Mutiara

Merasa Ditimpa Bala Ketika Dipilih Jadi Penguasa

Written by A.Suryana Sudrajat

Siapa mengira Umar ibn Abdil Aziz, khalifah yang terkenal adil itu, pernah menjadi penguasa yang kejam. Tapi itulah yang justru mengubah jalan hidupnya ketika menjadi khalifah. Bagaimana dia menghadapi para pembangkang?

Di  musim dingin yang hebat tahun 93 H, Gubernur Madinah Umar  ibn Abdil Aziz mendapat perintah dari Khalifah Walid ibn Abdil Malik untuk menghukum Hubaib ibn Abdillah ibn Az-Zubair dengan 50 cambukan. Setelah itu di kepala Hubaib diletakkan sekantung air dingin, sementara ia harus berdiri seharian di depan pintu masjid. Siksaan di tengah udara menggigil itu berakibat fatal. Hubaib tewas.

Umar bukan main menyesal: ia sudah ikut berbuat dan mempertontonkan kekejaman di muka umum. Ia memang hanya melaksanakan instruksi. Tapi itu tidak bisa menutup rasa bersalahnya. Maka Pak Gubernur pun meletakkan jabatan – yang baru dipegangnya dua tahun. Fenomena meletakkan jabatan karena merasa bersalah sekarang lazim di negara-negara maju dan beradab, dan sayangnya belum jadi tradisi di negeri ini. Kalau perlu apa pun dipertaruhkan, apalagi kalau cuma rasa malu.

Beberapa tahun kemudian, Umar malah diangkat menjadi khalifah – berdasarkan wasiat rahasia Khalifah Sulaiman ibn Abdil Malik. Yang menarik pada pidato perdananya, Umar merasa perlu mengecek aspirasi masyarakat. “Saudara-saudara,” katanya. “Sungguh saya sudah ditimpa bala dengan kedudukan ini, yang saya peroleh tanpa musyawarah dulu dengan saya. Tidak pernah pula saya minta, atau dirundingkan dengan kaum Muslim. Maka itu, saya lepaskan sajalah baiat kepada saya yang telah melilit leher kalian. Sekarang pilihlah, untuk kalian dan urusan kalian, siapa saja yang kalian mau.”

Tiba-tiba hampir semua orang berseru: “Kami memilih Anda, untuk kami dan urusan kami. Kami semua rela.”

Sesungguhnya,” demikian Umar menyambung, ‘umat tidak pernah bertengkar tentang Tuhan mereka, kitab mereka, nabi mereka. Tapi kalau soal dinar dan dirham (uang; pen), mereka bertengkar. Demi Allah,” demikian akhirnya sang khalifah berkata, “saya tidak akan memberi seseorang secara batil, maupun menahan hak orang… Barang siapa taat kepada Allah, dia wajib ditaati. Dan sebaliknya. Jadi taatlah kepadaku sepanjang aku taat kepada Allah. Jika saya bermaksiat kepada-Nya, kalian tidak wajib taat kepadaku.”

Lalu langkah pertama sang khalifah baru: ia mengaudit harta pribadi dan harta keluarganya. Dan mengembalikan ke kas negara seluruh harta warisan yang diragukan perolehannya. Lalu gebrakan ia tujukan ke luar: siapa saja yang punya keluhan terhadap anggota keluarga yang sedang berkuasa, atau terhadap para amirnya (penguasa lokal; pen),  dipersilakan mengadu. Siapa yang punya bukti tentang hartanya yang dirampas, akan mendapat ganti. Kebijakan (beleid) ini tentu saja meresahkan keluarga-keluarga dinasti Umaiyah. Tapi Umar jalan terus.

Ia stop praktek-praktek pemberian hadiah yang mahal. Ia hentikan honor para pengarang pidato yang memuji-muji keluarga kerajaan. Mudah diduga, uang hadiah dan honorarium itu diambil dari kas negara.

Umar sendiri  tidak mau menerima pemberian dari siapa pun. Suatu hari seseorang menghadiahkan sekeranjang buah apel kepadanya. Khalifah menghargai pemberian itu, tetapi menolak menerimanya. Orang itu lalu memberikan contoh Nabi yang mau menerima hadiah. Tapi kata Khalifah: “Tidak disangsikan lagi, hadiah itu memang untuk Nabi. Tapi kalau diberikan kepadaku, itu penyuapan.”

Yang menarik, Umar tidak selalu menggunakan kekerasan dalam menghadapi gerakan makar (bughat), misalnya kaum khawarij. Ia pernah berkirim surat kepada pemimpin sempalan itu.”Saya dengar, Saudara memberontak demi membela Allah dan Rasul-Nya. Dalam soal ini Anda tidak lebih utama dari saya. Karena itu datanglah. Kita berdiskusi. Kalau kebenaran di pihak kami, saudara mesti taat kepada kami sebagaimana yang laninya. Jika sebaliknya, kami akan memperhatikan yang Saudara katakan.”

Kepala pemberontak lalu mengutus dua stafnya. Mereka pun berdebat seru. Dalam banyak hal Khalifah menang – kecuali setelah mereka menyebut pengangkatan Yazid ibn Abdil Malik, orang yang tidak dipercaya kelurusannya, sebagai kandidat suksesor Umar. Baru setelah forum bubar, Khalifah berkata: “Persoalan Yazid ini memang sudah menghabisiku. . Aku tadi tidak bisa berkutik. Semoga Allah mengampuniku.” Padahal bukan Umar yang menunjuk Yazid.

Lalu hari yang dicemaskan khalayak pun tiba. Kelurga keraajaan yang banyak dirugikan oleh kebijakan Umar menyogok budak Khalifah agar meracuni tuannya. Ketika Umar merasa racun itu mulai bekerja, sang budak dipanggil. Ia mengaku disuap 1.000 dinar. Toh Umar membebaskannya.Luar biasa. Bahkan menyuruhnya buru-buru menyingkir, karena akan ada saja orang yang membunuhnya nanti. Ia wafat pada tahun 719 M, dalam usia baru 36. Ia hanya memerintah dua setengah tahun. 

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda