Aktualita

Pilpres 2019 dan Indonesia yang Hanif

“Apakah kamu tahu arti kata Hanifan Yudani Kusumah” tanya seorang kawan mengagetkan saya.

“Wah, saya tidak tahu…” jawab saya sekenanya, “yang saya tahu itu nama pemuda, yang di saat pertandingan silat Asian Games beberapa waktu lalu, memeluk secara bersamaan Joko Widodo dan Prabowo Subianto dalam balutan bendera merah putih. Peristiwa yang sempat beberapa saat menjadi pusat pembicaraan banyak kalangan, terutama di sosial media”

“Yang saya tanyakan: menurutmu apa kira-kira arti namanya?”

“Wah, kalau soal itu, saya sungguh-sungguh tidak tahu…”

“Bagi saya, kecuali peristiwanya, nama itu menjadi penting. Karena bagi saya ini bukan sekedar peristiwa, tapi sebuah pertanda, sebuah pesan, sebuah ayat yang sedang dipertunjukkan pada kita…” jelasnya mencoba meyakinkan saya.

Saya tidak terlampau kaget dengan penjelasannya ini. Diantara sekian banyak kawan, dialah satu-satunya yang nalarnya sering saya anggap tidak umum. Sering melompat jauh dengan alur yang meski runtut, tapi terasa asing bagi kami yang biasa berpikir dengan nalar bumi. Kawan-kawan kadang menjulukinya sebagai manusia amtsal, atau kadang ada juga yang menjulukinya sebagai pembaca langit, tapi kadang ada juga yang iseng menjulukinya sebagai manusia klenik.

Hanifan itu artinya lurus. Itu bentuk jamak dari kata hanif yang artinya cenderung. Secara umum hanifan itu artinya orang yang selalu cenderung memilih untuk bertindak lurus pada Allah, tidak terikat pada apapun selain kepada Allah,” begitu jelasnya.

“Yudani itu sangat mungkin diambil dari kata yuda. Dalam bahasa Jawa dan Sunda, kata ini diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya peperangan. Yudani bisa dimaknai peperangannya, atau menjadi seperti peperangan. Sementara kusuma, artinya bunga, atau bisa juga berarti berbudi luhur.”

“Kalau kita gabungkan, artinya bisa berbunyi begini: Orang yang lurus, yang tak terikat pada apapun kecuali Allah, yang mampu berbudi luhur dan menjadi bunga di tengah kondisi yang seperti peperangan…”

“Lho, jangan terlalu jauh tho, kita kan tidak di tengah peperangan? Nanti kamu malah kena semprit, kayak orang-orang yang dibilang menggunakan ayat peperangan di masa damai lho. Bisa celaka kamu…” potong saya.

“Saya kan cuma menafsirkan namanya…” jawabnya ringan, “dan itu baru satu bagian saja dari keseluruhan yang ingin saya bicarakan..” sambungnya.

“Bisa jadi Jokowi dan Prabowo memang tidak merasa sedang berperang, tapi sekedar berlomba atau bersaing untuk merebut kursi Presiden 2019-2024. Tapi mereka kan tidak sendirian. Ada pemain-pemain di ring satu dengan kepentingan masing-masing, ada partai dengan kader-kadernya yang punya perhitungan sendiri-sendiri, ada relawan-relawan dengan pamrih-pamrihnya, juga ada buzzer-buzzer yang memang cari uang lewat kontestasi ini. Ada kelompok atau organisasi yang berhitung: kalau sini yang menang akan untung, kalau sana yang menang bisa agak buntung. Kemudian juga ada barisan hore yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang gambar besar permainan, tapi berhasil tercuci otaknya untuk berpihak pada salah satu barisan. Selain itu ada juga konsultan-konsultan politik, yang bekerja untuk mengelola dan ‘menggoreng’ isu apa saja demi pembayarnya. Ada pula pasukan survey yang tugas utamanya ‘mengacaukan pasar’. Ada juga jaringan pengusaha besar, yang meski sering bermain di dua kaki, tapi hampir selalu punya satu pihak yang lebih dijagokan.

Dan hampir dalam setiap kontestasi manapun, selalu ada kelompok lain lagi, yang sebenarnya tidak berafiliasi kepada salah satu kelompok yang sedang bersaing, tapi bekerja melempar api agar masing-masing kelompok yang sedang bersaing bertubrukan dan saling menghancurkan satu sama lain, tujuannya jelas: agar mereka semua bisa dikuasai. Belum lagi kalau kita bicara tentang kekuatan luar, yang bisa bekerja dari sekian lini yang ada…”

“Wah, mulai lagi…” keluh saya.

“Mulai apa? Ini kenyataan kok…lewat merekalah semua situasi ini berasal, digelontorkan, dikelola dan diarahkan…”

 Saya sungguh-sungguh agak mengeluh, karena jauh-jauh hari, kawan ini sudah pernah membuat analisa-analisa aneh tentang kondisi yang sedang dan akan yang dihadapi Indonesia. Analisa-analisa yang suka tak suka, harus saya akui semakin kesini semakin terlihat jejaknya di dalam kenyataan. Pembelahan masyarakat yang semakin mengeras dan kentara menjadi dua kubu yang saling berhadapan, adalah salah satu yang pernah ‘diramal’kannya.

Pembelahan yang menurut kawan saya tadi dituntun oleh narasi-narasi kosong, oleh ilusi yang dirancang untuk membuat orang abai terhadap masalah nyata yang dihadapi Indonesia; tapi menimbulkan fanatisme yang luar biasa, dan bahkan cenderung berbahaya.

Narasi dan ilusi tentang Suriah-isasi Indonesia, tentang kelompok radikal, kelompok salafi wahabi, para pengusung khilafah yang akan meng-khalifah-kan Indonesia di satu sisi; dan tentang China-isasi, kelompok komunis, kelompok syi’ah, kalangan liberal yang akan ‘menjajah’ Indonesia di sisi lain; membuat masing-masing pendukung tercuci otaknya dan terpancing untuk siap ‘berjihad asghar’ menjaga NKRI.

Padahal ini semua hanyalah narasi-narasi yang sengaja dikapitalisasi demi kontestasi kekuasaan saat ini, dan sama sekali tak berkait paut dengan hidup-matinya NKRI atau damai sejahteranya rakyat. Justru, kalau bangsa dibelah dan dibenturkan, NKRI-lah yang pertama-tama akan terancam kehargamatiannya, dan damai sejahteranya rakyat makin jauh panggang dari api.

“Nah, dalam situasi semacam ini, apa yang dilakukan oleh Hanifan Yudani Kusumah beberapa waktu lalu itu, pada dasarnya mewakili situasi batin mayoritas rakyat Indonesia,” jelas kawan saya.

Saya termangu. Ngungun di tengah pertanyaan-pertanyaan yang mengerubungi otak. Di dalam banyak pertemuan dengan beragam masyarakat, saya temukan kenyataan: mayoritas rakyat memang sudah amat sangat jenuh dan gerah terhadap ‘pertarungan’ kekuasaan kali ini. Mereka bukan tak mau memilih, tapi mereka hanya ingin memilih Indonesia yang aman, damai dan tak terpecah belah.

“Jadi, kalau tetap saja ada yang mencoba meneruskan pembelahan setelah gegap gempita pemilihan usai, maka sejatinya mereka sedang membuka front dengan rakyat yang hanif, yang tak lagi punya pembela kecuali Allah,” tegasnya.

“Dan dalam situasi macam ini, Allah sendiri yang akan turun tangan…”

*Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Mulia Indonesia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda