Mutiara

Mereka yang Tersingkir

ilustrasi foto KH Abdul Karim (foto : nu.or.id)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Kisah Kiai Abdul Karim menjadikan zikir sebagai tema kebangkitan kembali (revival). Pemuka tarekat paling berpengaruh di Banten, bertahun-tahun jadi mursyid di Singapura. Sang perata jalan pemberontakan petani Banten 1888.

“Setiap malam beratus-ratus orang yang ingin diselamatkan berduyun-duyun ke tempat tinggalnya, untuk belajar zikir dari dia, untuk mencium tangannya, dan untuk menanyakan apakah saatnya sudah hampir tiba, dan untuk berapa lama lagi pemerintah  kafir masih akan berkuasa.”

Ini cerita Snouck Hurgronje tentang Haji Abdul Karim, pemuka tarekat Qadiriah paling berpengaruh di Banten. Tapi murid Syekh Khatib Sambas ini, yang bertahun-tahun menjadi guru tarekat di Singapura sebelum kembali ke kampung halamannya di Tanara (1872), tidak memberikan jawaban pasti. Dia hanya mengisyaratkan, saatnya belum tiba untuk melancarkan perang sabil. Dan, seperti diungkapkan sejarawan Prof.  Sartono Kartodirojo dalam disertasinya The Peasants Revolt of Banten in 1888, janji khidmat Haji Abdul Karim menjelang keberangkatannya ke Mekah ini menghidupkan harapan umatnya bahwa tujuan mereka akhirnya akan tercapai. Dia memang bukan pemimpin pemberontakan petani yang meletus Cilegon ini, tapi dialah sang perata jalan.

Besarnya pengaruh Abdul Karim, alias Kiai Agung, tampak ketika ia melangsungkan pernikahan putrinya. Kiai-kiai terkemuka — termasuk dari Batavia dan Priangan — datang di  pesta yang antara lain diramaikan dua rombongan musik dari Batavia dan berlangsung sepekan itu. Begitu juga ketika dia harus meninggalkan Banten menuju tanah airnya yang kedua, Mekah, setelah diangkat menggantikan Syekh Khatib Sambas, pemimpin tarekat Qadiriah di sana.

Rakyat Banten utara bergerak. Sejumlah besar kiai, para murid, dan penduduk mengungkapkan elu-eluan selamat jalan. Sampai-sampai kemungkinan turunnya rakyat secara lebih besar-besaran ke jalan menimbulkan rasa takut pemerintah kolonial. Maka Residen Banten minta Kiai Abdul Karim mengubah rute perjalanannya. Rencananya singgah di beberapa tempat Distrik Tangerang dibatalkan; diputuskan, ia akan menumpang kapal langsung ke Batavia. Padahal banyak haji dari Tangerang dan Distrik Bogor sudah berangkat ke Karawaci. Selain itu, satu pertemuan besar akan digelar di rumah Raden Kencana, janda Tumenggung Karawaci dan ahli waris perkebunan swasta Kali Pasir, yang selain oleh anggota kerabatnya juga akan dihadiri orang-orang yang dicap pemerintah sebagai “fanatik” dan pembangkang. Semuanya urung. Toh murid dan para pengikut Abdul Karim berduyun-duyun bertolak menggunakan berbagai perahu, untuk menyatakan salam perpisahan dan semoga Kiai kembali. Sang ulama pun berangkatlah — 13 Febuari 1876 — disertai 10 anggota keluarga, enam orang di antaranya menjadi pengawal, dan 30 atau 40 orang yang hanya akan menyertainya sampai Batavia.

Kiai Abdul Karim memang orang kaya. Dan kekayaan itu memungkinkannya menjelajahi berbagai daerah di Banten. Dalam kunjungan-kunjungan itu dia tak henti-hentinya berseru kepada rakyat supaya memperbarui kehidupan agama mereka dengan jalan lebih taat beribadah. Abdul Karim memfokuskan zikir sebagai tema kebangkitan kembali (revival). Maka zikir diselenggarakan di mana-mana, menggelontarkan semangat keagamaan rakyat.

Sebagai tokoh yang punya karisma, ia sudah tentu mendapat pelbagai hadiah kehormatan, sokongan dan aneka sumbangan sukarela. Tapi seperti diungkapkan Sartono Kartodirdjo, yang jauh lebih penting dari hadiah materi adalah rasa hormat dan kecintaan rakyat yang mendalam kepadanya — lebih tinggi dari yang bisa diterima seorang pamogpraja pribumi..

Jihad Cilegon

Jaksa Caringan, Tubagus Anglingkusuma, melaporkan kepada Kapten Veenhuyzen bahwa di sebuah tikungan jalan, katanya, terlihat sekelompok orang yang berpakaian tidak lazim. Kapten memerintahkan seorang serdadu, Neuman, menemui orang-orang itu, sementara rekan-rekannya akan mem-backup-nya dari belakang, termasuk yang bersembunyi di sebuah rumah. Ketika Neuman menyerukan perintah menyerah, orang-orang yang mencurigakan itu menjawab dengan beberapa tembakan. Pihak serdadu melancarkan serangan. Lalu berkobarlah pertempuran yang sengit. Dan berakhir dengan hampir seluruh anggota kelompok tewas. Hanya beberapa berhasil lari.

Pukul 10 pagi, 30 Juli 1888, mayat mereka dibawa ke Cilegon. Jenazah yang berjumlah 11 itu diidentifikasikan sebagai para pemberontak yang sedang dikejar pemerintah. Di antaranya: Haji Wasid, Kiai Haji Tubagus Ismail, Haji Abdul Gani, dan Haji Usman yang melakukan long march ke Banten Selatan. Mereka adalah tokoh-tokoh agama, para pengikut Haji Abdul Karim, dan para pemimpin petani —  kelompok masyarakat yang menderita bukan pertama-tama karena kesulitan ekonomi. Sebab bukankah dalam masa-masa bencana fisik, seperti wabah penyakit ternak, wabah demam, kelaparan, dan meletusnya Gunung Krakatau tidak tercatat adanya kerusuhan sosial yang berarti? 

Akhirnya, seperti diungkapkan Prof Sartono, kita harus mengakui bahwa bukan hanya keburukan-keburukan ekonomis yang bisa melahirkan frustrasi yang tajam. Tetapi juga faktor ketersingkiran (deprivation) akibat kehilangan kedudukan sosial, kehilangan hak-hak politik atau kehilangan warisan kultural. Pelbagai keterangan yang diberikan para pemberontak yang ditawan jelas menunjukkan bahwa para pemimpin gerakan itu sedang berusaha mencari martabat dan harga diri dalam konteks situasi kolonial.

Memang, itu juga berarti martabat dan harga diri rakyat banyak.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda