Mutiara

Kultus Kemegahan Para Penguasa

Raja dalam kultus kemegahan dan kemewahan (ilustrasi foto : Pexels/Pixabay)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Raja  membangun kewibawaan melalui ‘kultus kemegahan”, yaitu keunggulan spiritual dan keunggulan material. Bagaimana dengan raja-raja kecil yang belakangan muncul di daerah-daerah?

Paku Buwono  IX (1861-1895) ditinggal mangkat permasuri. Bukan cuma hatinya yang remuk, tapi juga “dingin terasa menusuk hati mereka, seluruh kerajaan diliputi kesedihan,” tulisnya dalam “Gandrung Turida”, bagian dari karyanya Serat Wara Isywara. Raja Jawa yang satu ini memang dikenal sebagai penggubah piwulang – bentuk karangan dalam puisi, tapi bukan cerita pendek atau kisah, meski di dalamnya terdapat tokoh-tokoh dan peristiwa, dan biasa ditembangkan dalam pertemuan kekeluargaan. Isinya ajaran moral; ada yang untuk orang muda, untuk wanita, prajurit, dan seterusnya.

Tapi sebagaimana kegundahan Raja terpantul dalam jagat yang pedih, kebajikannya juga meresap ke seluruh kerajaan. Dalam “Wulang Rajaputra” Paku Buwono menulis: “Rahmat Tuhan bersemayam di hati (raja),dari sini ia melimpah, mengalir ke seluruh negeri, yang bila sungguh kasih terhadap-Nya (Tuhan),akan berada di bawah naungan perlindungan raja. Rakyat biasa, dina, semuanya penuh keinginan mengerjakan sawah ladangnya untuk mencegah kekurangan pangan. Demikian rahmat raja…..”

Orang Jawa, menurut Soemarsaid Moertono (1985), percaya bahwa rajalah satu-satunya yang menghubungkan mikrokosmos manusia dengan makrokosmos para  dewa. “Bila orang berani menentang raja, nasib malang akan menimpanya, karena raja adalah warana (wakil) Allah,” kata Pangeran Puger (kemudian menjadi Paku Buwono I) ketika Pangeran Cakraningrat mendesaknya agar menentang kemenakannya yang yang angkuh, Raja Amangkurat III (1703-1708).  Karena itu keputusan raja adalah kehendak Tuhan. Dia berada di  tampuk masyarakat, tetapi jauh di atas jangkauan rakyat biasa.  Pandangan inilah yang kemudian melahirkan gagasan tentang raja sebagai kekuasaan politik yang tidak aktif alias ratu pinandhito (raja pendeta, tetapi pengaruhnya terus memancar dan meresapi seluruh kerajaan. Ini pula kiranya yang pernah menjadi niatan Presiden Soeharta dengan ujarannya yang terkenal, lengser keprabon madeg pandhito, sebelum akhirnya dipaksa turun oleh kekuatan Reformasi Mei 1998. Bagaimana dengan para mantan presiden yang lain?

Maka, untuk kebesaran sang raja, harus ada usaha-usaha yang teratur buat meningkatkan kewibawaannya. Dan “kultus kemegahan”, menurut Soemarsaid, merupakan cara terpenting. Ada dua sarana untuk itu; keunggulan spiritual dan keunggulan material. Atau, kesempurnaan batin dan kelimpahan harta.  Yang pertama berupa jasa di bidang keagamaan, misalnya pembangunan rumah-rumah ibadah yang indah. Kesempurnaan batin juga bisa diperlihatkan melalui perbuatan yang konon tidak bisa dilakukan manusia biasa, atau intensitas ibadah. Termasuk dalam sarana nonmateri adalah persekutuan dengan makhluk halus. Seperti dengan Nyai Roro Kidul yang menghuni Samudra Hindia, yang ditakuti orang Jawa karena suka memakan korban manusia. Bagi orang Jawa, untuk menundukkan si Nyai tidak ada cara lain kecuali mengawininya. Penguasa  Laut Selatan ini diimajinasikan oleh Bung Karno melalui sebuah lukisan Basuki Abdullah, yang kini menjadi koleksi Istana Kepresidenan.

Bagaimana dengan sarana materiil? Di sini kekayaan raja mencakup jumlah rakyat, anggota keluarga, angkatan bersenjata, dan harta benda. Banyak rakyat berarti pemilikan banyak orang oleh sang raja untuk menggali kekayaan bumi dan membentuk tentara. Banyak sanak berarti lebih banyak dukungan. Selain personel tentara yang diambil melalui kerigan (pengerahan umum), raja punya pasukan khusus, terdiri atas mereka yang mempunyai kedigdayan, yang antara lain mampu memecahkan batok kepala kerbau yang mengamuk dengan tangan kosong.

Terakhir adalah harta benda. Yang mereka bayangkan adalah sebuah lingkungan kahyangan. Ki Dalang meluiskan kemegahan itu tatakala sang raja berkenan keluar sinewaka, diiringi dayang-dayang remaja yang membawa upacara (alat-alat kebesaran raja): “…. Semarak keharuman baginda mewangi hingga jauh melampaui pangurakan (gerbang di ujung alun-alun). Lenyap ciri-ciri manusiawinya dan tampak ia bagaikan Batara Sambu, dikelilingi bidadari ang tak terbilang banyaknya.” Dan di halaman dalam istana, masih kata Ki Dalang, menurut Soemarsaid, “Sebagai kerikil untuk menutupi halaman, digunakan batu nila dan pakaja (batu-batuan setengah permata), dan bila tersibak mungil para dayang yang lewat, batu-batu itu bersinar bagaikan bintang-ziarah.”

Di zaman sekarang  raja-raja kecil di antero Nusantara, yang naik tahta melalui demokrasi elektoral, tentu memiliki “kultus kemegahan”-nya sendiri yang bentuk-bentuknya disesuaikan dengan perkembangan zaman. Kesempurnaan batin bisa diekpresikan ke dalam simbol-simbol kesalehan personal dan pembangunan sarana ibadah dan rumah-rumah yatim piatu da seterusnya. Sedangkan kelimpahan harta bisa dilihat dari cara mereka memelihara dan melanggengkan kekuasaan melalui istri, anak, yang tentu memerlukan ongkos yang mahal, di samping aset mereka yang berkembang pesat setelah berkuasa.  

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda