dibumihanguskan. Tapi Jendral Sa’d  memimpin penceburan diri ke sungai yang sedang meluap. Mereka sampai ke seberang — meski tak dituturkan berapa yang hanyut. Kejadian di luar perkiraan inilah yang membuat kalang kabut tentara Mihran. Mereka menyingkir, meninggalkan istana-istana yang mewah dan  jarahan tak ternilai.

Sa’d  kemudian  menjadikan Madain markas besarnya. Masih ada “sedikit tugas”. Yakni  ketika Persia kembali mengerahkan pasukan raksasa, hasilnya di luar dugaan: lebih 100.000 dari mereka, kata sejarawan Thabari, terbunuh, dan para prajurit membawa pulang harta rampasan yang luar biasa, sebagaimana kebiasaan waktu itu. Demikian banyaknya, sampai-sampai Khalifah Umar sedih: di balik kekayaan yang melimpah itu, ia justru melihat tanda-tanda awal proses kehancuran akibat kebiasaan hidup senang dan ketamakan.

Tapi pertempuran yang menentukan kejatuhan Persia sebenarnya adalah pertempuran di Qadisiah itu. Di sini Panglima Sa’d tidak bisa terjun langsung, lantaran sakit. Ia hanya bisa memberikan komando, dari sebuah rumah di pinggir medan. Di sini pula pertama kalinya pasukan muslim bertemu  barisan gajah, yang menakutkan dan membuat liar kuda-kuda Arab. Tapi melihat pasukannya mulai terdesak, Sa’d memerintahkan mereka untuk menggunakan tombak, guna menghadapi “raksasa-raksasa “ itu.

Salah satu yang melemparkan tombak adalah perajurit bernama Ka’akah. Selain merobohkan dua jagoan Persia dalam perang tanding, di hari  terakhir ia hujamkan tombak itu ke seekor gajah putih yang memimpin di depan. Tepat kena matanya, sementara pedangnya melukai belalai hingga memuncratkan darah. Gajah itu meraung, diikuti gajah-gajah lain yang panik.

Tapi Abu Mahjan malah berada di garis belakang. Prajurit  ini adalah seorang penyair. Ia dirantai karena kedapatan teler menenggak anggur. Ia lalu mendatangi istri Panglima, mohon agar diizinkan maju, dengan janji, kalau selamat, akan kembali ke status tahanan. Nyonya Sa’d setuju, bahkan memberinya kuda.

Sementara itu di medan, pasukan Sa’d menangkap kepanikan musuh dan segera memukul balik. Dan bala tentara Persia kocar-kacir: panglima besar mereka, Rustum, lari dan nyaris tewas ketika menyebrangi kanal. Akan halnya si penyair teler, syukur ia selamat. Jadi ia menyerahkan diri kembali untuk ditahan. Tapi Panglima malah mengampuninya, dan sebagai imbalan, si penyair berjanji tidak akan nenggak lagi.

Menjelang wafat, Umar ibn Khattab mengangkat Sa’d sebagai salah satu anggota Panitia Enam untuk memilih khalifah pengganti Umar. Setelah Utsman ibn Affam terpilih, Sa’d tetap menduduki posnya sebaga gubernur  Irak. Ia pensiun di masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib r.a. dan menghabiskan masa tuanya di sebuah dusun, sampai wafatnya pada 50 H atau sekitar tahun 674, dalam usia 80 tahun.

Sumber: Khwaja Jamil Ahmad, Hundred Greater Muslims (1984); Muhammad Ali Al-Quthub, Sepuluh Sahabat Dijamin Ahli Syurga; M. Yusuf Al-Kandahlawy, Kehidupan Para Sahabat Rasulullah S.A.W.(1982).

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda