Mutiara

Ulama dan Penguasa

Lama tidak mendengar fatwa ulama yang bermutu, Khalifah Harun Ar-Rasyid justru kesepian.Yang beredar hanya puji-pujian kepada sang khalifah.

Para penguasa kapan pun dan dimana pun pada umumnya lebih suka dipuji ketimbang dikritik. Baik itu mereka  yang beroleh kekuasaan berdasarkan keturunan seperti raja dan sultan maupun yang dipilih rakyat atau parlemen seperti presiden dan perdana menteri. Kritik kepada penguasa itu umumnya dilontarkan oleh kaum cerdik-pandai, termasuk ulama. Hanya saja, sudah menjadi kelaziman pula di kalangan penguasa untuk “merangkul” ulama berpengaruh agar mereka tidak mengeluarkan suara yang dapat menggoyahkan kekuasaannya. Jika masih ada yang berani cuap-cuap, tinggal diselidiki dan dikumpulkan ia punya kelemahan, dan seterusnya, yang bisa berujung pada kriminalisasi.

Tapi kamus semacam itu rupanya tidak berlaku pada Khalifah Harun Ar-Rasyid. Suatu masa penguasa Bani Abbasiah ini merasa  gelisah dan sepi dalam hidupnya. Sebab sudah lama ia tidak mendengar fatwa ulama yang bermutu.Yang beredar luas hanya puji-pujian terhadap kebesaran khalifah. Maka  diundanglah Ibnu Samak ke istananya di Bagdad. Udara sangat panas, dan Baginda minta dibawakan sepiala air minum untuknya, Ketika penguasa ke-5 Dinasti Abbasiah itu hendak melepas dahaganya, Ibnu Samak tiba-tiba bertanya. Karuan saja Khalifah Harun kaget, dan meletakkan kembali piala yang telah diangkatnya.

“Yang Mulia, beribu ampun, sekiranya air seteguk itu teramat sukar dicari, dan baru diperoleh dengan sangat susah payah, padahal Baginda sudah demikian haus, berapakah Baginda hargai?”

“Saya bersedia menjual separo kekayaan saya.”

“Nah… silakan minum, Paduka, air yang seteguk itu, yang harganya bisa mencapai 50 persen lebih dari seluruh kekayaan Paduka.”

Ilustrasi dari Harun Al Rasyid

Raju pun minum. Gluk. Gluk, Segaaar. Dan Ibnu Samak dipersilakan meneruskan petuahnya. Masih dengan pertanyaan rupanya: “Andaikan air yang seteguk tadi enggan keluar dari “pelepasan” Baginda, sedangkan Baginda sudah begitu bersusah payah, tapi rupanya mampet, nah, berapakah kiranya yang akan Baginda bayar?”

“Kalau air itu tidak mau keluar lagi, apalah artinya kemegahan dan kekayaan ini. Biar habis seluruh hartaku untuk berobat, asal dia keluar.”

“Daulat, Tuanku. Rupanya segelas air najis lebih mahal harganya ketimbang seluruh aset Harun Ar-Rasyid. Maka tidakkah Tuan akan insaf, bagaimana besarnya kekuasaan Allah dan Mahakayanya Dia di hadapan kita, makhluk yang lemah, tapi sok kuasa, sok kaya? Tidakkah juga kini saatnya kita tunduk kepada-Nya, dan menyadari kelemahan kita?”

Harun Ar-Rasyid, raja cemerlang, lambang pncak kebesaran Bani Abbas, pencinta ilmu yang besar, menangis tersedu-sedu. Begitulah riwayat dari Negeri Bagdad.

Adapun Ibnu Samak, mungkin bisa kita jadikan contoh pribadi yang berani, prototipe ulama yang punya karakter dan pendirian di hadapan penguasa yang, waktu itu, disemua bagian dunia, hampir tak mengenal batas kekuasaan. Beruntung ia tidak berhadapan dengan penguasa budek, dan antikritik.            

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda