Tasawuf

Rahasia dari Rahasianya Tuhan

Nasib manusia berharta, berilmu dan berjuang di jalan Allah tanpa keikhlasan (foto ilustrasi : Grant Ritchie/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Nasib orang-orang berilmu, berharta dan berjihad di jalan Allah yang tanpa disertai keikhlasan.

Seseorang bertanya kepada Rasulullah, apakah ikhlas itu?Beliau menjawab: ‘Aku bertanya kepada Jibril a.s. tentang ikhlas, ‘Apakah gerangan dia?’ Jibril menjawab,‘Aku bertanya kepada Rabbul Izzah tentang ikhlas, ‘Gerangan apakah ia?’ Allah menjawab, ‘Suatu rahasia dari rahasiaku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai. (H.r. Al-Quzwini).

Pada hari kiamat  nanti, ada tiga golongan manusia yang mula-mula dikenai pertanyaan. Pertama adalah orang-orang yang dianugerahi Allah ilmu pengetahuan. Allah bertanya:

“Apakah yang sudah engkau perbuat dengan ilmumu itu?”

“Saya bangun tengah malam (sembahyang), dan berjaga di siang hari (menyiarkannya kepada orang yang perlu menerimanya).

“Kamu dusta,”  kata Tuhan.

Malaikat-malaikat juga serempak berkata: “Kamu memang dusta! Kamu ’kan hanya ingin disebut sebagai orang alim. Tuhan, memang demikian kata orang tentang dirinya.”

Berikutnya adalah orang-orang yang diberi Allah harta benda. Allah bertanya:

“Kamu telah Kuberi nikmat, apa yang kamu perbuat dengan nikmat-Ku itu?”

“Harta benda itu kami sedekahkan pada siang dan malam hari.”

“Bohong kamu!”  kata Allah.

Malaikat-malaikat pun berkata pula: “Kamu memang bohong. Kamu berbuat begitu hanya supaya kamu dikatakan orang yang dermawan. Tuhan, memang demikian yang dikatakan orang tentang dirinya.”

Terakhir adalah orang-orang yang terbunuh dalam perang mempertahankan agama Allah. Tuhan bertanya kepadanya:

“Apakah yang telah kamu kerjakan?”

“Berjihad di jalan-Mu. Hamba pergi hamba ke medan perang, dan mati terbunuh. “

“Kamu dusta!”  kata Allah

Malaikat-malaikat pun serempak berkata pula: “Benar, kamu dusta. Kamu hanya ingin disebut orang-orang yang gagah berani. Memang demikianlah perkataan orang terhadap dirinya.”

Setelah berkata demikian, Nabi s.a.w.  bersabda: “Hai Abu Hurairah (yang meriwayatkan hadis ini), mereka itulah yang mula-mula sekali akan merasakan api neraka jahanam di hari kiamat.”

Itulah kelak nasib orang-orang yang beramal tanpa disertai keikhlasan. Ibarat emas, demikian Buya Hamka, ikhlas adalah emas tulen, yang bebas dari campuran logam lain, perak misalnya. Pekerjaan yang bersih terhadap sesuatu, bernama ikhlas. Misalnya seseorang mengerjakan sesuatu, semata-mata karena mengharapkan pujian dari majikannya, maka ikhlas amalnya itu kepada majikannya,  atau ia bekerja mencari harta dari pagi sampai sore, karena semata-mata memikirkan perutnya sendiri, maka ikhlasnya itu kepada perutnya.

Lawan kata ikhlas adalah isyrak, artinya berserikat atau bercampur dengan yang lain. Antara ikhlas dan isyrak tidak dapat dipertemukan, seperti misalnya, tidak dapat dipertemukan antara gerak dan diam. Kalau ikhlas sudah terpateri dalam hati, isyrak tidak kuasa masuk, kecuali bila ikhlas telah terbongkar keluar. Demikian juga sebaliknya, keluar dari segala perasaan isyrak dahulu, baru ada tempat buat ikhlas.

Ikhlas juga tidak dapat dipisahkan dengan shiddiq (benar). Lurus, benar niat dan sengaja, karena Allah semata, tidak mendustai diri dengan perkataan “karena Allah”, padahal di  dalam mengharapkan pujian manusia, agar termasyhur dan lain-lain. Orang yang mulutnya mengaku benar, tetapi hatinya berdusta, masuk jugalah ia dalam golongan pendusta. Demikian Hamka dalam Tasauf Moderen. “Tiga perkara yang tidak akan membelenggu hati seorang Muslim: “Ikhlas beramal semata hanya bagi Allah, memberikan nasihat yang tulus kepada penguasa, dan tetap berkumpul dengan kaum muslimin.” (H.r. Ahmad)

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda