Tasawuf

Dalam Hal Mengungkap Keburukan Atawa Bergunjing

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Ketika  dilapori seorang perempuan yang rajin salat dan berpuasa tetapi suka menyakiti tetangganya, Nabi  menjawab: “Dia di neraka”. Tapi ketika seseorang menyebut-nyebut seseorang yang kikir, Nabi balik bertanya: “Jadi, apa kebaikannya?”

Abul Qasim al-Junaid al-Bagdadi  menuturkan, “Aku sedang duduk di masjid Asy-Syumiziyah, menunggu jenazah agar aku bisa ikut menyembahyangkannya. Orang-orang Bagdad duduk menunggu iringan tersebut. Lalu aku melihat seorang miskin yang kelihatan bekas ibadatnya sedang meminta-minta pada orang banyak. Aku berkata pada diriku sendiri, jika orang ini mau bekerja untuk memperoleh rezekinya, itu akan lebih baik baginya. Ketika aku kembali ke rumah, maka seperti biasanya, aku mulai melakukan wirid di malam hari, menangis dan salat, serta amalan-amalan lainnya. Tetapi semua wiridku itu memberatkan jiwaku. Aku pun tidak dapat tidur, dan hanya duduk-duduk saja. Ketika aku terjaga, kantuk datang kepadaku, aku melihat si pengemis itu. Kulihat orang-orang sedang meletakkan tubuhnya di atas sehamparan kain lebar, dan mereka memerintahkan kepadaku, ‘Makanlah daging orang itu, karena engkau telah menggunjingnya.’ Keadaan orang itu  diungkapkan kepadaku, dan aku memprotes, ‘Aku tidak menggunjingnya! Aku hanya mengatakan sesuatu pada diriku sendiri.‘ Lalu dikatakan kepadaku, ‘Perbuatan seperti itu pun tidak layak. Pergilah kepada orang itu dan minta maaflah!’ Paginya aku mencari orang itu sampai aku menemukannya sedang mengumpulkan dedaunan yang tersisa dalam air yang digunakan untuk mencuci sayur-mayur. Ketika aku memberi salam kepadanya, ia bertanya, ‘Wahai Abul Qasim, apakah engkau datang ke sini lagi? Aku menjawab, Tidak! Ia berkata, Semoga Allah mengampuni dosa kami dan dosamu’.”

Dari riwayat Anas r.a: suatu hari Rasulullah menyuruh orang-orang berpuasa. Lalu bersabda, “Tidak ada yang boleh berbuka sampai aku mengizinkan.”

Orang pun berpuasa. Hingga ketika petang, datang seseorang kepada Nabi. Ya Rasulullah. Aku terus berpuasa, katanya. Izinkan aku berbuka. Beliau menyilakan. Begitu juga yang lain. Sampai datang seorang laki-laki yang berkata: “Rasulullah, dua anak gadis dari kabilahmu terus-menerus berpuasa. Mereka malu datang kepadamu. Izinkanlah keduanya berbuka.”

Tapi Nabi hanya berpaling. Orang itu datang kembali: “Rasulullah. Demi Allah. Anak itu sudah meninggal, atau hampir.”

“Bawa mereka ke sini,” jawab Nabi.

Kedua gadis itu menghadap. Rasulullah minta cawan. “Muntahlah,” perintah beliau kepada seorang.oeek! Gadis itu mengeluarkan darah campur nanah. Juga gadis yang satunya, ketika dapat perintah yang sama. Lalu beliau bersabda: “Mereka ini berpuasa dari yang dihalalkan Allah, tapi menyantap yang diharamkan-Nya. Ketika duduk berdekatan, keduanya memakan daging manusia.”

Tak syak lagi, kerjaan kedua cewek itu bergunjing atau mengumpat. “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang jangan pula sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah siapa saja di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu saja kalian jijik.”(Q.S.49:12).

Tetapi, apakah menggunjing itu?

Jawab sahabat Nabi, ketika beliau bertanya, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Lalu Nabi menerangkannya: “Kamu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya.”

“Apa juga begitu, andaikan yang kukatakan tentang saudaraku itu benar?” tanya seorang sahabat.

Jika yang kamu katakan benar, kamu sudah menggunjingnya. Jika tidak, kamu sudah berdusta.”

Gunjingan, dikemukakan Al-Ghazali, bisa menyangkut kondisi fisik seseorang (misalnya si juling, si cebol) perilakunya ( kikir, sombong, pemalas, emosional, bodoh), perbuatannya (pencuri, pemabuk,pezina), dan seterusnya. Tapi sebagian ulama mengatakan, tidak termasuk bergunjing jika soal yang dibicarakan masuk wilayah agama. Ketika Nabi dilapori seorang perempuan yang rajin salat dan berpuasa tetapi suka menyakiti tetangganya, beliau menjawab: “Dia di neraka”. Tapi ketika seseorang menyebut-nyebut seseorang yang kikir, Nabi balik bertanya: “Jadi, apa kebaikannya?”

Gunjingan memang menyangkut kehormatan. “Setiap muslim atas muslim lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”(H.r Muslim). Meski begitu, untuk kondisi tertentu, toh boleh saja kita mengungkap keburukan orang.

Pertama, jika kita dizalimi orang yang lebih kuat (apalagi hakim, atau penguasa), sehingga kita kehilangan hak kita. Kita berhak mengadu ke pihak-pihak terkait. “Sesungguhnya orang punya hak itu punya hak bicara (mengadu)” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Kedua, untuk mengubah kemungkaran. Suatu hari Umar r.a singgah ke rumah Utsman r.a (versi lain: Thalhah r.a.). Ketika memberi salam, ia tidak dijawab. Umar mengadu ke Abu Bakr. Khalifah ini lalu menegur Utsman (atau Thalhah). Cara lain juga ditempuh Umar ketika mendengar kabar Abu Jundul membuat arak di Syam. Khalifah ini lalu menulis surat kepadanya berisikan ayat-ayat Al-Quran: “Bismillahirrahmanirrahim. Haa Miim. Penurunan Al-Kitab dari Allah Mahaperkasa dan Mahatahu. Pengampun Dosa, Penerima Taubat, Yang Keras dalam Siksa dan Pemilik Karunia. Tiada tuhan sembahan selain Dia. Kepada-Nyalah semua kembali.” (Q.40:1-3).

Ketiga, minta fatwa. Ini dilakukan Hindun binti Utbah yang mengadukan suaminya, Abu Sufyan, kepada Nabi. Kata Hindun, Abu orangnya pelit, ngasih belanja cuma sedikit. “Bolehkah saya mengambil tanpa setahunya?” Nabi menjawab, “Ambilah yang mencukupi kamu dan anak-anakmu dengan pantas.”

Keempat, memperingatkan orang-orang dari perbuatan jahat orang lain “Adakah kamu membungkam tentang orang fasik? Bukalah ihwalnya agar diketahui orang banyak. Sebutkan apa adanya, hingga ia ditakuti orang.” (H.r. Thabarani dan Ibn Hibban).

Kelima, penyebutan kekurangan fiisik seseorang yang memang merupakan cirinya. Misalnya dalam hadis, “diriwayatkan dari Si Anu, dari Si Pincang (Al-A’raj), atau Si Rabun (Al-A’masy) atau Si Mata Satu (Al-A’war).” Biasanya sebutan (yang sudah sangat terkenal) itu diterakan di belakang nama yang bersangkutan—-dan tidak menimbulkan kemarahannya, karena justru memperjelas, bagi keperluan pencatatan ilmiah.

Terakhir, penyebutan kejelekan orang yang memamerkan kefasikan dirinya. “Barangsiapa sudah mencampakkan baju malunya,” kata Nabi, “maka (seluruh sebutan orang tentang dirinya) tidak menjadi gunjingan baginya.” Dan sepeti Umar ibn Al-Khattab r.a., memang tidak ada kehormatan untuk orang yang (terang-terangan) berbuat maksiat. ­Ngapain ditutup-tutupi lagi. Repot-repot amat.

Sumber: Al-Qusyairi, Al-Risalah al-Qusyiriyah (1379 H/1959 M); Abu Hamid Muammad Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin (1967)

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat