Bintang Zaman Salman Al Farisi

Salman Al Farisi : Dari Mana Datangnya Parit? (bagian 2)

Sudut masjid di Isfahan Iran, tempat kelahiran Salman Al Farisi (foto : Wikimedia)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Kali ini kau takkan lari ke mana pun. Sekali libas, Muhammad, lumatlah kau bersama pengikutmu. Berapa prajuritmu? Tiga ribu orang. Kami datang dengan 10.000 prajurit. Masih ada lagi tentara Bani Ghathtan yang membantu penyerangan. Tamatlah riwayatmu dan agamamu.

Keyakinan tentara Quraisy Mekah memang sangat kuat. Sebuah serangan besar-besaran dan menentukan akan mereka lancarkan pada tahun kelima hijriah. Al- Quran menyebut mereka Al-Ahzab atau tentara gabungan karena pasukan mereka berasal dari berbagai suku: Quraisy dan lain-lain. Ini berkat hasutan Huyai ibn Akhthab bersama tokoh-tokoh Bani Nadhir lainnya yang menaruh dendam setelah pasukan mereka berhasil ditumpas tentara Nabi.

Salah kamu sendiri, Bani Nadhir. Mengapa kamu hendak menohok kaum muslimin dari belakang dan melanggar perjanjian. Huyai juga berhasil membujuk Bani Ghathtan dengan iming-iming harta: separuh kurma dari kebun Khaibar akan diberikan kepada mereka selama setahun.

Sepuluh ribu prajurit, sungguh bukan jumlah yang kecil, apalagi dibanding tentara Nabi yang hanya 3.000 orang. Kepanikan sempat merambat di hati kaum muslimin, seperti dilukiskan Al-Quran. “Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu (dari atas dan dari bawah lembah) dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan kepada Allah” (Q.S. 33: 10). Tentara Ahzab datang dari luar kota yang lebih rendah dari Madinah sehingga seakan-akan dari bawah lembah, sedangkan tentara Bani Ghathtan dari dataran yang lebih tinggi sehingga seakan-akan dari atas lembah. Mereka lalu bergabung di Uhud dan merasa heran karena tidak mendapati tentara muslim seperti pada Perang Uhud dulu.

Peta perang Khandaq, garis sejajar putus-putus itu adalah letak parit yang digali

Akan halnya Nabi, begitu mendengar rencana penyerangan, segera beliau mengajak musyawarah para sahabat, seperti biasa. Bagaimana menghadapi pasukan sebesar itu dengan pasukan kecil yang bahkan kurang dari sepertiganya? Menyongsong mereka di Uhud atau menunggu mereka di Yatsrib (Madinah)? Berbagai ide bermunculan. Ada satu ide yang sangat berkesan di hati Nabi. Itulah ide Salman Al-Farisi, yang baru saja memerdekakan diri dari tangan majikan Yahudi. “Kami dulu kalau sedang khawatir (kalah) biasa menggali parit,” katanya.

Menggali parit? Para sahabat merasa asing. Bukankah itu bisa jadi pertanda bahwa mereka pengecut, tak berani berhadapan langsung dengan musuh?Memang, strategi perang itu tidak dikenal di kalangan bangsa Arab, bangsa pemberani yang biasa berperang secara berhadap-hadapan, tetapi di Persi sudah biasa dipakai.Nabi tak peduli dengan segala sangkaan orang nanti. Perang adalah (adu) siasat, adu otak, dan tidak hanya adu otot. Seperti dalam Perang Uhud, beliau sudah menerapkan strategi yang tepat, dengan menempatkan pasukan pemanah di atas bukit (dan hanya dengan 50 pemanah itu, pasukan musuh yang besar dibuat kocar-kacir).

Penggalian pun segera dilakukan secara maraton. Parit yang kelak berbentuk sedikit melengkung seperti anak panah itu membentang dari daerah pegunungan (harrah) di timur (sekarang di atasnya berdiri Benteng Syaikhan) hingga pegunungan di barat (sekarang dekat dengan Masjid Qiblatain), sepanjang 2.725 meter, lebar 40 dzira’ (1 dzira’ sekitar 65 cm.), dengan kedalaman 10 dzira’. Rasulullah membagi-bagi sahabat: setiap 10 orang menggali 40 dzira’ dengan kapak, cangkul, dan alat-alat lainnya, yang sebagian dipinjam dari orang-orang Yahudi Bani Quraizhah (sebelum terlibat persekongkolan). Beliau sendiri tak cuma mengomando, tetapi juga ikut mencangkul.

Kita tahu, tanah Madinah penuh berbatuan sehingga mereka tak cuma mencangkul tanah, tetapi juga tak jarang harus mengampak batu. Ada batu besar yang menonjol dan sulit dijinakkan. Salman pun, yang memiliki perawakan tinggi besar dan bertenaga kuat, tak sanggup menghancurkannya. Tembilang para sahabat malah jadi korban, rusak sendiri. Akhirnya Rasulullah turun tangan setelah dilapori Salman. “Mana tembilangmu,” kata beliau. Dihantamkannya tembilang itu dan membubunglah percikan api menerangi sekitarnya. “Allahu Akbar!” pekik beliau, disambut para sahabat. Api kembali memercik pada hantaman kedua, tetapi batu belum hancur. “Allahu Akbar!” Baru pada hantaman ketiga batu itu hancur.

“Allahu Akbar!” Lantas kata beliau, percikan api yang membubung ke ufuk itu merupakan pertanda bahwa umat Islam akan menguasai Persi dan Romawi serta menerangi Siria dan Shanaa’ (Yaman). Begitulah, pekerjaan membuat parit dapat dirampungkan dalam waktu enam hari.

Akan halnya,tentara Ahzab dan Ghathfan, begitu mereka tidak mendapati pasukan muslimin di Uhud, segera bergerak ke selatan. Alangkah kagetnya mereka ketika langkahnya terhalang “jurang”. Begitu dalam dan lebar sehingga tak mungkin mereka menyeberangi tanpa lebih dulu disambut pasukan pemanah yang siaga di seberang. Sebuah taktik yang sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiran mereka. “Pengecut!” mereka mengumpat. “Dari mana Muhammad mendapat siasat seperti ini? Sungguh ini siasat yang tak dikenal bangsa Arab sebelumnya,” kata mereka.

Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melepas anak panah yang kemudian dibalas dengan serangan serupa oleh tentara Islam. Memang ada beberapa orang Islam yang terluka oleh panah, tetapi serangan itu tidak cukup efektif. Sesekali ada satu orang yang nekad, berhasil melompati parit, yang kebetulan lepas dari pengawasan tentara muslim. Dialah Amr ibn Abdi Wudd Al-Amiri. Namun akhirnya lelaki tinggi besar yang dikenal tangkas ini dirobohkan oleh Ali ibn Abi Thalib, yang kecil dan belasan tahun, dalam satu duel yang “tak seimbang”.

Huyai tentu saja sangat gemas dengan keadaan itu. Bagaimana tidak, kehancuran umat Islam yang sudah diambang mata tiba-tiba lepas—-meski untuk sementara. Ia khawatir, bila keadaan terus berlangsung, tentara Quraisy akan bosan dan tak jadi menyerang. Ia dan kawan-kawan lantas membujuk Bani Quraizhah, suku Yahudi Madinah lainnya yang masih berpegang teguh pada perjanjian dengan Rasulullah. Cukup sulit pada awalnya, tetapi mempan juga akhirnya. Maka, diaturlah siasat. Tentara Quraisy dan Ghathfan, di bawah komando Abu Sufyan, menyerang Madinah dari luar, yakni posisi mereka sekarang, sedangkan Bani Quraizhah dari dalam kota.

Keadaan tegang itu terus berlangsung hingga sebulan, yang ditingkahi dengan teror sesekali oleh orang-orang Bani Quraizhah. Ini masih diperparah lagi dengan embargo makanan oleh suku Yahudi sehingga kaum muslimin sangat mengenaskan: kekurangan sembako.Sebaliknya, di kalangan tentara Mekah sebenarnya mulai muncul kebosanan. Dipersiapkan secara mental dan perbekalan untuk penyerangan kilat sehari (sejak Perang Badr ), kini mereka harus berkemah demikian lama di tengah cuaca yang menusuk. Maklum, serangan dilakukan pada musim dingin.

Rasulullah sendiri tiap hari berdoa meminta pertolongan Allah: Senin, Selasa,, dan Rabu. Pada Kamis datanglah pertolongan itu. Tiba-tiba datang angin topan yang amat dahsyat, yang menjungkirbalikkan bejana makanan tentara Ahzab (padahal ransum mereka sangat terbatas), memporakporandakan kemah-kemah, dan menjungkalkan kuda-kuda mereka. Moral berperang pasukan musuh langsung merosot drastis, bahkan Abu Sufyan sendiri dilanda ketakutan. Ya,.dalam keadaan begini, bisa saja tiba-tiba musuh sudah ada di sampingnya. Siapa bisa mendeteksi? Mereka memilih mundur teratur kembali ke Mekah.

Padahal, seandainya terjadi penyerangan (dan Allah Mahatahu), di atas kertas tentara Islam akan lumat. Sebaliknya, kegagalan itu membawa hikmah yang besar di sisi kaum muslimin. ‘Tidak akan menyerang kalian orang-orang Quraisy setelah hari ini dan (inisiatif) penyerbuan adalah bagi kalian,” sabda Nabi. Itulah yang terjadi. Dengan demikian, jasa Salman Al-Farisi sebagai pencetus ide parit sangat besar.

Namun betulkah ide itu datang dari Salman Al- Farisi? Buku-buku sejarah, termasuk dalam Sejarah Hidup Muhammad karya Haekal, menyebut seperti itu. Tapi, J. Horovitz meragukan. Pasalnya, catatan-catatan awal mengenai “Yaumul Khandaq” (Perang Parit) tidak menyinggung sama sekali peranan Salman, suatu hal yang terlalu penting untuk diabaikan. Hadis-hadis pada bagian Salman Al-Farisi dari kitab Ath-Thabaqatul Kubra juga tak ada yang menyinggung peranan tersebut.

Pertanyaannya, kalau betul begitu, lalu ide siapa? Sebagai rasul, yang punya hubungan “hotline” dengan Allah, bisa saja Nabi meluncurkan ide itu. Namun sebagai manusia, tipis kemungkinan itu. Beliau kan tidak pernah berhubungan dengan Persi dan dalam menghadapi setiap peperangan Nabi selalu mengajak bermusyawarah. “Kalian lebih tahu mengenai urusan dunia kalian/’ sabda beliau. Se- ring beliau yang cerdas memunculkan siasat yang brilian, seperti halnya menempatkan pasukan pemanah dalam Perang Uhud, tetapi tak jarang pula beliau memakai ide orang lain. Beliau seorang pemimpin yang efektif.

Mungkin juga ada di antara sahabat yang pernah berhubungan dengan Persi dan mengenal taktik itu. Namun seharusnya bukan hanya para sahabat. Orang-orang Arab lain pun mestinya punya peluang sama untuk mengenal taktik tersebut. Toh, selain dalam Perang Khandaq, taktik yang sebenarnya tidak sejalan dengan jiwa berangasan orang Arab, yang sangat membanggakan keberanian dan otot, tidak pernah dipakai. Nyatanya pula tentara Quraisy tak sanggup mengantisipasinya. Jadi, kita hanya mereka-reka. Kita bisa saja menduga, mungkin Nabi atau salah seorang sahabat mencetuskannya sebagai ide brilian yang segar, yang tanpa preseden. Tapi kalau begini, mestinya Salman Al-Farisi memiliki peluang paling tinggi karena dia orang Persi (satu- satunya orang Persi di kalangan para sahabat). Apalagi dia adalah anak seorang tokoh penting (dihqan) di Persi meski hanya pada tingkat desa, yakni Desa Jai (atau Jayan) dekat Isfahan, Persi.

Hamid Ahmad dan Emat Suhimat

Artikel ini telah terbit di Majalah Panji Masyarakat No.17 tahun 2 12 Agustus 1998



Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda