Aktualita

Indonesia, La Takhzan

Di gua Tsur, Sayyidina Abubakar radliyallahu anhu tampak ketakutan. Persis di pintu gua, sudah berdiri orang-orang Quraisy yang mengejar dari Mekkah. Sayyidina Abubakar takut bukan karena memikirkan keselamatannya, tapi menguatirkan keselamatan orang yang sangat dikasihinya: Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam yang berada disampingnya.

Hanya ada sekat tipis yang membatasi mereka dengan pengejarnya. Sekat yang terbuat dari sarang laba-laba, di sampingnya ada dua ekor burung dara sedang mengerami telurnya dan ada dahan-dahan pohon yang menutup lubang gua itu. Jarak mereka sedemikian dekat, sehingga kaki pengejarnya tampak jelas dari dalam tempat persembunyian.
Kejadian ini diabadikan Al Qur’an dalam surat At-Taubah ayat 40: …maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersamaku”. Maka Allah menurunkan ketenanganNya kepadanya dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Rasa-rasanya kekuatiran yang dialami sayyidina Abubakar, hari-hari ini juga sedang dirasakan oleh setidaknya sebagian rakyat Indonesia. Mereka merasa pilpres kali ini bukanlah pilpres ‘normal’ seperti yang selama ini mereka alami.
Ada pertarungan yang keras dan terkesan habis-habisan untuk berebut kuasa; sehingga sempat muncul istilah ‘perang total’ di satu sisi dan ‘perang Badar’ di sisi lainnya, misalnya. Atau, ada juga pembelahan di kalangan masyarakat menjadi dua kubu yang berhadapan, pembelahan yang direkayasa dengan menggelontorkan isu-isu yang sensitif dan berbahaya oleh masing-masing pihak.
Kesan pilpres kali ini bukan pilpres ‘normal’ bahkan secara tersurat digaris-bawahi oleh masing-masing pihak yang bersaing, dengan narasi-narasi mereka bahwa pilpres kali ini adalah pertarungan untuk menyelamatkan NKRI. Masing-masing memosisikan pihaknya sebagai penyelamat dan lawannya pengkhianat.

Pilpres tidak lagi diposisikan sebagai sekadar prosedur demokrasi biasa untuk menentukan pemimpin, tapi seolah sebagai ajang peperangan menyelamatkan negara. Sekilas aneh juga: NKRI versus NKRI, tapi begitulah kenyataan yang dicoba bangun di kalangan masyarakat.
Apalagi di masing-masing pihak selalu ada saja kelompok garis keras, yaitu kelompok yang sudah sudah tercuci otaknya dan haqqul yakin bahwa ini semua adalah bentuk ‘jihad’ menyelamatkan NKRI, dan bukan sekedar narasi akal-akalan dari kelompok yang bersaing untuk meraup sebanyak-banyak dukungan bagi kemenangannya.

Fakta-fakta ini saja sudah cukup membuat sebagian rakyat kuatir. Jangan-jangan ada yang ‘iseng’ melempar api ke tengah kelompok-kelompok ini dan memicu terjadinya benturan. Jangan-jangan begini. Jangan-jangan begitu. Dan seterusnya.
Situasi ketakutan mereka mungkin mirip dengan ketakutan sayyidina Abubakar yang sudah melihat kaki pengejarnya di mulut gua. Tapi apakah ketakutan yang melanda sayyidina Abubakar kemudian menjadi kenyataan? Ternyata tidak. Ada kekuatan lebih besar yang menggagalkan ancaman yang menumbuhkan ketakutan itu menjadi kenyataan.

Dan itu semua bermula dari penyataaan Rasulullah: la takhzan, innallaha ma’ana, jangan berduka cita, sesungguhnya Allah bersamaku. Sejak itu turunlah sakinah, ketenangan dariNya, dan bala bantuan berupa tentara yang tak terlihat pun tiba.
Mampukah kita bersikap seperti Rasulullah saat itu? Mungkin tidak. Yang sangat mungkin adalah: kita ‘datangi’ Rasulullah, kita posisikan diri seperti posisi sayyidina Abubakar waktu itu dan meminta syafa’atnya. Insya Allah ketakutan kita akan tertepis dan kita diberiNya sakinah. TentaraNya yang tak terlihat pun insya Allah diturunkan untuk menyelamatkan kita semua.

Dan bukankah ketakutan pertama kita sudah tertepis? Saat hari pencoblosan yang sempat membuat deg-degan karena diperkirakan potensial rusuh, ternyata berjalan mulus dan aman-aman saja.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda