Cakrawala

Ketika Orang Gila Dianggap Juru Selamat

Mengapa laki-laki yang menusuk khatib Jumat di Masjidil Haram ini justru dianggap Imam Mahdi?


Sebuah peristiwa menggegerkan terjadi di Masjidil Haram pada hari Jum’at di bulan Rajab tahun 1203 H (1789 M). Waktu itu Syekh Abdus Salam al-Harasyi, sedang menyampaikan khutbah Jum’at. Tiba-tiba datang seorang pria menghampiri sang khatib. Dan uppss dia menusukkan pisaunya ke tubuh Syekh Abdus Salam sehingga menembus ususnya. Abdus Salam pun roboh – dan nyawanya tidak bisa tertolong.

Seperti dikisahkan oleh Ahmad Zaini Dahlan dalam salah satu kitabnya mengenai para penguasa Mekah, sebagaimana dikutip oleh sejarawan Badri Yatim, jamaah shalat jumat pun panik dan hiruk-pikuk – dan menghambur keluar masjid. Hanya sedikit orang, menurut Ahmad ibn Zainl Dahlan, yang tetap menanti di dalam masjid untuk menuntaskan kewajiban Jumat. Dalam keadaan demikian, seorang ulama tampil ke muka melanjutkan khutbah dan shalat Jum’at.

Menurut Zaini Dahlan, laki-laki yang melakukan aksi di dekat Ka’bah itu berasal dari Benggala, dan ditengarai sebagai “orang gila”. Namun, yang aneh, sebagian besar jamaah Masjidil Haram waktu itu percaya bahwa “orang gila” itu adalah Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu kedatangannya (al-Mahdi al-muntazar) yang muncul dari tempat antara Maqam Ibrahim dan rukn (sudut) Ka’bah. Setelah ditangkap, Imam Mahdi gadungan itu kemudian dihukum bunuh pada bulan Sya’ban tahun itu juga, sesuai dengan dosa perbuatannya.

Kepercayaan bahwa darwisy-darwisy tertentu adalah wali atau al-mahdi yang akan membawa keselamatan dan perbaikan hidup masyarakat, seperti dikemukakan sejarawan Badri Yatim, waktu itu hidup subur di kalangan pengikut tarekat-tarekat populer. Termasuk di Kota Mekah. Hal itu bertolak dari kepercayaan terhadap karomah para wali sufi. Kepercayaan ini, menurut Fazlur Rahman, guru besar studi Islam di Universitas Chicago, membuka jalan penyimpangan-penyimpangan, di antaranya, penipuan-penipuan gaya sulap tukang jual obat.

Pada masa suburnya tasawuf model ini, juru bicara agama Islam terdiri dari majzab (orang yang selalu dalam keadaan setengah sadar) yang setengah gila, pengemis parasitis, dan darwisy-darwisy pemeras. Para ulama ortodoks, tidak menganut kepercayaan ini, tetapi mereka ketika itu tidak mampu lagi menahan perkembangan dan daya tariknya. Maka, tidak mengherankan shalat Jum’at pada hari tersebut, hanya dituntaskan oleh sebagian kecil jamaah, sementara sebagian besar yang lain, sebagaimana dituturkan Ahmad ibn Zainl Dahlan, tidak melanjutkannya dan percaya bahwa pembunuh keji itu adalah Imam Mahdi yang dinanti-nanti.


Sumber: Badri Yatim, Sejarah Sosial Keagamaan Tanah Suci, Hijaz (Mekah dan Madinah) 1800-1925 (1999)

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda