Adab Rasul

Saat Nabi Berkabung

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Bertepatan dengan hari kematian Ibrahim terjadi gerhana matahari. Kaum muslimin gempar mereka bilang, gerhana itu muncul karena alam turut bersedih. Apa kata Rasulullah?

Begitu sampai diambilnya, bayi itu dari pangkuan ibunya. Tangannya menggigil. Wajahnya penuh duka . “Ibrahim, kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Tuhan,” katanya. Dan, ketika anak itu menarik napas terakhir,ia tak kuasa membendung air matanya.

“Anakku, kalau bukan karena kenyataan, dan janji yang tak dapat dibantah lagi, dan bahwa kami yang kemudian akan menyusul orang lebih dahulu dari kami, tentu akan lebih lagi kesedihan kami.”

Ibrahim wafat dalam usia sekitar dua bulan. Sakitnya pun tidak berapa lama, meski cukup mengkhawatirkan. Ketika ajalnya makin dekat,  Rasulullah, ayahandanya, diberitahu. Begitu sedihnya sampai-sampai Nabi tidak sanggup berjalan sendiri; ia harus bertumpu pada Abdurrahman ibn Auf.

Para pemuka berusaha mengingatkan agar Nabi tidak tenggelam dalam duka. Beliau menjawab, “Aku tidak melarang orang berduka cita. Yang aku larang menangis meraung-raung. Apa yang kamu lihat adalah cinta dan kasih sayang. Orang yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi.” Kata Nabi kemudian, kepada Maria dan Sirin,  “Ia akan mendapat inang pengasuh di surga.”

Syahdan, menyusul pembebasan Mekah, para pemuka kabilah berdatangan ke Madinah mengakui risalah Muhammad dan menerima Islam. Putri beliau, Zainab, yang dulu menebus suaminya yang kafir dari  ayahandanya yang menawannya dalam Perang Badar, meninggal dunia. Dengan kematian itu, tidak ada lagi keturunan Nabi Muhammad yang masih hidup, selain Fatimah. Untuk mengobati hatinya yang luka, Nabi pergi ke pelosok-pelosok, mengunjungi orang-orang yang sedang ditimpa kemalangan.

Tapi kesedihan itu tidak berlangsung  lama. Nabi memperoleh anak laki-laki dari Maria Qibthiah, orang Koptik. Nabi memberi nama yang diambil dari nama leluhur para nabi:  Ibrahim. Maria (dan saudara perempuannya, Sirin yang kemudian diberikan kepada Hassan ibn Tsabit) adalah dua budak hadiah Muqauqis, gubernur Romawi Timur di Mesir. Tidak seperti para ummul mu’minin yang ditempatkan di samping masjid, Maria diberi tempat di Alia, di luar kota, yang sekarang diberi nama Masyraba Umm Ibrahim, dalam sebuah rumah di kebun anggur. Nabi Muhammad, yang waktu itu sudah lebih 60 tahun, bukan main gembira mendengar Maria hamil. Dan, setelah kelahiran Ibrahim, kedudukan Maria lebih tinggi dari sekadar bekas budak, hal yang memang  membikin cemburu istri-istrinya yang lain.

Cinta kasih Muhammad kepada Ibrahim,  kata sejarawan Haekal, sebenarnya bukan karena maksud pribadi yang berhubungan dengan risalah yang dibawanya atau dengan yang akan menjadi penggantinya. “Muhammad s.a.w. tidak akan memikirkan anak atau siapa yang akan mewarisnya, “ tulis Haekal. “Bahkan dikatakannya, ‘Kami para nabi tidak dapat diwarisi. Apa yang kami tinggalkan untuk sedekah’.” Haekal menggambarkannya sebagai rasa kasih insani dalam arti yang luhur, yang akan membuat manusia Arab memandang anak laki-lakinya sebagai lukisan abadi.

Tapi begitulah, kegembiraan ini hanya berlangsung beberapa bulan.

Setelah dimandikan Ummu Burda, Ibrahim dibawa dari rumah itu. Sejumlah kaum muslimin ikut mengantarkannya ke Baqi’. Di situlah Ibrahim dimakamkan, sesudah disembahyangkan Ayah. Usai penguburan dan Nabi meratakan kuburnya dengan tangan beliau sendiri, beliau memercikkan air dan memberi tanda di atas kubur itu. “Sebenarnya ini tidak membawa kerugian,  dan tidak pula mendatangkan keuntungan.” Kata beliau. “Tetapi hanya akan menyenangkan orang yang masih hidup. Apabila orang mengerjakan sesuatu, Tuhan lebih suka bila dikerjakan secara sempurna.”

Bertepatan dengan hari kematian Ibrahim terjadi gerhana matahari. Kaum muslimin gempar mereka bilang, gerhana itu muncul karena alam turut bersedih.

Seharusnya begitu. Dan itu jugalah yang biasanya kita katakan kalau seorang besar di kalangan kita mati dan alam sedikit saja menunjukkan perubahan. Tapi, inilah yang dinyatakan Nabi kepada orang-orang itu: “Matahari dan bulan adalah tanda kebesaran Allah, yang tidak terbit maupun tenggelam, dan tidak terjadi gerhana, karena kematian atau lahirnya seseorang. Kalau kamu melihat itu, berlindunglah dalam zikir kepada Tuhan dengan sembahyang.”

Itu terjadi di sebuah pelosok tanah Arab, di abad ke-7 Masehi.

Sumber: Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad (1980)

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda