Tafsir

Buah Doa Bapa Ibrahim

mencari hikmah dari apa yang diberikan Allah melalui Alquran (foto Masjid Pogung Dalangan/unsplash)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

“Tuhan kami, dan bangkitkan di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka, membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah, dan mensucikan mereka. Engkaulah sungguh Yang Mahagagah dan Bijaksana.” (Q.S 2:129)

Doa di atas diucapkan Ibrahim, a.s., dan sendirinya merupakan ayat kedua di dalam kitab Quran yang menunjuk kerasulan Muhammad s.a.w. Kalau ayat pertama (Q.S 2:119) menyinggung misi pengutusan Muhammad, sebagai “pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” (Panji, 21 Juli 1997), ayat ini meletakkan kerasulan itu dalam satu rentang sejarah kemanusiaan—sejarah keagamaan—yang, pada satu titiknya, ditandai oleh kedudukan Ibrahim sebagai poros yang dari dirinya akan lahir, dalam kenyataan sosial dari tinjauan sekuler, tiga buah agama dunia: Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Dari sudut pandang Quran sendiri, identifikasi Muhammad di lidah Ibrahim berarti kedudukan yang kedua itu sebagai pangkal yang pertama, atau kedudukan yang pertama (Muhammad, dan’dengan demikian Islam) sebagai aliran yang di belakang hari merepresentasikan seluruh muatan keibrahiman itu di dalam wujudnya yang baru dan muara yang lebih besar. Itu ditunjukkan oleh sifat doa Ibrahim sendiri:
Dalam satu rangkaian enam ayat ukuran agak panjang, dibuka dengan ayat 124 yang berisi pernyataan Allah mengenai dijadikannya Ibrahim sebagai imam (Panji, 6 April), dan mengenai Baitullah sebagai tempat berhimpun seluruh insan di ayat 125, lalu diselai berita pembangunan Ka’bah oleh Ibrahim dan Isma’il, a.s. (127), doa Ibrahim diucapkan untuk memohon, yang terpenting, keamanan dan kemakmuran negeri tempat Baitullah berdiri (126); kelahiran sebuah umat muslimah dari keturunan mereka (128); tuntunan Tuhan dalam ibadah (manasik) haji (128); dan, terakhir, dibangkitkannya seorang rasul dari keturunan mereka di belakang hari (129). Tidak salah jika permohonan terakhir itu kita pahami sebagai gong penutup doa bapa para nabi ini. Atau, dalam pencirian Ibn Katsir, sebagai “kelengkapan doa Ibrahim untuk penduduk Tanah Haram” (Ibn Katsir, Tafsirul Quranil ‘Azhim, 1:184). Dengan demikian penunjukan kerasulan Muhammad s.a.w. di lidah Ibrahim harus kita katakan tidak sama bobotnya—karena merujuk ke sebuah pangkal, baik dalam hubungan keturunan maupun dalam sejarah keagamaan—dengan yang lewat lidah Isa a.s., yang menyebut nama ‘Ahmad’ (Q.S 61:6), dan merupakan “hanya” sebuah berita gembira.

Shalawatullahi ‘alaihim ajma’in. Betapapun, di situlah kita pahami kalimat Nabi s.a.w., “Akulah doa bapaku Ibrahim dan berita gembira Isa,” dalam riwayat Ahmad (Ibn Katsir, loc. cit.) maupun Ibn Jarir (Thabari, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Quran, 1:556). Tidak berarti tidak akan pernah ada Nabi Muhammad kalau tidak karena doa Ibrahim. Yang benar: doa itu berada dalam “rencana besar Allah” yang di dalamnya juga tercakup kenabian Muhammad s.a.w. Atau, dalam bahasa Abu Fida ibn Katsir, doa tersebut “mencocoki qadr Allah yang telah terdahulu mengenai penentuan Muhammad s.a.w. sebagai rasul di kalangan umat yang buta huruf, untuk mereka dan untuk seluruh…” dan seterusnya. Ini berlandaskan kata-kata Nabi s.a.w. sendiri mengenai diri beliau yang, sejak ketentuan awal, “di sisi Allah, adalah nabi penutup” (Ibn Katsir, loc. cit.)—atau, dalam riwayat Ibn Jarir, “di sisi Allah dalam Induk Al-Kitab” (Thabari, loc. cit).

Itu berarti, menurut Ibn Katsir, yang pertama kali menyerukan sebutan beliau di tengah manusia adalah Ibrahim a.s. Kemudian tak putus-putusnya sebutan itu beredar di antara manusia (para nabi; pen.) keseluruhan, sampai kemudian penutup nabi keturunan Israil melafalkan namanya dengan fasih— dan beliaulah Isa anak Mariam a.s., yang berdiri di kalangan Israil dan bersabda: “Aku inilah rasul Allah kepada kamu, membenarkan Taurat di antara kedua tanganku, dan membawakan berita gembira tentang rasul yang akan datang sesudah aku, Ahmad namanya.” Itulah sebabnya sebagian sahabat, seperti As-Suddi, Qatadah, dan Ar-Rabi’, r.a., mengasumsikan jawaban Allah untuk doa Ibrahim: “Dikabulkan—itu akan terjadi di akhir zaman” (Ibn Katsir, loc. cit.; Thabari, op. cit., 557).

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda