Mutiara

Seperti Rama, Seperti Laksmana

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Tidak mudah untuk turun tahta, seperti juga untuk mendudukinya. Tidak semua penguasa dan yang ingin meraih kuasa menyadari akan keterbatasan dirinya, seperti Rama, seperti Laksmana.

Dalam kitabnya Ramayana, yang didominasi rasa erotis itu, Valmiki tidak hanya bercerita tentang kepahlawanan maupun penderitaan Rama dan Sita. Ia, yang dalam tradisi India dihormati sebagai adikawi alias penyair utama, juga mengangkat tema abadi lainnya: kekuasaan.

Syahdan, Rama berhasil menciptakan kesejahteraan di  Ayodya. Berkat kesigapannya hal-hal yang buruk tidak cepat meluas di kerajaan ini. Ia cepat bertindak: memanggil delapan brahmana utama yang menjadi penasehat utama Istana. Usai sidang darurat, dia berkeliling negeri untuk menemukan tanda-tanda kejahatan. Sedangkan tugas administrasi kerajaan dia serahkan kepada sudara-saudaranya, laksmana dan Barata.

Toh menjelang akhir hayatnya, Rama tak urung berhadapan dengan pilihan yang sulit. Dia harus menghukum mati Laksmana, karena saudara-pendampingnya itu lancang menyela pembicaraannya dengan Dewa Kala yang menyaru sebagai pengemis. Rama memang sudah menginstruksikan Laksmana untuk mengamankan pertemuan empat mata itu. Katanya, “Suruh pergi semua pengawal dan pelayan,Saudaraku. Jagalah pintu masuk. Pertemuan ini sangat pribadi. Siapa pun yang datang atau mengganggu atau ikut mendengarkan akan dihukum mati.”

Begitulah, sementara keduanya berbicara, muncul seorang resi di gerbang istana. Dia mendesak Laksmana untuk diizinkan bertemu dengan Rama. “ada hal yang sangat penting yang harus kusampaikan,” katanya. Kata-kata persuasif Laksmana  agar sang resi sabar menungu audiensi usai disambut dengan mata membara. Laporkan sekarang juga. Atau aku akan menjatuhkan kutukan: kepadamu, kepada kerajaanmu, kepada Rama, Barata, dan seluruh wangsa Ikswaku. Aku mencoba menahan diri, Laksmana tetapi kesabaranku habis sudah.”

Setelah menimbang-nimbang, Laksmana bangkit dan masuk kedalam istana, menginterupsi pembicaraan dan menyampaikan pesan resi. Rama pun minta diri untuk menemui Durwasa, sang resi, dan menanyakan keperluannya Durwasa berkata, “dengar, Rama yang patuh kepada darma. Hari ini aku telah menyelesaikan puasa 1.000 tahun. Makanan apa yang bisa kauberikan untuk berbuka puasa?”

Rama dengan senang hati mempersembahkan berbagai hidangan yang rasanya bagaikan amrita, minuman paradewata. “Sadhu. Dahsyat, Rama,” Duwarsa berseru, seraya pamit kembali ke padepokannya.

Adapun Rama, wajahnya pucat, hatinya kecut, karena tiba-tiba teringat janjinya kepada Kala. Kata Valmiki, yang suka nimbrung dalam cerita yang dikisahkannya sendiri, dia termenung, tunduk, dan hilang serinya bagai bulan kena gerhana. Namun Laksmana menyapa gembira: “Aku bertanggung jawab atas kesedihanmu, Pahlawan Perkasa. Ini pastilah akibat karmaku di masa lalu. Bunuhlah aku tanpa ragu. Penuhilah janjimu. Mereka yang menyalahi janji masuk neraka. Jika kau sayang kepadaku, jika kau mengutamakan darma, bunuhlah aku, Maharaja.”

Rama mengumpulkan para menteri dan pendeta. Dengan hati resah dia ceritakan pertemuannya dengan Durwasa dan janjinya kepada Kala. Sidang terhenyak. Tapi atas saran seorang pendeta,Laksmana akhirnya diputuskan dihukum. Bukan hukuman mati, melainkan pengasingan. Alasannya, seperti diumumkan Rama kemudian di depan orang ramai, bagi seorang terhormat, diusir dan dihukum mati tak ada bedanya.

Laksmana pergi ke sungai sarayu dan memusatkan diri dalam yoga. Bidadari dan para resi menaburinya dengan bunga.

Dan Rama, dengan wajah luka, berkata kepada para menteri, brahmana, dan tokoh-tokoh masyarakat: “Hari ini aku akan menobatkan Barata, yang berbakti kepada kepada darma, sebagai raja Ayodya. Aku akan mengundurkan diri ke rimba. Siapkan segala yang diperlukan secepatnya. Aku akan mengikuti jejak Laksmana.

Tidak mudah untuk turun tahta, seperti juga untuk mendudukinya. Juga tak mudah untuk benar-benar menjadi pandhito. Seperti Rama, seperti Laksmana. Tapi Sang Pemilik Kerajaan, akan mudah memberikan kerajaan kepada yang Dia kehendaki, dan mencabutnya dari yang Dia kehendaki. Dia muliakan yang Dia kehendaki, dan dia hinakan pula yang Dia kehendaki.

Yang terakhir itu  firman yang sering kita dengar tapi jarang kita renungkan.    

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda