Tasawuf

Selalu Ada Jalan bagi Orang yang Saleh

Selalu saja ada jalan bagi orang saleh (foto : pixel2013/pixabay)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Orang-orang saleh, hidup di zaman kapan pun tidak pernah kehilangan harapan, bahkan dalam situasi yang musykil, dan dalam keadaan menakutkan.

Inilah kisah Rasulullah s.a,w., tentang tiga laki-laki musafir,  sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Bukhari dan Muslim. “Mereka adalah dari orang-orang terdahulu, sebelum kalian. Mereka akhirnya harus menginap, dan masuk ke dalam gua,” kata Nabi memulai ceritanya. “Tiba-tiba ada batu besar menggelinding dari atau bukit, sehingga menutup pintu gua. Mereka berkata, ‘Demi Allah, kita tak bakal selamat dari batu besar ini, kecuali kita berdoa kepada Allah dengan mengambil lantaran amal-amal kita yang saleh.’

Salah satu di antara mereka berkata, ‘Aku punya orangtua, kedua-duanya sudah renta. Suatu hari aku teramat sibuk oleh pekerjaan, sampai-sampai aku terlambat pulang di waktu sore seperti  biasanya. Mereka sudah tertidur ketika aku sampai. Lantas aku membuat susu untuk minuman sore mereka. Tapi ketika kuhidangkan, mereka  sudah benar-benar pulas. Aku merasa bersalah jika membangunkan mereka, dan aku tidak ingin meminum susu itu sebelum mereka minum. Aku hanya bisa berdiri, sementara tempat minuman ada di tanganku, sambil menunggu mereka bangun. Ketika fajar tiba, keduanya pun bangun, lalu meminum susu sore itu. Ya Allah, jika yang kulakukan itu semata hanya untuk Diri-Mu, makan bebaskanlah kami dari kesulitan di dalam gua ini’

Lalu batu itu pun bergeser sedikit, namun belum memungkinkan mereka keluar.

Orang kedua berkata, ‘Ya Allah, aku punya adik misan yang paling kucintai. Suatu ketika aku merayunya, namun dia menolak. Aku pun dirudung kesedihan selama setahun. Suatu hari dia datang kepadaku, dan kuberi 120 dinar, dengan syarat ia mau menemaniku. Maka kami pun berdua-duaan. Tatkala aku menguasai dirinya, dia berkata, ‘Tidak halal bagimu ‘memecah cincin’, kecuali yang berhak’. Maka aku merasa berdosa untuk menyetubuhinya, dan aku pergi meninggalkannya. Padahal dia gadis yang paling kucintai. Sementara aku tinggalkan uang yang sudah kuberikan padanya. Ya Allah bila yang kulakukan itu semata demi Dzat-Mu, maka bukakanlah kami dari kesulitan di dalam gua ini.’

Lalu batu itu pun bergeser lagi , namun mereka belum juga bisa  keluar.

Kini tibalah giliran buat orang ketiga. ‘Ya Allah, katanya,  ‘sesungguhnya aku memperkerjakan para buruh, kemudian aku telah memberikan upah mereka semuanya, kecuali satu orang yang pergi begitu saja. Upah itu aku simpan dan kukembangkan. Suatu saat dia datang padaku, sambil  berkata ‘Hai Hamba Allah, mana upahku dulu?’ Kujawab, ‘Upahmu itu adalah semua yang kaulihat ini, antara lain unta, kambing, sapi dan budak itu.’ Dia berkata, ‘Saudara jangan menghina ya?!’ Aku katakan, ‘Aku tidak menghinamu ‘. Lantas kuceritakan kisahnya, dan akhirnya semuanya diambil dan digiringnya, tidak disisakan sama sekali. Ya Allah, apabila yang kulakukan itu semata demi Kamu, maka lepaskanlah kami dari kesulitan dalam gua ini.’

Batu itu bergeser lagi. Mereka pun akhirnya bisa keluar dari gua.”

Orang-orang yang saleh, hidup di zaman kapan pun, sepertinya tak pernah kehilangan harapan, bahkan dalam situasi yang musykil, atau dalam keadaan yang menakutkan seperti yang dihadapi oleh tiga laki-laki yang diceritakan Rasulullah tadi.

Berkata Ahmad ibn Muhammad Ar-Rudzbari, seorang sufi yang wafat pada 322 H/934, “Takut dan harap adalah seumpama sepasang sayap burung. Manakala kedua belah sayap itu seimbang, si burung pun akan terbang dengan sempurna. Tetapi manakala salah satunya kurang berfungsi, maka hal ini akan menjadikan si burung kehilangan kemampuan terbangnya. Apabila takut dan harap  kedua-duanya tidak ada, maka si burung akan terlempar ke jurang kematiannya.”        

Mereka orang-orang saleh itu, percaya akan pertolongan (ma’unah) Tuhan mereka. Allah berfirman: “Orang-orang yang berjuang dalam (urusan) Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami, dan sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q. 29:69) . Tapi bagaimana untuk mencapai derajat kesalehan?

Seseorang baru akan mencapai derajat kesalehan, kata Ibrahim ibn Adham, seorang anak raja yang kemudian meninggalkann istana menjadi pengembara, setelah:

  • Menutup pintu hura-hura dan membuka pintu keprihatinan;
  • Menutup pintu keangkuhan dan membuka pintu kerendahan hati;
  • Menutup pintu istirahat  dan membuka pintu perjuangan;
  • Menutup pintu tidur  dan membuka pintu jaga;
  • Menutup pintu kemewahan dan membuka pintu kesederhanaan;
  • Menutup pintu harapan dunaiawi dan membuka pintu persiapan menghadapi kematian;

Adapun orang yang rusak, seperti diungkapkan Dzun Nun Al-Mishri, sufi yang lain, juga dikarenakan enam hal:

  • Mereka memiliki niat yang lemah dalam melakukan amal untuk akhirat;
  • Tubuh mereka diperbudak oleh nafsu;
  • Mereka tidak henti-hentinya mengharapkan perolehan duniawi bahkan menjelang ajal;
  • Mereka lebih suka menyenangkan makhluk, mengalahkan ridha Sang Pencipta;
  • Mereka memperturutkan hawa nafsu, dan mengabaikan sunnah Nabi;
  • Mereka membela diri dengan menyebutkan beberapa kesalahan orang lain, dan mengubur prestasi pendahulunya.

Sumber: Imam Al-Qusyairi an-Naisaburi, Risalah  ul Qusyairiyah (t.t.)

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda