Tasawuf

Inilah Cara Rabi’ah Al-Adawiah Merayakan Malam

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Malam merupakan saat-saat yang bagus untuk menyaksikan keagungan dan kemuliaan Allah. Sabda Nabi, “Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala (Mahaberkat dan Mahatinggi) senantiasa turun di setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir.

“Gadis itu mendekatiku, meraih lenganku. Katanya, setengah berbisik, ‘Doa-doamu adalah cahaya, dan ibadat-ibadatmu kekuatan. Tidurmu sudah menjadi musuhmu. Hidupmu adalah kesempatan, yang kaujadikan sebuah persiapan. Semua lewat sudah, perlahan menghilang dan mati.’ Lalu gadis itu menghilang.”

“Kami bertemu di sebuah taman,” cerita orang itu kepada budaknya suatu pagi. “Taman dengan lanskap dan tanaman-tanaman yang hijau. Ketika aku terkagum-kagum mengelilingi tempat itu, tiba-tiba muncul seekor burung. Seorang gadis sedang mengejarnya.

‘Hei, ngapain kamu kejar-kejar burung itu? Biarkan dia terbang. Belum pernah aku melihat burung sebagus itu.’

‘Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih bagus dari itu?’ jawab si gadis. Tentu saja aku berminat”

Mereka pun berjalan bergandengan, hingga sampai ke sebuah pintu gerbang. Setelah gerbang terbuka, tampak sebuah tempat yang tak pernah dibayangkannya. Sebuah suara lalu mempersilakannya masuk. Akhirnya mereka sampai di gerbang yang lain, yang setelah terbuka ternyata di baliknya sebuah taman. “Di sana aku bertemu sekelompok gadis dengan wajah putih bagai cahaya mutiara. Mereka membawa nampan berisi kayu gaharu. ‘Kami sedang mencari seseorang yang tenggelam di laut dan mati syahid,’ kata gadis-gadis itu, menjawab pertanyaan gadis pemanduku. ‘Sudahkah orang ini kamu beri wewangian?’ si gadis melanjutkan pertanyaannya, seraya menunjuk ke arahku. ‘Sebelumnya,’ jawab gadis-gadis itu seraya menunjuk salah satu temannya, ‘ia sudah menebarkannya tetapi orang itu malah menjauh.’ Gadis itu mendekatiku, meraih lenganku……”

Tapi mengapa menghilang?

Subuh sudah tiba rupanya, dan Rabi’ah Al-Adawiah, yang menceritakan kisah tadi,  terbangun. “Pikiranku jadi kacau. Mimpi itu selalu mengejarku,” kata Rabi’ah.

Sejak hari itu, kata budaknya,  Rabi’ah tidak pernah tidur malam. Hingga kematian menjemputnya. Ia mengisi malam-malamnya dengan shalat dan doa-doa. Sering dia kedapatan di sotoh rumahnya, loteng yang rata dan terbuka, bermunajat:

            Ya, Allah, Ilahi Rabbi, tampak di atas sana

bintang-bintang gemerlap cahaya

            Tiap pasang mata telah terlelap dalam tidurnya

           Raja-raja telah menutup rapat gerbang- gerbangnya            

            Tiap kekasih sedang asyik dengan yang dicintanya

            Sedangkan aku sendiri berdua, bersama Engkau

Bagi para ahli ibadah, lebih-lebih bagi para sufi seperti Rabi’ah, malam merupakan saat-saat yang bagus untuk menyaksikan keagungan dan kemuliaan Allah. Sabda Nabi, “Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala (Mahaberkat dan Mahatinggi) senantiasa turun di setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Barang siapa meminta kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Barangsiapa memohon ampunan-Ku, akan Aku ampuni’.” (Bukhari).

Rabi’ah, kita ketahui, adalah sufi wanita masyhur, yang menempuh hidup zuhud, tidak tertarik kepada kehidupan duniawi, dan mengisi hari-harinya hanya untuk beribadah kepada Allah. Karena itu ia disebut sebagai “Ibu para Sufi Besar”. Rabi’ah  diperkirakan lahir atara tahun 713-717 di Basrah dan wafat sekitar tahun 801.   

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda