Tasawuf

Persahabatan yang Tulus

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Dalam jiwa yang waras memang selalu muncul kegilaan-kegilaan yang menyenangkan. Kisah  Uwais Al-Qarni yang mendapat salam khusus dari Rasulullah.

Lektur-lektur tasawuf menyebutnya orang eksentrik pertama. Dialah Uwais Al-Qarni yang memperoleh salam khusus dari Rasulullah s.a.w. yang  secara khusus pula disampaikan oleh Umar ibn Khattab. Uwais memang tidak menjalani hidup sebagaimana  umumnya orang-orang. Ia tinggal di sebuah tanah kosong. Orang-orang  di kampungnya  di Qarn mengenalinya  sebagai laki-laki yang bingung. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang mempedulikan.

Di satu musim haji di Mina, Umar ibn Khattab berseru dari atas podium, menanyakan apakah di antara jamaah ada yang berasal dari Qarn. Sekelompok orang pun menjawab, “Kami di sini, Amirul Mukminin.” Umar pun bertanya apakah di antara mereka ada yang bernama Uwais. Seorang kakek menjawab “Tidak ada”, kecuali yang dimaksudkan  adalah seorang laki-laki yang bingung di padang pasir tadi.

“Itu dia,” ujar Umar. “Kalau kalian pulang ke Qarn cari dia. Jangan lupa sampaikan salamku. Katakan padanya, Rasulullah menggembirakanku dengan dirinya, dan menyuruhku menyampaikan salam atas nama beliau.”

Pesan itu kemudian disampaikan kepada Uwais yang menemui mereka di padang pasir. Tak urung pula mereka menyatakan heran, Rasulullah dan Umar mengenal dia. “Amirul Mukminin kenal aku,” jawab Uwais. “Salam juga buat Rasulullah s.a.w. dan keluarga beliau.” Setelah itu Uwais benar-benar bingung, lalu raib entah ke mana.

Versi lain menyebutkan, Uwais menghadap Umar setelah menerima salam dan surat dari khalifah kedua itu.

“Benar, Anda Uwais?” tanya umar.

 “Tidak salah lagi, Amirul Mukminin.”

‘Benarlah Allah dan Rasul-Nya. Apakah engkau punya cahaya, lalu berdoa kepada Allah, dan cahaya itu dihilangkan darimu, kemudian engkau berdoa lagi, dan Allah mengembalikan sebagiannya kepadamu.”

“Benar. Tetapi siapa yang memberi tahu Anda? “ tanya Uwais. “Sungguh tidak ada yang tahu kecuali Allah.”

Rasulullah yang beri tahu aku. Beliau menyuruhku agar kau mendoakanku. Kata  beliau, ‘Dengan syafaat seorang umatku, akan masuk surga  orang yang lebih banyak ketimbang Bani Rabi’ah dan Bani Mudhar. ’  Kemudian beliau menyebut nama Saudara.”

Uwais pun mendoakan Umar, seraya berkata, “Aku mohon Amirul Mukminin merahasiakan semua ini. Sekarang, izinkan saya pergi.’

Banyak yang kemudian mencari Uwais. Tapi ia bak ditelan bumi. Di antara orang yang giat mencari-cari dia adalah Haram ibn Hayyan. Suatu ketika ia memang pernah ke Kufah, tanpa maksud  apa pun kecuali mencari Uwais Qarni. Setelah bertanya ke sana ke mari, menjelejahi setiap penjuru angin, akhirnya ketemu juga itu makhluk. Sedang duduk di tepi Sungai Eufrat, membasuh kedua tangan dan kakinya. Tampangnya sungguh berantakan:  kain wol butut, janggut panjang, wajah muram, tatapan kosong, dan kulit gosong.

Uwais membalas salam Hram, dan mengatakan: “Semoga Allah menyukseskanmu , melebihi dari yang lain.”

“Semoga Allah menyukseskanmu juga. Bagaimana keadaanmu, Uwais?” tanya Haram. “Semoga Allah mengasihimu.”

Haram, sebagaimana dikisahkan dalam kitab ;Uqala al-Majanin, bukan main sedih. Ia menangis. Juga Uwais.

“Semoga Allah mengasihmu, Haram ibn Hayyan,” ujar Uwais. “Bagaimana keadaanmu, saudaraku?” Siapa yang menunjukanmu kepadaku?”

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

“Tidak ada Tuhan selain Allah. Subhanallah. Sesungguhnya janji Tuhan itu pasti.”

Haram heran bagaimana Uwais tahu namanya, nama ayahnya. Melihatpun belum pernah, apalagi bertemu.

Berkata Uwais, ”Tuhan yang Mahatahu dan Mahabijaksana menceritakan kepadaku. Jiwaku mengenal jiwamu saat aku bersama denganmu…Sesungguhnya orang mukmin akan mengenal satu sama lain dan saling mengasihi. Ya sekalipun mereka belum pernah saling bertemu, saling mengenal, atau saling berbicara.”

Banyak hal yang mereka perbincangkan. Di ujung pertemuan, Uwais mengatakan:

“Wahai Haram ibn Hayyan, aku titipkan engkau kepada Tuhan. Damai dan sejahtera bagimu. Setelah ini, aku tidak bakal melihatmu lagi, sebab aku tidak suka kemasyhuran. Aku memang lebih suka menyendiri. Tidak perlu mencariku lagi, saudaraku. Percayalah, kamu selalu di hati saya. Ingatlah aku dan doakan. Aku juga akan selalu mengingat dan mendoakan kamu. Insya Allah.”

Haram hanya bisa terkesima menyaksikan kepergian Uwais. Sesudah peristiwa itu, ia tidak bertemu lagi, meski berulangkali mencarinya.

Uwais Qarni yang lama tidak terdengar kabar beritanya itu, akhirnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali ibn Thalib. Bahkan ia ikut bertempur pada  Perang Shiffin, perang sipil kedua setelah Rasulullah mangkat, yang menghadapkan pasukan Ali ibn Thalib dan Mu’awiyah ibn Abi Suftan. Dan Uwais gugur di hadapan khalifah yang juga menantu Nabi itu. Empat puluh luka bersarang di tubuhnya akibat pukulan, tebasan pedang, dan hantaman anak panah.

Dalam jiwa yang waras memang selalu muncul kegilaan-kegilaan yag menyenangkan. Dan Uwais Al-Qarni menikmati itu. Tampaknya.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda