Cakrawala

10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga, Vol. 6

Abu Ubaidah bin Jarrah, salah seorang dari 10 sahabat nabi yang masuk surga
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Saya tidak ingin mematahkan ujung tombak Anda, dan bukan kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan untuk dunia pula kita beramal. Kita semua bersaudara karena Allah. Ini kata Ubaidah kepada Khalid bin Walid, panglima tertinggi yang ia gantikan pada masa Umar bin Khathttab.

Dalam hadis yang diiriwayatkan dari  Abdurrahman bin Auf, disebutkan 10 sahabat Nabi yang digembirakan atau dijamin bakal masuk surga. Mereka adalah  (1) Abu Bakar Ash-Shiddiq, (2)  Umar bin Khaththab. (3) Utsman bin Affan, (4) Ali bin Abi Thalib, (5) Zubair bin Awwam, (6)  Abu Ubaidah  Amir bin Al-Jarrah,  (7) Abdurrahman bin Auf, (8) Sa’ad bin Abi Waqash, (9) Thalhah bin Ubidillah, (10) Sa’id bin Zaid.    Sebagaimana halnya pada figur dan perjuangan Rasulullah s.a.w., kita juga bisa mengambil suri tauladan dari para sahabat yang tergolong generasi pendahulu atau as-sabiquunal awaaluun itu. Tiga tulisan terdahulu memuat masing-masing Abu Bakar Ash-Shiddiq,  Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Zubair bin Awwam.   Tulisan berikut ini tentang Abu Ubaidah bin Jarrah, yang bergelar amin al-ummah, kepercayaan umat, atau al-qawiiyual- amin, kekuatan yang dipercaya.  

Nama lengkapnya Amir bin Abdullah bin Jarrah , tapi lebih terkenal dengan sebutan Abu Ubaidah.  Ia dikenal sebagai sahabat yang bijaksana, selain panglima perang, ahli politik ketatanegaraan, dan ahli hukum. Ia pernah diutus oleh Nabi ke Yaman pada tahun ke-9 H, sebelum Muadz bin Jabal. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ia dikirim untuk menaklukkan Syam, sebagai salah satu  panglima dari empat angkatan perang, dan  menjadi panglima besar dan tertinggi pada masa Umar bin Khattab.  Di sinilah ia mencatat  lembaran-lembaran  perjalanan kehidupannya  yang  agung dan mengagumkan. Yang pertama,  Abu Ubaidah merahasiakan berita wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., ketika terjadi Perang Yarmuk. Kedua, ketika Umar mengangkatnya menjadi panglima tertinggi menggantikan Khalid bin Walid. Ia  bersedia memikul segala tanggung jawab dan dapat memperkirakan apa yang akan terjadi di kalangan pasukan tentara.  Namun demikian, ketika menerima surat perintah itu dari utusan Khalifah, Abu Ubaidah memintanya untuk dirahasiakan., sampai menunggu Panglima Khalid meraih kemenangan. Ketika Khalid mencapai kemenangan, barulah dia menyerahkan surat perintah Amirul Mukminin.  Ketika Khalid bertanya, mengapa ia tidak segera memberitahunya perihal surat perintah tersebut, Abu Ubaidah menjawab, “Saya tidak ingin mematahkan ujung tombak Anda, dan bukan kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan untuk dunia pula kita beramal. Kita semua bersaudara karena Allah.”

Syahdan, Abu Ubaidah baru pulang setelah semalam suntuk bercakap-cakap dengan sahabatnya, Abu Bakar.  Padahal boleh dibilang ia jarang begadang. Dia kadang-kadang saja  datang ke kedai minuman keras,  dan jika tubuhnya telah bergetar oleh bau minuman,  dia segera kembali ke rumahnya dengan merasa gembira. Pada malam itu dia telah lama kelihatan di wajahnya tanda-tanda yang serius, ia mengerutkan keningnya, dia tidak merasakan rasa arak selamanya. Oleh karena itu ia kelihatan teguh dan tangguh langkah perjalanannya, ia berani   berjalan sendirian pulang ke rumahnya.

Pada suatu hari dia memang pernah  mendengar suara samar-samar yang kedengaran di antara sejumlah pemimpin Quraisy yang pada prinsipnya menyatakan bahwa Muhammad  bin Abdullah telah menyatakan dengan suatu pernyataan yang aneh.  Muhammad mengaku dan menyatakan menjadi Nabi yang telah diberi wahyu dan Atiiq bin Abi Quhafah yaitu Abu Bakar telah mempercayai dan membenarkan pengakuannya. Abu Bakar telah beriman bersama sekelompok kaum yang rendah. Abu Ubaidah mendengar berita itu hatinya menjadi terkesan, yang mana dia masuk rumahnya bahkan selanjutnya dia menuju Abu Bakar. Akhirnya setelah berjumpa dengan Abu Bakar dan telah bercakap-cakap, ia minta penjelasan kepadanya. Lalu Abu Bakar berjanji akan menjumpai dia dirumahnya pada malam harinya. Dan begitulah, malam-malam selanjutnya ia selalu menyambangi rumah sahabatnya itu, sampai akhirnya ia menyatakan masuk ke dalam agama yang dibawa Muhammad.

Dikisahkan,  sewaktu mengunjungi  Syam, Khalifah Umar ibn Khattab singgah di sebuah desa bernama Jabiah, karena ia mendapat warta bahwa negeri itu sedang terkena wabah sampar (tha’un) yang sudah menewaskan ribuan orang. Rombongan lalu terbagi menjadi dua pendapat. Sebagian mengatakan, lebih baik kunjungan ke Syam diundurkan, dan rombongan balik ke Madinah. Setengahnya lagi ingin terus.  Maka berkatalah Umar: “Kita kembali. Untuk apa menempuh bahaya.”

“Tetapi, bolehkah kita lari dari takdir Allah?” Ini sanggahan Abu Ubaidah ibn Al-Jarrah. Apa jawab Khalifah?

“Kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah.”

Umar meneruskan: “Misalkan Bapak-bapak punya ternak kambing. Digiring ke dua padang. Yang satu penuh rerumputan, yang lain kering kerontang. Bagaimana pendapat Bapak-bapak? Bukankah, jika kambing-kambing itu digembalakan di padang yang berumput subur, itu juga di bawah kudrat Ilahi?”

“Memang, kedua-duanya di bawah kuasa Allah,” mereka menjawab.

“Tapi di mana  kalian  akan gembalakan?” Umar mencecar.

“Di padang yang berumput subur, tentu saja, Amirul Mukminin.”

“Nah….. Sungguh pun begitu, lebih baiklah kita tunggu Abdurrahman ibn Auf. Siapa tahu dia punya pertimbangan lain.”

Umar tampak belum yakin benar dengan keputusannya. Lantaran itu ia mengizinkan beberapa orang yang, karena yakin kepada takdir pula, berteguh hati meninggalkan rombongan dan meneruskan perjalanan ke Syam.

Dan tibalah Abdurrahman. Sahabat  Nabi yang dikenal sebagai saudagar yang cerdik itu, baru sampai di Jabiah, dari Madinah, pagi esoknya. Ketika Khalifah memberitahu hasil diskusi kemarin, ia tiba-tiba berkata: “Dulu, Amirul Mukminin, saya pernah menerima dari Rasulullah s.a.w. suatu sabda yang berkenaan dengan perkara ini.”

“Allahu Akbar,” Umar berucap. “Nah, silakan disampaikan yang Anda dengar dari beliau itu.”

“Saya dengar Rasulullah s.a.w. bersabda: ‘Apabila kamu mendengar kabar suatu negeri terserang wabah, jangan kamu masuk ke situ. Dan kalau kamu berada di dalamanya, jangan pula kamu keluar dari situ’.” Ini pedoman seperti yang di belakang hari dilaksanakan dalam wujud karantina.

Mendengar petunjuk yang membenarkan ijtihad-nya itu, Umar tidak menyembunyikan kegembiraannya. Adapun nasib Abu Ubaidah, yang berkeras mendahului ke Syam (sekalian mengecek segala sesuatu sehubungan dengan kedatangan Khalifah), Allah yarham: dia wafat terserang pes di sana.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda