Tasawuf

Gerakan Rohani untuk Menghadapi Situasi Genting

KH Nahrowi Dalhar (depan) dan KH Sirodj Payaman (foto : nu.or.id)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Tentang sosok  waliyullah dari Gunungpring Muntilan, guru para kiai  kharismatis dari Lirboyo  dan Banten, saat menghadapi agresi Belanda.

Kiai Haji Nahrowi Dalhar atau yag akrab disapa Mbah Dalhar, bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Dia adalah pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, dan  mursyid tarekat Syadziliyah. Namun, dibandingkan ulama-ulama kondang pada zamannya, nama Kiai Dalhar di kalangan awam hanya  lamat-lamat terdengar.

Namanya mulai disebut-sebut, karena di antara murid-muridnya menjadi  kiai kharismatis dan terkenal.  Di antaranya adalah Gus Miek (KH. Hamim Tohari Djazuli), K.H. Mahrus (Lirboyo), K.H. Abuya Dimyathi (Banten), dan K.H. Marzuki (Giriloyo), Dalam otobiografi KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, nama kiai Dalhar memang disebut bersama sejumlah ulama lainnya dari Magelang, ketika mereka mendoakan para prajurit yang hendak berperang melawan Belanda,

Ia  lahir di  Watucongol, pada, 12 Januari 1870 (10 Syawal 1286 H) dengan nama Nahrowi. Ayahnya Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo adalah seorang ulama. Sedangkan Kakeknya,  Kiai Abdurrauf, yang mendirikan pesantren di Desa Gunung Pring, Muntilan,  pernah membantu pasukan Pangeran Diponegoro  melawan Belanda untuk mempertahankan wilayah Magelang. Pesantren Kiai Abdurrauf ini dilanjutkan oleh Kiai Abdurrahman (ayah Nahrowi Dalhar). Namun letaknya bergeser ke sebelah utara, di tempat yang sekarang dikenal dengan Dukuh Santren. Lokasinya masih berada di desa Gunung Pring.

Ketika sudah dewasa, Nahrowi  meneruskan pesantren ayahnya Kiai Abdurrahman. Hanya saja,  letaknya juga digeser ke arah sebelah barat, yakni  di tempat yang sekarang bernama Watucongol.

Ketika masih anak-anak  ia telah diarahkan oleh ayahnya untuk  mencintai ilmu agama. Mula-mula ia belajar Alquran dan beberapa dasar ilmu agama kepada ayahnya sendiri. Menginjak usia 13 tahun, Dalhar mulai belajar di pesantren. Ia dititipkan oleh sang ayah kepada Mbah Kiai Mad Ushul di Dukuh Bawang, Desa Ngadirejo,  Salaman,  Magelang. Di sini ia belajar ilmu tauhid selama kurang lebih dua tahun. Setelah itu ia belajar di Pondok Pesantren Al-Kahfi, Somalangu, Kebumen. Selama delapan tahun ia diasuh oleh Syaikh As-Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau yang memiliki julukan Syekh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Selama di pesantren ia berkhidmat di rumah pengasuh.

Sekitar tahun 1896  Dalhar diminta gurunya untuk menemani putra tertuanya, yaitu Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani belajar ke Mekah. Di sana mereka  tinggal di asrama Syekh  Muhammad Babashol Al-Hasani di daerah Misfalah. Syeikh  inilah yang kemudian memberi nama “Dalhar” padanya. Hingga akhirnya ia memakai nama Nahrowi Dalhar. Ketika berada di Mekah ia memperoleh ijazah sebagai mursyid tarekat Syadziliyyah dari Syekh Muhtarom Al-Makki dan ijazah Aurad Dalailil Khairat dari Sayid Muhammad Amin Al-Madani. Kedua ijazah ini kemudian hari menjadi bagian amaliah rutin yang memasyhurkan namanya di  Jawa.

Selama di Mekah, ia pernah melakukan khalwat selama tiga tahun di suatu goa yang teramat sempit. Selama itu ia melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan tiga buah biji kurma serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Ia juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk medoakan para keturunannya dan para santrinya.

Selain mengamalkan dzikir jahr ala tarekat Syadziliyyah, ia juga senang melakukan dzikir sirr. Ketika sudah tenggelam (tagharruq) dengan dzikir sirr-nya ini, ia bisa tiga hari tiga malam tak dapat diganggu oleh siapa pun. Dalam hal tarekat Syadziliyyah, menurut putranya K.H. Ahmad Abdul Haq, Kiai Nahrowi Dalhar ia menurunkan ijazah kemursyidan hanya kepada tiga orang, yaitu Kiai Iskandar Salatiga, K.H. Dimyathi Banten (pengasuh Pesntren Cidahu, Pandeglang) dan putranya sendiri, K.H. Ahmad Abdul Haq. Meninggalkan tidur malam adalah bagian dari riyadhah-nya. Sampai sekarang, meninggalkan tidur malam ini menjadi bagian kebiasaan yang berlaku bagi santri  di Watucongol.

Sebagai seorang wali, ia diyakini punya  banyak karomah. Dua keistimewaan yang dimilikinya antara lain, saat memberikan pengajian, suaranya dapat didengar sampai jarak sekitar 300 meter, walau tidak menggunakan pengeras suara, dan mengetahui makam–makam dan tempat tinggal para aulia  yang sempat dilupakan oleh para ahli dan santri atau masyarakat.

Mungkin karena karomah yang dimilikinya itu, Kiai Dalhar sangat dinanti-nanti kedatangannya dalam pertemuan ulama se-Magelang pada 21 November 1945. Seperti diceritakan KH Saifuddin Zuhri, pertemuan itu berlangsung pada sekitar  pukul 03.00 dini hari Ulama yang dipanggil sedianya hanya 70 orang, namun yang hadir melebih ekspektasi yaitu 200 orang ulama dalam pertemuan riyadhoh ruhaniyah itu. Para ulama menilai, gerakan batin atau gerakan rohani ini untuk menyikapi situasi genting yang terjadi di dalam Kota Magelang dan sekitarnya, terutama sepanjang garis Magelang-Ambarawa-Semarang. Ketika ratusan ulama sudah berkumpul, sebagian besar yang hadir mulai harap-harap cemas  menanti kedatangan sejumlah ulama khos yang belum hadir. Di antaranya KH Dalhar (Pengasuh Pesantren Watucongol), KH Siroj Payaman, KH R. Tanoboyo, dan KH Mandhur Temanggung. Mereka adalah ulama “empat besar” untuk Magelang dan sekitarnya yang akan memimpin riyadhoh ruhaniyah tersebut

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Letkol M. Sarbini dan Letkol A. Yani dan satu regu pengawal siap tempur itu, para ulama dan rakyat dipimpin ulama “empat besar” itu membaca aurod yang sudah terkenal di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah antara lain, Dalail Khairot, Hizib Nashar li Abil Hasan Asy-Syadzili, Hizib al-Barri, dan Hizib al-Bahri.

Adapun KH Dalhar Watucongol,  menurut Saifuddin Zuhri, yang saat itu telah menginjak usia 75 tahun memunajatkan doa khusus. Kiai Dalhar memang dikenal sebagai ulama yang paling ‘alim di antara hadirin yang datang. Ulama yang amat rendah hati, tenang, dan tawadhu tersebut memanjatkan doa agar rakyat Indonesia diberi kesanggupan dalam berjuang mengenyahkan penjajah, khususnya Inggris yang bercokol di Magelang. Berikut terjemahan munajat Kiai Dalhar Watucongol: “Ya Allah, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan untuk mengalahkan musuh-musuh kami, dan untuk keselamatan jiwa raga kami mohon pertolongan-Mu. Atas keunggulan kelebihan-Mu, ya Allah kami menyerahkan nasib baik kami, sebab itu tidak berserah diri kepada yang bukan Engkau ya Tuhan kami. Kami berdiri di depan pintu Rahmat-Mu, maka janganlah Engkau mengusir kami. Hanya kepada-Mulah kami mengajukan permohonan, maka janganlah Engkau gagalkan permohonan ini……. “

K.H. Nahrowi Dalhar  wafat di desa kelahirannya pada 8 April 1959

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda