Cakrawala

Dulu Dituduh Anti-Islam, Kini Kartini Diaku Santri

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kartini menyerang poligami sehingga ia dituduh menghina Islam. Sekarang muncul semacam wacana tandingan bahwa ia  telah memperoleh pencerahan tentang Islam setelah menjadi “santri”

Kartini menyatakan bahwa ia memeluk agama Islam karena nenek moyangnya beragama Islam. Bukan  karena pilihannya sendiri. Hal ini ia ungkapkan dalam salah satu surat kepada teman Belanda-nya: “Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya? Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghapal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.”

Yang terasa pedas adalah serangan Kartini terhadap poligami, yang ia kutuk sebagai biang keladi keterpurukan perempuan Jawa. Bagi Kartini, poligami adalah aib dan dosa karena memperlakukan wanita sewenang-wenang. Karena itu serangan-serangannya amat tajam, dan cenderung emosional. “Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah, yang apabila sudah bosan kepada anak-anaknya, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam,” tulis Kartini kepada Stella Zeehandelaar. Katanya, meskipun hal itu seribu  kali tidak boleh disebut dosa menurut ajaran Islam, selama-lamanya dia  tetap menganggapnya begitu. 

Kritik Kartini kepada Islam yang mendukung poligami memang keras. Ia juga sempat meminta Abendanon untuk bertanya kepada Snouck Hurgronje tentang hak dan kewajiban perempuan, dan anak perempuan mereka, dalam hukum Islam. Sebulan kemudian dia beroleh jawaban bahwa “perempuan di Jawa dalam soal perkawinan baik-baik saja adanya.” Ia kecewa: “orang besar” itu telah menentang perjuangannya.”Masih akan adakah orang dengan tenang mengatakan bahwa “keadaan mereka baik-baik saja”, kalau mereka melihat dan mengetahui semuanya yang telah kami lihat dan ketahui sendiri?” tulis Kartini kepada Abendanon.

Serangan Kartini terhadap poligami seperti tanpa ampun, karena itu tidak sedikit yang menuduhnya anti-Islam. Meski begitu, ia mendapat pembelaan dari Haji Agus Salim. Dalam tulisannya “Perempuan dalam Islam”, ia  memang membela R.A. Kartini. Salim mengakui bahwa pengetahuan agama Islam “marhumah putri Jawa yang mulia itu” tidak memadai, tapi itu tidak berarti bahwa ia membuta-tuli atas agama Islam. Ajaran Islam yang diberikan oleh para kiai waktu itu memang seperti yang dituliskan Kartini, dan memang dalam prakteknya belum terungkapkan keutamaan perempuan di dalam ajaran Islam. Alhasil, menurut Salim, apa yang dikemukakan Kartini tersebut tidak salah. Kata dia, Alquran tidak boleh disalin, dan keadaan perempuan dalam Islam pada waktu itu memang menyedihkan.

Tapi itu dulu. Sekarang muncul semacam wacana tandingan bahwa Raden Ajeng telah memperoleh pencerahan tentang Islam setelah menjadi “santri” Kiai Sholeh Darat Semarang. Sumbernya adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu sang Kiai, yang mengisahkan pertemuan Raden Ajeng dengan kakek dalam acara pengajian di rumah paman Kartini, Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat. Sepanjang pengajian, Kartini memperhatikan setiap kata demi kata yang diterangkan oleh Kiai Sholeh Darat. Ia memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun karena selama ini ia  hanya tahu membaca Al-Fatihah tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu. Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat.

Ringkas cerita, Kiai Sholeh Darat kemudian menghadiahi Kartini terjemah Alquran 13 juz dalam bahasa Jawa. Kitab terjemah dan tafsir  Quran yang diberi nama  Faidhur-Rahman ini dipersembahkan sebagai hadiah perkawinan Kartini dengan Bupati Rembang Djojodiningrat, yang sudah beristri tiga dan punya delapan anak, di antaranya ada yang seumuran Kartini. Begitulah, setelah membaca terjemahan/tafsir  Alquran yang ditulis Kiai Sholeh Darat, Kartini memperoleh taufiq dan hidayah  dalam kehidupannya. Dakwah Islam terus ia ikuti, sampai akhirnya pandangannya tentang Islam pun mulai berubah. Ia menyadari bahwa, jika kehidupan diikuti dengan benar dan sesuai dengan Alquran akan membawa kehidupan yang lebih baik, dan memiliki citra baik di mata agama yang lain. Soal pertemuannya dengan Kiai Sholeh Darat dan tafsir Alquran pemberian sang Kiai, memang tidak diceritakan oleh Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Belanda.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda