Cakrawala

10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga, Vol. 3

Ilustrasi foto Utsman bin Affan dalam serial TV
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Dalam hadis  yang diriwayatkan dari  Abdurrahman bin Auf, disebutkan 10 sahabat Nabi yang digembirakan atau dijamin bakal masuk surga. Mereka adalah  (1) Abu Bakar Ash-Shiddiq, (2)  Umar bin Khaththab. (3) Utsman bin Affan, (4) Ali bin Abi Thalib, (5) Zubair bin Awwam, (6)  Abu Ubaidah  Amir bin Al-Jarrah,  (7) Abdurrahman bin Auf, (8) Sa’ad bin Abi Waqash, (9) Thalhah bin Ubidillah, (10) Sa’id bin Zaid.     Sebagaimana halnya pada figur dan perjuangan Rasulullah s.a.w., kita juga bisa mengambil suri tauladan dari para sahabat yang tergolong generasi pendahulu atau as-sabiquunal awaaluun itu. Dua tulisan terdahulu memuat masing-masing Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab,  tulisan berikut ini tentang Utsman bin Affan, yang juga menantu Nabi.

Menjelang Perang Badar tahun ke-2 Hijrah, kaum Muslimin keluar dari Madinah bukan untuk berperang, tapi hanya untuk menghadang kafilah Abu Sufyan  yang baru pulang dari Syam. Ustman bin Affan tidak bisa serta karena harus menunggu istrinya, Ruqayah, yang sedang sakit. Dan untuk itu, ia minta izin kepada Rasulullah untuk menemani dan merawat putri Nabi itu. Tetapi perang antara kaum muslimin dan orang-orang Quraisy Mekah rupanya tidak bisa dihindari, dengan kemenangan di pihak kaum muslimin. Tak lama setelah peristiwa Badar itu, Ruqayah meninggal dunia. Kematian Ruqayah rupanya meninggalkan duka yang teramat dalam pada Ustman. Dengan perasaan sedih disertai air mata ia menumpahkan perasaannya kepada Nabi. “Sungguh saya khawatir sekali kalau hubungan mertuaku putus darimu, ya Rasulullah,” kata Utsman.

Nabi pun  menghibur dan mencoba menenteramkan hatinya. Berkata Rasulullah, “Sesungguhnya aku telah diperintahkan untuk mengawinkan kamu dengan adiknya, yaitu Ummu Kultsum. Andaikata putriku ada 10 tentu akan aku laksanakan seperti itu.”

Setelah Ustman menikah dengan Ummi Kultsum, ia pun digelari “Dzun Nuraini” alias pemilik “dua cahaya” karena dia satu-satunya sahabat yang menikah dengan dua putri Rasulullah.

Utsman bin Affan lahir di Thaif, pinggiran kota Mekah, di lingkungan taman dan perkebunan yang digambarkan sebagai surganya Hijaz. Ia berasal dari kelarga aristokrat yang kaya raya, bahkan paling kaya di Hijaz, yaitu kawasan yang meliputi Mekah dan Madinah. Utsman juga sukses sebagai saudagar hingga ia memiliki beberapa kafilah dagang,  Yang mengajaknya masuk Islam adalah  Abu Bakar, sahabatnya, yang juga pedagang dan sama-sama tidak mencemplungkan diri dalam kehidupan pesta pora para pembesar Quraisy.

Dikisahkan, suatu hari Rasulullah tiduran sambil leyeh-leyeh di rumahnya, sementara kain sarungnya sedikit tersingkap. Datanglah Abu Bakar dan Nabi pun mengizinkannya masuk, tanpa mengubah posisi. Setelah itu giliran Umar yang menghadap, dan Rasulullah tetap seperti semula. Santai tiduran dengan kain sarung yang sedikit tersingkap itu. Selanjutnya Utsman yang minta izin untuk ketemu. Lalu Rasulullah pun memperbaiki posisinya, menutupi sarungnya, dan duduk dengan tegak, menyambut kedatangan mantunya itu.

Umumul Mukminin Aisyah yang merasa ganjil dengan sikap Rasulullah terhadap sikap sahabat-sahabatnya itu, bertanya mengapa Rasulullah bersikap demikian kepada Utsman.“Bagaimana saya tidak malu kepada manusia, yang para malaikat pun juga malu,” jawab Rasulullah. Yang dimaksudkan tentu saja Utman bin Affan r.a. yang memang dikenal paling menonjol rasa malunya.

Tahun 644 Utman bin Affah terpipil menjadi khalifah, menggantkan Umar bin Khaththab yang mati terbunuh di tangan seorang budak Persia. Ia dipilih oleh satu tim formatur beranggotakan enam orang yang dibentuk oleh Umar ibn Khaththab di hari-hari terakhir hidupnya. Ada kandidat lain yang lebih kuat sebenarnya yaitu Ali. Utsman terpilih karena dia menyatakan komitmennya untuk melanjutkan kebijaksanaan dua khalifah terdahulu. Sedangkan Ali tidak. Dia dilantik tiga hari sesudah Umar mangkat.

Utsman yang berjasa dalam menyeragamkan naskah Al-Qur’an dikenal sebagai sahabat Nabi yang dermawan. Tidak terhitung jumlah harta yang dibelanjakannya untuk kepentingan kaum muslimin. Pembebasan tanah untuk perluasan Masjid Nabi di Madinah berasal dari kocek saudagar kaya itu. Dalam salah satu pidatonya ia mengatakan:

“Ketika kekhalifahan dipercayakan kepadaku, aku adalah pemilik unta dan kambing paling banyak di negeri ini. Sekarang aku tidak punya kambing lagi. Ada dua ekor unta untuk pergi berhaji. Demi Allah, tidak ada kota yang aku kenai pajak di luar kemampuan penduduknya, sehingga aku dapat disalahkan. Apa pun yang aku ambil dari rakyat, aku gunakan untuk kemaslahatan  mereka. Hanya seperlima bagian aku ambil (dari Baitul Mal) untuk keperluan pribadi. Namun uang itu akan aku belanjakan untuk orang-orang yang berhak menerimanya, dan bukan untukku sendiri. Tidak satu keping uang masyarakat pun yang aku selewengkan. Yang aku makan pun berasal dari sumber penghasilanku sendiri.”

Sampai sekarang harta Utsman yang diwakafkan untuk kaum muslimin masih bertahan, yaitu sumur Arumah dan sebuah kebun kurma di Madinah.

Enam tahun pertama, masa kekhalifahannya berlangsung stabil. Sayang kemakmuran yang muncul tidak diikuti usaha pemerataaan, sehingga “pendekar persamaan dan keadilan” seperti Abu Dzarr semakin vokal dan ikut memanaskan situasi. Keadaan semakin runcing menyusul penggantian besar-besaran aparat pemerintah, dengan para pejabat baru yang sebagian kerabat Khalifah.  Benar, untuk menepis kesan nepotisme, Utsman mencopot beberapa gubernur dari marganya, Bani Umaiyah. Padahal di antara yang dicopot itu terdapat administrator yang andal. Tapi itu belum cukup.

Berbagai unsur ketidakpuasaan itu menyatu dalam gelombongan protes yang terus membesar. Mereka mengepung Kota Madinah. Ketegangan memuncak: penduduk Kota yang bertekad mempertahankan Khalifah mereka sampai darah penghabisan dilarang Utsman karena dia tidak menginginkan timbulnya pertumpahan darah. Ali memang tidak mengindahkannya: ia menempatkan dua putranya untuk mengawal rumah Khalifah.

Para pemberontak akhirnya menarik diri setelah Utsman memenuhi salah satu tuntutan mereka: mengangkat Muhammad ibn Abi Bakr Ash-Shiddiq sebagai gubernur Mesir. Tapi beberapa hari kemudian, para pemberontak kembali mengepung kota. Mereka mengaku menemukan sepucuk surat rahasia Khalifah kepada gubernur Mesir. Isinya: perintah agar gubernur memenggal kepala Muhammad ibn Abi Bakr setibanya di sana. Para pemberontak tidak bisa menunjukkan siapa kurir pembawa surat itu. Mereka menerima pernyataan Khalifah, tapi kini menuduh Marwan, sang sekretaris sebagai yang bertanggung jawab, dan menuntut agar Marwan diserahkan. Khalifah menolak. Tidak ada bukti.

Di hadapan para pemberontak  yang mendesak agar Marwan diserahkan, Khalifah menyatakan, “Adapun perkara maut, aku tidak takut. Kematian bagiku sepele. Bertempur? Ribuan orang akan datang mendampingiku melawan kalian, kalau aku menginginkannya. Tapi tidak, Saudara-saudara. Saya tidak mau menjadi penyebab tertumpahnya darah kaum muslimin. Walau setetes.”

Darah memang tidak menjadi tumpah, waktu itu. Tapi krisis berlanjut, bahkan mencapai puncaknya pada 17 Juni 659 Masehi. Menjelang pagi, para pemberontak menyerbu rumah Khalifah. Mereka memanjat dinding bagian belakang, tidak melalui pintu gerbang yang dijaga oleh putra-putra Ali ibn Abi Thalib atas permintaan ayah mereka. Khalifah berusia 82 tahun itu tewas ditikam sewaktu mengaji. Darahnya berceceran di antara lembaran mushaf yang baru saja selesai ditulis dalam ejaan baru. Jari manis istrinya terpotong saat membela sang suami. Waktu itu  Madinah relatif sepi: sebagian penduduknya berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

Tragedi itu berawal dari ketidakpuasan sebagian penduduk (khususnya di luar Hijaz, wilayah yang antara lain meliputi Mekah dan Madinah) terhadap  beberapa kebijaksanaan Khalifah, sebagian lantaran nasihat-nasihat yang menyesatkan dari Marwan, sekretarisnya tadi, ditambah hasutan Ibn Saba (Yahudi Yaman yang masuk Islam di masa Umar) dan pengikutnya.

Sejarah kemudian mencatat: pertumpahan darah yang dikhawatirkan itu menemui kenyataan. Malahan kematiannya tidak cukup menghalangi massa dari penumpahan darah  sesama. Sebab sesudah itu terjadi berbagai kemelut politik yang menyeret perang saudara. Ali, yang mereka angkat sebagai pengganti, menghadap Aisyah yang mengangkat senjata. Mu’awiah muncul pula sebagai khalifah tandingan, dan Ali gugur di tangan para mantan pengikutnya sendiri,  kaum Khawarij. Disusul putranya, Husain, yang bersama keluarga dan pengikut dibantai di Karbala oleh pasukan gubernur Umaiyah di Irak, Abdullah ibn Ziad. Kemudian perang Umaiyah melawan Ibn Zubair dari kubu keluarga Aisyah, terakhir di Masjidil Haram, yang antara lain merusakkan Ka’bah.

Orang menyebut kematian Utsman dan seterusnya sebagai malapetaka terbesar (al-fitnatul kubra) dalam sejarah Islam.

Sumber: Muhammad Ali Al-Quthub, Sepulu Sahabat Dijamin Ahli Syurga;  Taha Hussein, Al-Fitnatul -Kubra; M.A. Shaban, Islamic History, A New Interpretation Vol. I (1976)

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda