Cakrawala

Mahkota Segala Raja, dari Aceh Turun ke Jawa

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Salah satu ajaran yang mendapat tempat penting di kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara adalah tasawuf. Di kawasan ini Islam memang berkembang secara damai.

Sesungguhnya dunia ini fana
Dunia ini tidaklah kekal
Sesungguhnya dunia ini ibarat sarang
Yang ditenun laba-laba
Memadailah buat engkau dunia ini
Hai orang yang mencari makan
Dan umur hanyalah singkat sahaja
Semuanya akan menuju kematian

Syair gubahan Ali bin Abi Thalib r.a. itu terdapat di bagian belakang nisan Sultan Malik al-Saleh. Penguasa Kerajaan Pasai ini wafat pada tahun 696 H atau 1297 M. Sebelum memeluk Islam ia  bernama Meurah Sila. Tidak diketahui kapan dia  menjadi muslim,  dan hanya tarikh wafatnya itulah yang diketahui. Pada bagian depan nisan kepala Baginda memang terdapat inskripsi dalam bahasa Arab, yang terjemahannya: “Kubur ini kepunyaan hamba yang dihormati, yang diampuni, yang takwa, yang menjadi penasihat, yang terkenal, yang berketurunan, yang mulia, yang kuat beribadah, sang penakluk, yang bergelar Sultan Malik al-Saleh”. Di samping kanan nisan itu terdapat tulisan, dalam bahasa Arab, yang berarti: “Yang berpindah (mangkat) pada bulan Ramadhan tahun 696 daripada berpindahnya Nabi.”

Seperti diungkap sejarawan Teuku  Ibrahim Alfian, puisi karangan menantu Nabi tersebut 150 tahun kemudian menyeberang Selat Malaka dan dipahat orang pada nisan Sultan Malaka Manshur Syah bin Muzaffar Syah yang wafat tahun 1477, dan diamalkan pula 35 tahun kemudian pada nisan Sultan Pahang ke-3 yaitu  Sultan Abdul Jamil, yang mangkat tahun 1511 atau 1512.

Kerajaan Pasai atau yang kemudian juga dinamakan Samudera Pasai, jejak-jejaknya ditemukan di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara. Sesudah Meurah Silu memeluk Islam, agama ini pun tumbuh subur di Pasai. Salah satu ajaran yang mendapat tempat penting di sini adalah tasawuf. Sejarah Melayu atau Kitab Sulalatussalatin (edisi Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi) menceritakan bahwa di Tanah Arab ada seorang alim bernama Maulana Abu Bakar, yang sangat paham akan ilmu tasawuf. Ia mengarang Durr al-Manzum dan mengajarkan isinya. Salah satu muridnya adalah Sultan Malaka Mansyur Syah. Sultan sangat memuliakan Maulana. Dia pun mengirimkan kitab ini ke Pasai untuk diberi arti atau diterjemahkan. Sultan Pasai membebankan tugas ini kepada seorang alim bernama Makhdum Patakan. Sesudah diberi arti kitab itu dikirim kembali ke Malaka. Mansyur Syah amat suka cita, dan menunjukkan kitab yang sudah diberi arti itu ke Maulana Abu Bakar. Sang guru juga merasa puas atas terjemahan Makhdum Patakan itu. Fakta ini, kata  Ibrahim Alfian, menunjukkan betapa majunya bahasa Melayu yang disebut bahasa Jawi itu di Kerajaan Samudra Pasai, sehingga mampu menerjemahkan kitab tasawuf seperti Durr al-Manzum. Di samping orang datang berguru ke Pasai, ada pula di antara ulama di sana, seperti diceritakan Hikayat Pattani, yang meninggalkan negerinya pergi ke Thailand selatan itu untuk mengembangkan agama Islam.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar bahasa dan kesusastraan Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur (1972), Syed Muhammad Naquib Al-Attas menyatakan bahwa Pasai merupakan pusat pengkajian Islam yang tertua di Nusantara,  dan dari situlah segala pengaruhnya menyoroti ke seluruh pelosok kepulauan Melayu-Indonesia.

Ketika Kerajaan Pasai ditaklukkan oleh Kerajaan Aceh pada tahun 1524, kebudayaan Melayu- Pasai berpindah ke Bandar Aceh Darussalam, ibu kota Kerajaan Aceh. Di pusat kebudayaan baru ini sangat banyak dihasilkan pula karya-karya tulis, dalam bahasa Melayu maupun Arab. Salah satunya yang terkenal adalah Kitab Tajussalatin atau “Mahkota Segala Raja” yang dikarang oleh Bukhari al-Jauhari pada tahun 1603. Kitab ini kemudian menjadi pegangan penting raja-raja di Nusantara, sampai-sampai raja-raja Mataram Islam merasa perlu menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa. Dan jadilah kitab ini dengan judul Serat Tajussalatin.

Sumber: S.M.N. Al-Attas, Ilam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (1977); Teuku Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah (1999)

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda