Cakrawala

Agama Plesetan

Dibanding spesies lain, kecenderungan dan intensitas manusia untuk membinasakan sesamanya sungguh tak tertandingi. Sebagian orang bahkan tak ragu menggolongkannya sebagai spesies genosid (genocidal species).

Kenyataan ini seperti membenarkan kekhawatiran para malaikat, yang sempat mempertanyakan pengukuhan Adam sebagai wakil-Nya “Kenapa Allah mengangkat mahluk yang gemar merusak dan mengalirkan darah sesamanya?”

Atau, jangan-jangan determinasi sejarah oleh apa yang diidentifikasi Richard Dawkins -reduksionis ulung biologi evolusioner Darwinian- sebagai selfish gene, memang benar adanya?

Kalau benar demikian, selfish gene inilah yang konon menggejala dalam bentuk dominasi akal fragmentatif dan instrumentalis di berbagai peradaban. Yakni jenis akal yang sengaja disusun untuk membela dan menyalurkan kepentingan diri (dan kelompok) aktor-aktor utamanya.

Karena berbasis kepentingan, akal jenis ini selalu memproduksi pengetahuan yang cenderung menyuburkan kecurigaan dan ketidakpercayaan. Tak mengherankan bila yang kemudian muncul sebagai warna utama peradaban adalah paranoia. Situasi yang pada gilirannya -bisa diduga- dengan gampang akan menyulut agresivitas.

Atau, kalau memakai terminologi Islam, ini adalah jenis bangunan peradaban yang dioperasionalisasikan oleh akal jahil. Jahil bukan karena tidak berpengetahuan, tapi karena pengetahuannya berbasis kepentingan.

Jangan lupa, istilah jahil memang mencakup pengertian ‘ketidakmampuan mengendalikan diri’. Kondisi yang membuat orang gampang meledak dan melakukan tindakan -yang bisa sangat tak terduga- untuk memaksakan kebenarannya sendiri.

Nah, kalau kita tengok kenyataan saat ini dengan sangat terpaksa kita harus mengatakan, bahwa apa yang kita bayangkan sebagai puncak capaian peradaban, tampaknya tak lebih dari sekadar konstruksi akal jahil yang digerakkan oleh -meminjam istilah Joseph E. Stiglitz- keserakahan.

Keserakahan yang membuat para aktor utamanya -dengan intensitas dan variasi berbeda- bisa melakukan kekerasan (baik secara fisik maupun wacana) pada siapa saja, kapan saja, dimana saja dan dengan alasan apa saja (yang secara retoris selalu dibuat ‘indah’ dan ‘benar’), demi mengejar dan mempertahankan tujuan-tujuannya sendiri.

Para aktor utama yang bisa menentukan hitam-putihnya peradaban, penjahat-pahlawannya sekelompok orang, benar-salahnya nilai yang diperjuangkan, tepat-kelirunya sistem yang diterapkan. Sementara mayoritas warga dunia lainnya harus puas sekadar menjadi obyek, atau paling banter menjadi figurannya.

Warga mayoritas ini bahkan harus cukup puas bila suaranya dibiarkan menjadi sekedar orkestrasi kegaduhan pengiring pesta para aktor utama. Kegaduhan yang sudah pula diperhitungkan akan lenyap begitu media massa mulai bosan memberitakan, aktivis media sosial mulai kekeringan dana, para ‘wayang’ mulai linglung mengatur peran karena ditinggal lari dalang dan penanggap yang ‘berpindah ke lain hati’, organ-organ paduan suara mulai bingung menentukan nada dasar lagu karena dirigennya tiba-tiba raib, dst, dst.

Tak mengherankan, meski konon berbasis demokrasi dan hak asasi manusia, abad ini tak pernah bisa menghindari skala penggunaan kekerasan (sekali lagi, baik di tingkat fisik maupun wacana) yang begitu luas; dengan intensitas luar biasa tinggi, dan dengan jumlah korban yang mengerikan. Inilah ‘agama’ peradaban yang sekarang sedang mencapai puncak lucu-lucunya kita puja-puji dan mulia-muliakan.

Tapi, akankah dengan demikian kita harus lebih berpihak pada ‘kekhawatiran para malaikat’ ketimbang pada ‘kepercayaan Allah pada manusia’? Meski sejarah memberi berlimpah fakta betapa kekhawatiran para malaikat bukan tak berdasar, tapi sejarah juga memberi fakta yang tak kalah berlimpah betapa Allah memang punya rencana-Nya sendiri bagi manusia.

Apa yang diidentifikasi sebagai selfish genepada dasarnya adalah produk sejarah yang salah, dan agama yang dibawa para Nabi-Nya selalu membawa penawarnya.

Ya Rasulullah, dalam situasi seperti ini kami seperti mendengar gema permohonanmu “ummati, ummati, ummati…”. Wahai, betapa rindu kami pada keagungan cintamu pada manusia!

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566