Cakrawala

10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga, Vol. 2

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Dalam hadist yang diiriwayatkan dari  Abdurrahman bin Auf, disebutkan 10 sahabat Nabi yang digembirakan atau dijamin bakal masuk surga. Mereka adalah  (1) Abu Bakar Ash-Shiddiq, (2)  Umar bin Khaththab. (3) Utsman bin Affan, (4) Ali bin Abi Thalib, (5) Zubair bin Awwam, (6)  Abu Ubaidah  Amir bin Al-Jarrah,  (7) Abdurrahman bin Auf, (8) Sa’ad bin Abi Waqash, (9) Thalhah bin Ubaidillah, (10) Sa’id bin Zaid.  Berikut ini adalah keutamaan yang dimiliki 10 sahabat Nabi itu. Sebagaimana halnya pada figur dan perjuangan Rasulullah s.a.w., kita juga bisa mengambil suri tauladan dari para sahabat yang tergolong generasi pendahulu atau as-sabiquunal awaaluun itu.

Umar bin Al-Khatththab (586-644). Dalam kitab-kitab Hadist terdapat berbagai riwayat mengenai keistimewaan atau keutamaan para sahabat yang diucapkan oleh Nabi sendiri. Mengenai kelebihan Umar di antaranya, sebagaimana diriwiyatkan oleh setidak-tidaknya  oleh Imam Turmudzi, adalah: “Andai saja ada nabi setelah aku, dia itulah Umar.”

Khalifah pengganti Abu Bakar itu memang dikenal punya keluasan wawasan dan kemampuan kepemimpinan, yang tidak tertandingi dalam sejarah Islam, setelah Nabi Muhammad s.a.w. Tak heran jika dalam buku Michael Hart tentang 100 tokoh yang dinilainya paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah, ia disebut sebagai salah satu dari dua tokoh yang mewakilili kalangan Islam, selain Nabi Muhammad yang ditempatkan sebagai tokoh pertama. Kata Hart, Abu Bakar adalah pemimpin yang berhasil tapi beliau wafat sesudah jadi khalifah hanya selama dua tahun. Tetapi dialah yang menunjuk Umar sebagai penerusnya pada tahun 634 dan memegang kekuasaan sampai tahun 644 tatkala da terbunuh di tagan seorang budakpersia.

Dalam masa kepemimpinannya yang 10 tahun, bangsa Arab berhasil menaklukan Suriah Palestina, Turki, Mesir yang waktu itu dikuasai kekaisaran Byzantium. Setelah itu, Irak yang berada di bawah kekaisaran Persia juga behasil ditaklukan, sampai akhirnya kekaisaran Persia tidak tersisa. Menjelang wafatnya, sebagian besar daerah barat iran sudah dikasai sepeuhnya oleh bangsa Arab. “Keberhasilan Umar betul-betul mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan oleh Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana dapat disaksikan sekarang ini. Lebih-lebih, kebanyakan daerah yang ditaklukkan di bawah pemerintahannya  tetap menjadi Arab hingga kini. Jelas, tentu saja, Muhamad-lah penggerak utamanya jika dia harus menerima penghargaan terhadap perkembangan ini. Tetapi akan merupakan kekeliruan berat apabila kita mengecilkan saham  peranan Umar. Penaklukan-penaklukan  yang dilakukannya bukanlah akibat otomatis dari inspirasi yang diberikan Muhammad. Perluasan mungkin saja bisa terjadi, tetapi tidaklah akan sebesar itu kalau saja tanpa kepemimpinan Umar yang brilian,” tulis  Hart. Ia juga menyebut penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab di bawah Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama dan lebih bermakna ketimbang apa yang diperbuat oleh Charlemagne atau Julius Cesar.           

Sayidina Umar, seperti disadarinya sendiri, adalah pemimpin yang berwatak keras dan sangat menjunjung tinggi hukum. Ini tampak dari  pidatonya ketika dia diangkat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakr. Berikut ini petikannya:

“Aku tahu, di antara kalian ada yang mengatakan, ‘Apa jadinya urusan kita dipimpin Umar yang berwatak keras seperti itu?’ Tanpa perlu bertanya kepada siapa pun tentang diriku, kalian sudah tahu siapa aku. Bahkan sudah sangat berpengalaman mengenai pribadi dan tindakanku. Ketahuilah, kekerasanku terhadap orang yang zalim, yang jahat, dan orang-orang kuat yang menindas yang lemah. Namun terhadap mereka yang baik di antara kalian, aku berlaku sopan dan hormat. Jika ada sengketa antara aku dan siapa pun di antara kalian, aku bersedia pergi bersamanya menemui orang yang kalian anggap bisa menyelesaikannya. Biarlah dia yang menilik persoalannya. Wahai para hamba Allah, bertakwalah kepada Tuhan kalian. Bantulah aku mengatasi nafsu kalian dengan cara mengendalikannya. Bantulah diriku menjalankan amar makruf nahi mugkar.

Berbeda dengan Abu Bakar yang sedari awal bersahabat dengan Nabi dan tanpa ragu mempercayai wahyu yang diterimanya, Umar adalah musuh paling ganas dan menentang habis-habisan Muhammad dan Islam. Tetapi setelah masuk Islam, dia berbalik menjadi pendukung yang gigih. Ia pun menjadi penasihat utama Rasulullah dan Abu Bakar. Kebanyakan ayat-ayat hukum yang diturunkan kepada Rsulullah s.a.w. adalah mendekati pendapat Umar atau cocok dengan pendapatnya, karena Rasululah memang telah berdoa untuknya: “Semoga Allah menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan hatinya.”

Berikut ini  sebagian nasihat Umar kepada gubernur semasa pemerintahannya:  “Tegakkanlah hukum. Seretlah orang-orang yang berbuat zalim ke pengadilan. Walau sesaat, lecehkanlah kaum fasik dan pisahkan mereka. Jika terjadi ketegangan antarsuku, serukanlah kepada mereka bahwa itu termasuk bisikan setan. Ajaklah mereka ke jalan Allah dan ajaran Islam.”

“Abadikanlah nikmat dengan bersyukur, kemampuan dengan permohonan ampun, dan kemenangan dengan sikap rendah hati serta mencintai sesama. Jenguklah kaum muslimin yang sakit. Antarkan jenazahnya sampai ke pemakaman. Berikan perhatian yang besar kepada urusan mereka. Dan, bukalah terus pintumu karena kamu salah seorang dari mereka, hanya saja Allah menjadikan kamu paling berat memikul beban.”

Sumber: Muhammad Ahmad Asyur, Khotbah dan Pesan Umar ibn Al-Khattab; MuhammadAli Al-Quthub, Sepuluh Sahabat Dijamin Ahli Syurga; Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpenaruh dalam Sejarah (1997) 

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda