Cakrawala

Balita Muhammad dalam Asuhan Badui

Ilustrasi badui dan keluarga menggembala ternak di padang pasing (foto : Yaeluri/Pixabay)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Diasuh di tengah gurun pasir, dengan adat yang bersih dan murni, merupakan bekal bagus bagi bocah yang yatim ini.  Konon peristiwa mukjizawi terjadi di sana.

Sejak mengambil bayi itu, Ibu Halimah merasa mendapat berkah. Kambing ternaknya gemuk-gemuk. Air susu di tubuhnya sendiri meruah. “Tuhan telah memberkati semua yang ada pada kami,” kata perempuan miskin dari pedalaman Mekah ini.

Awalnya sebenarnya Halimah menolak, seperti juga ibu-ibu dari kabilah Bani Sa’d umumnya, yang tidak hirau kepada bayi yatim. Bayi yang tak punya bapak tidak akan mendatangkan upah banyak. Tapi sampai hari kepulangannya ke kampung, belum juga dia dapat order di Kota Mekah itu. Para bangsawan sendiri rupanya enggan kepada Halimah sebagai calon ibu susuan: kurus, kerempeng, pasti air susunya minim adanya. Yah, daripada pulang dengan tangan hampa, baiklah diterima saja Muhammad itu. Kepada suaminya, Harits ibn Abdil Uzza, Halimah bilang : “Tak senang aku pulang bersama temanku tanpa bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan kubawa.”

“Baiklah,” jawab suaminya. “Mudah-mudahan karena itu Tuhan memberi berkah.”

Anak penyebab berkah itu, tak syak lagi, adalah Muhammad putra Abdullah almarhum, kelahiran 12 Rabi’ul Awwal Tahun Gajah. Kakeknya, Abdul Muththalib, yang memberi nama, sebetulnya agak menyimpang dari kebiasaan masyarakatnya yang biasa memberi nama nenek-moyang. Ini sempat dipertanyakan oleh para pemuka Quraisy ketika ia mengadakan jamuan di hari ketujuh kelahiran cucunya. “Aku ingin dia menjadi anak yang sangat terpuji (arti muhammad) oleh Tuhan di langit dan makhluk-Nya di bumi,” jawab Abdul Muththalib. 

Lima tahun Muhammad berada di tengah Bani Sa’d di padang Sahara, bebas dari ikatan materi. Pada periode inilah muncul cerita sebagaimana juga sering dikisahkan dalam acara maulud. Yakni, ketika bocah Muhammad sedang bermain bersama saudara sebayanya di belakang rumah, tiba-tiba anak itu lari, melaporkan kepada orangtuanya: “Saudaraku Quraisyi itu diambil dua laki-laki berbaju putih. Dibaringkan, perutnya dibelah.” Halimah, seperti dituturkannya, bersama suaminya kemudian pergi ke lokasi. “Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya pucat. Lalu kami tanyakan, ‘Kenapa kamu, Nak’? Dia menjawab, ‘Aku didatangi dua orang, pakaiannya putih. Aku dibaringkan perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu. Aku tidak tahu’.” Halimah dan suaminya ketakutan, jangan-jangan bocah ini kesurupan. Lalu mereka membawa kembali Muhammad ke Mekah.

Ibn Ishaq, penulis Sirah Nabawiyah, yang mencoba merekonstruksi peristiwa itu, terkesan hati-hati. Dia mengatakan, sebab dikembalikannya Muhammad sebenarnya bukan lantaran kedatangan dua malaikat itu. Melainkan, sebagaimana cerita Halimah kepada Aminah, ibunda Nabi, ada beberapa orang nasrani Abessinia memperhatikan bocah yang baru disapih itu, bertanya-tanya, malah memeriksa punggungnya. Lalu, kata mereka, “Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami. Dia ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang paling tahu keadaannya.” Halimah cepat membawanya menghindar.

Menurut Haekal, penulis Hayatu Muhammad, baik kalangan orientalis maupun sebagian muslimin sendiri tidak puas mengenai cerita kedua malaikat itu. Mereka menganggap sumbernya sangat lemah, sebab yang melihat kedua “laki-laki berpakaian putih” itu hanya bocah yang baru dua tahun lebih sedikit, sebanding dengan usia Muhammad  sendiri.

Betapapun, masa lima tahun di tengah Bani Sa’d memberi kenangan yang indah dan kekal di  dalam jiwa. Dari kabilah ini Nabi belajar menggunakan bahasa Arab yang murni, sehingga, seperti beliau katakan kepada para sahabat kemudian, “Aku yang paling fasih di antara kalian. Aku dari keluarga Quraisy, tapi diasuh di tengah keluarga Bani Sa’d ibn Bakr.” Lebih dari itu, beliau mendapat sebuah lingkungan yang bagus.

Soalnya, menurut Ibn Khaldun (Muqaddamah),  orang-orang Badui hidup hanya menurut kebutuhan — dalam hal pangan, sandang, papan, dan seluruh kebiasaan. Mereka membuat kemah dari bulu binatang dan wol, atau rumah dari kayu, lempung, atau batu—-tidak berhias, sekadar tempat bernaung, tak lebih. Itu sangat kontras dengan orang kota yang suka hidup enak, banyak berurusan dengan hal-hal duniawi, dan mengikuti hawa nafsu. “Jiwa mereka telah dikotori oleh pelbagai  macam akhlak tercela dan kejahatan. Jalan menuju kebaikan sudah jauh dari mereka.”

Benar, orang pedalaman juga berurusan dengan dunia. Tapi, kata Ibn Khaldun, mereka masih dalam lingkup kebutuhan, bukan kemewahan. Karena itu, jalan kejahatan dan sifat buruk mereka jauh lebih sedikit. Orang Badui lebih mudah menjadi baik. Jiwa, menurut fitrahnya, siap menerima kebajikan maupun kejahatan yang datang, kata Ibn Khaldun. Dan orang Badui kurang-lebih masih tinggal dalam fitrah itu. Ia mengutip sabda Nabi, “Setiap bayi dilahirkan menurut fitrah. Orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.” Dalam terminologi agama ini, kata fitrah menunjuk kepada Islam.

Sumber: Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad (1980), Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah (1988)   

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda