Cakrawala

Sosok Pejuang Kaum Perempuan yang Terlupakan

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Rahmah el-Yunusiah bukan hanya punya cita-cita dan gagasan untuk memajukan kaum perempuan, tetapi  sekaligus mewujudkan cita-cita luhurnya itu secara nyata. Dia  perempuan pertama yang mendapat gelar syaikhah (guru besar) dari Universitas Al-Azhar  Kairo, Mesir

Rahmah el-Yunusiah punya  peran besar dalam pembaruan pendidikan untuk  kaum perempuan. Meskipun tidak dinobatkan sebagai  pahlawan nasional, jarang jadi pembicaraan apalagi dikenang sepanjang zaman seperti Raden Ajeng Kartini,  ia menorehkan sejarah hidupnya dengan tinta emas. Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang tetap eksis hingga hari ini merupakan salah satu bukti perjuangannya. Bahkan ia adalah perempuan pertama yang mendapat gelar syaikhah (guru besar) dari Universitas Al-Azhar  Kairo, Mesir

Lahir di Padang Panjang,  29 Desember 1900, Rahmah berasal dari lingkungan kelurga muslim yang taat. Ayahnya, Muhammad Yunus bin Imanuddin, adalah ulama terpadang di daerahnya. pada zamannya. Selain belajar baca Quran sejak usia dini, Rahmah belajar baca-tulis  huruf latin dari kakak-kakanya,  Zainuddin Labay dan Muhammad Rasyad. Selain itu, ia juga menambah pengetahuan agamanya melalui  pengajian-pengajian dari surau ke surau.

Penddidikannya formalnya ditempuh di  Diniyah School yang didirikan kakaknya pada 1915). Di sinilah ia bertemu dan berteman dengan Rasuna Said. Dan bersama Rasuna pula ia menambah pengetahuan agamanya dengan belajar di di Surau Jembatan Besi. Tapi rupanya ia belum puas. Akhirnya Rahmah meminta kepada Syeikh  Abdul Karim Amrullah, ayah Hamka,  untuk berkenan mengajarinya berbagai disiplin ilmu agama secara privat di rumahnya di Gatangan. Bersama Syekh Abdul Karim atau Haji Rasul, ia memperdalam pengajian mengenai masalah agama dan wanita, di samping itu juga ia mempelajari bahasa Arab, fikih dan ushul fikih. Selain itu, Rahmah juga belajar dari ulama Minang lainnya seperti, Tuanku Muda Abdul Hamid Hakim (pemimpin Sumatera  Thawalib Padang Panjang), Syekh  Muhammad Jamil Jambek, Syekh  Abdul Latif Rasjidi, dan Syekh  Daud Rasjidi.

Pengalamannya kepada para ulama terkemuka, telah memberi inspirasi kepadanya dalam  mencerdaskan kaum perempuan.  Masyarakat Melayu, seperti umumnya masyarakat Indonesia, tidak memandang penting bahwa perempuan itu perlu bersekolah tinggi.Padahal, menurutnya,  perempuan mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Perempuan adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak yang akan menjadi generasi  penerus bangsa. Oleh karena itu, salah satu cara untuk memperbaiki nasib serta mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan adalah melalui pendidikan yang bercorak modern dan berdasarkan prinsip-prinsip agama Islam.  Keinginan mendirikan sekolah itu ia ceritakan kepada kakaknya,  Labay. Kemudian Rahmah merundingkannya dengan teman-teman perempuan di Persatuan Murid-Murid Diniyah School (PMDS) yang ia pimpin, mereka pun menyetujui dan mendukung gagasan itu. Maka pada 1 November 1923, sekolah itu dibuka dengan nama Madrasah Diniyah lil-Banat (dikenal dengan nama Madrasah Diniyah Puteri), dipimpin oleh Rangkayo Rahmah el-Yunusiyah.

Berkat kegigihannya, lembaga pendidikannya mengalami perkembangan yang sangat pesat.  Pada 1926 Rahmah membuka kelas Menjesal School. Kelas ini ditujukan bagi para wanita yang belum bisa baca-tulis. Kemudian pada 1934 ia mendirikan sekolah Taman Kanak Kanak (Freubel School) dan Junior School (setingkat HIS). Lalu pada 1937 didirikan Kulliyatul Mu’allimat el-Islamiyah (KMI) atau Sekolah Guru Puteri Islam sebagai wadah untuk melanjutkan tamatan Diniyah Puteri, dengan masa belajar tiga tahun. Pada 1938 dididirikan dua lembaga sekaligus, yakni  Badan Penerbit Darul Kutub dan Perpustakaan Kutub Khannah.

Asrama putri Pondok Putri Diniyah Padang Panjang (foto : asyifagirl.blogspot.com)

Pada 1947 Rahmah mendirikan empat buah lembaga pendidikan agama putri dalam bentuk lain, yaitu Diniyah Rendah Putri (SDR) lama pendidikannya tujuh tahun, setingkat dengan Sekolah Dasar enam tahun, Sekolah Diniyah Menengah Pertama Putri Bagian A Tiga Tahun (DMP Bagian A), Sekolah Diniyah Menengah Pertama Bagian B Lima Tahun (DMP Bagian B), dan Sekolah Diniyah Menengah Pertama Bagian C dua tahun (DMP Bagian C). Tiga buah sekolah yang disebut terakhir setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan bidang studi agama dan bahasa Arab menjadi mata pelajaran pokok. Pada tahun  1964  ia mendirikan Akademi Diniyah Putri. Tiga tahun kemudian 1967 akademi ini dijadikan Fakultas Dirasat Islamiyah dan merupakan salah satu fakultas dari Perguruan Tinggi Diniyah Putri.

Suasana upacara di Pondok Putri Diniyah Padang Panjang (foto : asyifagirl.blogspot.com)

Keberhasilan Rahmah el-Yunusiah mengelola Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang  mengundang kekaguman bukan saja di dalam negeri, tetapi juga di mancanegara. Ketika Rektor Universitas Al Azhar Mesir, Dr. Syaikh Abdurrahman Taj,  berkunjung ke perguruan ini pada tahun 1955, ia mengadopsi sistem pendidikan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang tersebut ke Universitas Al Azhar yang pada waktu itu belum memiliki pendidikan khusus bagi perempuan.  Rahmah el-Yunusiyyah berhasil mewarnai kurikulum Al-Azhar. Atas jasanya tersebut, Rahmah mendapat gelar syaikhah (guru besar) dari Universitas Al Azhar pada  1957.

Rahmah el-Yunusiah  yang tutup usia pada 26 Februari 1969, telah menunjukkan bahwa ia bukan hanya punya cita-cita dan gagasan untuk memajukan kaum perempuan, tetapi juga sekaligus mewujudkan cita-cita luhurnya itu secara nyata. Sayang, tidak banyak yang mengenal apalagi mengenang jasa-jasa perempuan hebat yang seorang ini.

Sumber: Abuddin Nata,  Tokoh-Tokoh Pembaruan Dan Pendidikan Islam di Indonesia( 2005)

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda