Mutiara

Rakyat Edan di Depan Penguasa yang Edan

Rakyat edan di depan penguasa yang edan (ilustrasi foto : icons8-team/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Perilaku muslim yang zalim bisa menyebabkan orang-orang keluar dari agama Islam. Apalagi jika hal itu dilakukan oleh penguasa. Kisah Yusuf ibn Hajjaj ketika berhadapan dengan rakyat biasa.   

Ini cerita Abdurrahman ibn Abdillah, yang ia dengar dari pamannya. Syahdan, setelah panglima perang Umaiah, Hajjaj ibn Yusuf, mematahkan perlawanan Abdullah ibn Zubair r.a., melalui sebuah pertempuran keji di sekitar Ka’bah, ia berangkat ke Madinah. Di perjalanan, ia berpapasan dengan seorang tua ternyata penduduk kota itu. Ia bertanya keadaan kota tujuannya. “Buruk sekali,” jawabanya. Dan itu “akibat terbunuhnya putra pelindung Rasulullah s.a.w.”

Tanya Hajjaj: “Siapa pembunuhnya?”

“Orang zalim yang terkutuk, Hajjaj ibn Yusuf.”

“Anda  sedih, dan marah pada Hajjaj?” Kali ini Hajjaj tidak bisa menyembunyikan amarahnya.

“Demi Allah, itu sangat menyedihkan. Semoga Allah murka dan menyengsarakan Hajjaj.”

“Apakah Anda mengenal Hajjaj jika melihatnya?”

“Ya. Semoga Allah tidak mengenalkannya kepada kebaikan, dan tidak menjaganya dari kerusakan.”

“Ketahuilah, hai orang tua,” kata Hajjaj seraya membuka penutup wajahnya. “Ia akan mengalirkan darahmu seketika ini juga!”

Menyadari bencana di depan mata, orang tua itu berpura-pura  gila. Katanya: “Demi Allah, ini benar-benar ajaib. Hajjaj, jika Anda tahu siapa saya, pasti Anda tidak berkata begitu. Saya Abbas ibn Tsaur, si gila yang suka kambuh lima kali dalam sebulan. Dan ini kegilaan pertamaku.”

Hajjaj diam. “Pergilah!” katanya kemudian. “Allah tidak akan menyembuhkan dan menyembuhkanmu.”

Dalam kitab Uqala’ ql-Majanin, cerita penutup berasal dari Sha’sha’ah ibn Shauhan. Ia berangkat haji bersama jagoan perang itu. “Di tengah jalan kami mendengar suara talbiah seorang Badui,” Sha’sha’ah memulai kisahnya. “Usai talbiah ia berkata: “Demi angkasa di cakrawala, kami telah mengikut jejak para rasul-Mu. Tidak merugi hamba yang mengharapkan-Mu.”

Hajjaj berkomentar:  “Ini talbiah orang tauhid. Jangan sampai kita kehilangan dia.” Lalu mengajak mengejar orang itu,  yang ternyata dari Irak. “Dari kota Hajjaj ibn Yusuf,” katanya.

Hajjaj kemudian menanyakan pendapatnya tentang tokoh itu. Jawabanya: “Seperti  Fir’aun terhadap Bani Israil–membunuh  anak-anak dan membiarkan kaum wanita hidup. Panglima itu, katanya, menurut kabar juga sedang berhaji, dan Allah tak akan menerimanya. Ia sudah menentukan penggantinya: saudaranya Muhammad, seorang yang sangat lalim dan suka menindas.”

“Kamu tahu siapa aku?”

“Tidak.”

“Akulah Hajjaj ibn Yusuf.”

“O. Dia itu lebih buruk dari semua orang dan terkutuk di dunia dan akhirat.”

“Aku akan membunuhmu dengan cara yang belum pernah kupakai.”

“Aku punya  Tuhan yang akan menyelamatkan aku dari kamu.”

“Apa kamu akan membaca ayat-ayat?”

“Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu lihat manusia keluar  dari agama Allah dengan berbondong-bondong….” (Q. 110:1-2).

“Ngawur kamu!

“Bagaimana benarnya?”

“Masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”

“Itu dulu, sebelum Hajjaj jadi penguasa. Ketika dia berkuasa, mereka keluar dari agama Allah.”

Hajjaj ngakak  sampai badannya terlentang.

“Oke. Apa pendapatmu tentang Muhammad s.a.w.?”

“Untuk apa aku berpendapat tentang pemilik syafaat….dan namanya disertakan Allah dengan namanya.”

Abu Bakr?

“Ia shiddiq  di bumi dan di langit, teman Nabi di gua. Masuk Islam dan menafkahkan 80.000 dinar di jalan Allah…….”

“Kalau Umar ibn Khattab?”

“Dia adalah faruq, membedakan antara yang benar dan yang salah dengan lidahnya. Di hari kiamat, kebenaran dan Islam bergantung kepadanya. Ia gelisah sehingga keduanya berkata, ‘Jangan resah, kami berdua adalah kebenaran dan Islam yang engkau tegakkan di dunia”“Utsman ibn Affan?”

“Dia penggali sumur Arumah,  kerikil bertasbih di tangannya dan malaikat di langit malu kepadanya.”

“Lalu Ali ibn Abi Thalib?”

“Putra paman Nabi dan suami putri beliau. Nabi pernah bersabda, ‘Hai Ali, sesungguhnya Allah menyatukan antara rohmu dan ruhku’.”

“Bagaimana dengan Hasan-Husein?”

“Putra Fatimah, bimbingan Nabi dan di bawah pengawasan langsung Jibril.”

“Apa pendapatmu tentang Mu’awiyah?” tanya Hajjaj kemudian.

“Abang  ummul mukminin (istri Nabi s.a,w). Penulis wahyu. Nabi pernah  memboncengkanya, dan beliau bersabda, ‘Semoga rongga dadamu itu dipenuhi ilmu dan kebijaksanaan oleh Allah’.”

Tapi tentang putranya, Yazid, ia hanya bisa mengatakan “seperti dikatakan, orang lebih baik dariku dan orang yang lebih jelek darimu.”

“Siapa mereka?”

“Musa lebih baik dariku, dan Fir’aun lebih jelek darimu.”

“Yah. Apa kata Musa kepada Fir’aun?”

“Maka bagaimanakah keadaan umat-umat terdahulu?’ Musa menjawab, pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kisah. Tuhan kami tidak salah dan tidak lupa, (Q, 20; 51-2)

“Coba, tentang Abdul Malik Ibn Marwan?”

“Demi Allah, kesalahannya memenuhi bumi dan langit!”

Lho. Mengapa?”

“Ia mengangkatmu sebagai penguasa. Dan kamu memerintah lalim dan aniaya terhadap harta dan jiwa kaum muslimin.”

Menurut Sha’sha’ah, ketika itu juga Hajjaj memerintahkan algojonya memenggal  Badui edan itu. Si Badui tampak menggerak-gerakkan bibirnya. Algojo grogi, entah bagaimana, pedang meleset, dan secepat kilat Badui itu mengambil langkah seribu.

Sumber: Abul Qasim al-Hasan ibn Muhammad ibn Habib al-Naisaburi, Uqala’ al-Majanin (t.t.)

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda