Mutiara

Selalu Tergesa-gesa

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat


Pertolongan Allah sangat dekat. Tapi Dia yang  menentukan waktunya — dan tidak akan menyegerakan bantuan hanya karena ketergesaan hamba.

Dari Abdillah ibn Abbas r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Setiap anggota tubuh manusia diwajibkan salat setiap hari.”

“Sungguh ini kabar yang paling berat yang pernah kami terima,” komentar seorang sahabat.

“Tindakanmu menyuruh orang berbuat baik dan mencegahnya dari berbuat mungkar adalah salat. Membantu yang  lemah adalah salat. Menyingkirkan kotoran dari jalanan adalah salat. Dan setiap langkah menuju salat adalah salat,” sahut Rasulullah. Riwayat Ibn Khuzaimah.

DarI Bukhari dan Muslim juga ada hadis serupa, berasal dari Abu Hurairah r.a. “Setiap persendian manusia harus dibayarkan sedekahnya setiap matahari terbit. Mendamaikan dua orang yang bertengkar adalah sedekah. Menolong seseorang naik kendaraannya, atau mengangkatkan bawaannya, adalah sedekah. Mengucapkan perkataan baik adalah sedekah. Setiap langkah menuju salat adalah sedekah. Dan menghilangkan rintangan dari jalan adalah sedekah.”

Yang lain-lain, yang juga dihitung Rasulullah sebagai bagian dari ibadah, atau “sedekah”, meliputi senyum seseorang kepada saudaranya, bantuan mendengarkan untuk orang tuli,  menunjuki jalan orang buta, memberi nasihat kepada yang bingung, menolong yang menderita, dan berbagai amalan mulia yang lain.

Yusuf Qardhawi,  dalam kitabnya Al- ‘Ibadah fil-Islam,  mengungkapkan bahwa agama ini telah meluaskan batas ibadah sehingga meliputi jenis-jenis amal yang sering tidak terlintas dalam pikiran sebagai amal ibadah maupun cara mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Alhasil, menurut pemuka Al-Ikhwanul Muslimun ini, setiap tindakan sosial yang bermanfaat adalah jenis ibadah paling utama —  selama niatnya baik, bukan untuk, misalnya, mencari pujian atau kemasyhuran.

Dengan begitu hidup seorang muslim akan menjadi sumber berkah bagi sekelilingnya. Sebagai aset, bukan liability,  kata orang sekarang. Ia, sebagaimana disebutkan Rasulullah, akan menjadi kunci pembuka kebajikan dan penutup kejahatan. “Beruntunglah hamba yang dijadikan Allah pembuka kebajikan dan penutup kemaksiatan.”

Ada yang mengatakan, era kebebasan sekarang ini ini ditandai dengan terbuka lebarnya pintu maksiat. Tapi, dalam pada itu, semangat menutupnya tampak kuat pula, malahan saking kuatnya sering dibuntuti kekerasan. Sebagaian karena diberi angin atau isyarat keleluasaan dari aparat. Toh pintu-pintu kejahatan tidak juga bisa ditutup. Atau, belum masanya bisa ditutup.

Memaksakan Kebenaran

Syahdan, Khalifah Umar ibn Abdil Aziz mendapat kritik cukup pedas dari putranya, Abdul Malik. Pasalnya, Umar tidak segera mengikis sisa-sisa penyimpangan dan kezaliman yang diwariskan para pendahulunya.

“Mengapa Bapak tidak segera bertindak? Kata Abdul Malik, penuh semangat. “Demi Allah, aku tidak peduli betapa besar kekuasaan takdir akan menenggelamkan kita dalam kebenaran.”

“Anakku. Jangan tergesa-gesa,” jawab Umar. “Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela minuman keras sampai dua kali. Baru pada ketiga kalinya Dia mengharamkannya. Aku khawatir, jika dipaksakan kebenaran kepada manusia sekaligus, mereka justru akan meninggalkannya dan sekaligus menimbulkan fitnah (kekacauan).”

Jenis-jenis maksiat, betapapun besarnya, seperti dikatakan Yuuf Qardhawi, sebenarnya hanya melecetkan dan mengurangi iman, tanpa mencabutnya sama sekali dengan akar-akarnya — selama orang tidak melakukannya lantara menentang Allah atau dengan sengaja hendak menghalalkan yang haram atau meremehkan perintah dan larangan-Nya. Benar, pertolongan Allah amat dekat. Tetapi Tuhan sendiri yang menjanjikan dan menentukan saatnya. Dia tidak akan menyegerakan bantuan-Nya hanya karena ketergesaan hamba.

Nabi sendiri selalu mengingatkan para sahabat untuk tidak terlalu mengharapkan pertolongan Allah sebelum waktunya.

“Ya Rasulullah, apakah tidak sebaiknya  Bapak berdoa dan meminta pertolongan buat kita?” Demikian suatu ketika Habba ibn Arat. Rupanya ia sudah tidak tahan menanggung cobaan yang diderita umat muslimin.

Tapi Rasulullah memerah wajahnya. Beliau duduk, dan berkata: “Orang-orang sebelum kamu, dahulu, telah disiksa, digaruk dengan sisir besi, ada pula yang digergaji hingga terbelah dua. Tetapi siksaan yang kejam itu tidak membuat mereka berpaling dari agama mereka. Demi Allah, akan dimenangkan-Nya agama ini, sehingga seorang penunggang kuda pergi dari Shan’a ke Hadramaut dalam keadaan tidak takut selain kepada Allah atau serigala yang dikhawatirkan akan menerkam kambingnya. Tapi kamu selalu tergesa-gesa.”***

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda