Aktualita

Stop Pembelahan Bangsa

Pemungutan suara pada Pemilu 2019 (foto : Indah Chairunnisa)
Ditulis oleh B.Wiwoho

Pemilu 17 April 2019 telah menghadirkan banyak peristiwa yang perlu dicermati secara seksama, terutama potensi-potensi negatif agar kita dengan cepat bisa membuat antisipasi untuk mengatasinya.

Islam telah mengajarkan kepada umat manusia agar mengambil i’tibar atau pelajaran dan hikmah atas setiap peristiwa dan kejadian, baik yang dialami sendiri maupun dialami orang dan makhluk lain. Perintah itu banyak dituangkan di dalam Alqur’an, termasuk bagaimana mempelajari alam semesta, sejarah dan kisah-kisah di dalamnya.

Semua manusia mengalami berbagai peristiwa dan melihat banyak kejadian, namun tak banyak yang bisa mengambil pelajaran apalagi hikmahnya. Ada juga yang tidak peduli sama sekali bahkan mencemooh apabila diajak mengambil i”tibar. Padahal cukup banyak Firman Tuhan yang mengingatkan. Sebagai contoh surat Al Imran ayat 13:
“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati” Contoh lain lagi ditunjukkan surat Ar Ruum 41: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Tentang kejadian alam, Allah Swt menyatakan dalam surat An Nuur 44: “Allah mempergantikan malam dan siang, sesungguhnya pada yang demikian menjadi pelajaran bagi orang yang mempunyai pikiran.”
Dari Pemilu 2019, hal apa saja yang patut kita cermati, diantisipasi dan diambil hikmahnya? Karena hikmah baru bisa kita rasakan jika kita dengan besar jiwa merenungkan dan kemudian menyikapinya secara positif, maka penulis akan terlebih dulu mengenalkan beberapa kejadian yang perlu dicermati, yang bisa kita temukan baik secara langsung di lapangan maupun dari berbagai rekam jejak media masa termasuk media sosial. Agar tidak menjurus kepada pemihakan apalagi penghakiman kepada salah satu pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden yang masih sedang bertarung, maka penulis hanya akan mengungkapkan permasalahan dasarnya.

Yang paling memprihatinkan adalah data-data formulir C-1 tentang Pilpres yang mengindikasikan di daerah-daerah pemukiman dengan mayoritas Suku-Agama-Ras dan Antargolongan(SARA) tertentu, mayoritas atau secara mutlak memilih Capres tertentu. Demikian pula propinsi dengan suku tertentu atau mayoritas agama tertentu memilih Capres tertentu.
Fakta tersebut sangat memprihatinkan mengingat tidak hanya terjadi di satu dua komunitas pemukiman dan di satu dua propinsi, melainkan di sejumlah pemukiman dan propinsi, yang apabila tidak cepat diantisipasi dan distop, niscaya bisa membuat bangsa dan negara ini terbelah. Sebaliknya bila kita dengan segera mengatasi maka data-data Pilpres tersebut akan memberikan hikmah besar.
Untuk itu marilah kita bersama-sama mencermati lebih lanjut dengan kepala dingin, seraya mengingat ketetapan Allah yang telah menciptakan umatnya dengan beraneka suku bangsa dan budaya, sebagaimana surat Al Hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Hal lain yang juga tak kalah menarik adalah beberapa indikasi yang menunjukkan adanya embrio ataupun bibit-bibit gerakan rakyat, yang ditunjukkan oleh keikutsertaan masyarakat dalam kampanye-kampanye dengan mengeluarkan biaya pribadi masing-masing, bahkan dengan rela berbagai kepada peserta kampanye yang lain.

Gerakan Rakyat tanpa kekerasan, sangat terkenal ke seantero dunia tatkala tumbuh dan kemudian menggulingkan Presiden Philipina Ferdinand Marcos tahun 1986. Ciri-ciri kebangkitan gerakan rakyat selanjutnya yang dikenal sebagai Populisme, dikemukakan oleh Dr.Christa Deiwiks dari International Conflict Research, Zurich tahun 2009.
Momentum di suatu negara dan pemerintahan yang bisa memicu bangkitnya gerakan Populisme, menurut dia ada tiga. Pertama, situasi krisis sosial dan ekonomi termasuk penguasaan ekonomi oleh asing. Kedua, kritik tajam terhadap demokrasi dan para elite, terutama jika dinilai cenderung menjadi alat politik oligarki dan melahirkan komprador yang anti rakyat serta mengutamakan kepentingannya sendiri. Ketiga, kesenjangan ekonomi.

Semoga kita bisa mengambil i’tibar serta hikmah dari Pemilu yang sekarang masih dalam proses, sehingga bangsa Indonesia bisa kokoh bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang aman, tenteram, adil makmur, sejahtera dan jaya sentosa. Amin.

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda