Hamka

Ketika Hamka Memilih Jalan Berbeda dengan Sang Ayah

Lukisan Hamka karya serdadu Jepang (sumber : ensiklopedia Buya Hamka)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Buya Hamka dituduh menjual kehormatan gadis-gadis kepada Jepang. Apa yang dia bicarakan dengan Bung Karno? Bagaimana pula ia menangkis tuduhan keji itu?

Berbeda dengan ayahnya, H. Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul yang beroposisi terhadap pemerintah pendudukan Jepang, Hamka justru mengambil sikap sebaliknya. Konsul Muhammadiyah di Sumatera Timur itu memang sempat goyah, tapi setelah berkunjung ke Jawa dan berbicara dengan sejumlah pemimpin nasional, termasuk Bung Karno, Hamka seperti menemukan kembali pendiriannya, bahwa memang tidak ada pilihan lain kecuali bekerja sama dengan Jepang.Bahkan ia terus terang mengakui menginginkan sebuah jabatan tinggi keagamaan dalam lingkup pemerintahan pendudukan. 

Dalam memoarnya, Hamka mengungkapkan  pembicaraannya dengan Bung Karno, yang membuatnya mantap untuk kembali meneruskan  perjuangannya di Sumatera Timur.

“Tidak ada bayang-bayang sedikit juga bahwa Jepang akan memerdekakan kita.   Dia hanya meminta tenaga kita banyak-banyak, meminta Romusya, meminta  Heiho, meminta Gyu Gun, tapi dia tidak memberi,” kata Hamka San [kepada Soekarno].

“Dan kita berkorban lagi dan kita berkorban lagi!” [jawab Bung Karno]

 “Tetapi rakyat tidak tahan lagi menderita.”

“Kita tidak boleh berputus asa! Di dunia ini banyak soal-soal besar yang cepat berubah, di luar dari perkiraan kita. Kita tidak boleh putus asa! Pemimpin tidak  boleh putus asa”.

Hamka San membuka pula satu soal lain: “Lihatlah, kehormatan bangsa kita sudah dipermain-mainkannya oleh serdadu Jepang. Perempuan-perempuan yang telah dirusakkan kehormatannya. Gadis-gadis banyak yang jadi korban.”     

Beliau menjawab dengan tegas: ”Pemimpin mesti berjiwa besar. Pemimpin tidak   boleh melihat kerugian karena mencari keuntungan yang lebih besar.Untuk mengubah nasibnya, bangsa kita mesti menempuh kesengsaraan terlebih dahulu. Remuk hancur mana yang tidak tahan. Tetapi sejarah menyaring dan meninggalkan mana yang kuat. Itulah yang tinggal untuk melanjutkan cita-cita.”… Dengan itulah ia [Hamka] mendapat pendirian.

Menurut Hamka, untuk menghadapi perang, yang diharapkan pemerintah darinya sebagai ulama Islam yang revolusioner cuma lidahnya. “Tidak ada sebutir padi atau beras yang dapat dikeluarkan Hamka dari rakyat, sebab rakyat adalah di tangan raja-raja. Tidak ada anggota Muhammadiyah masuk Heiho atau Gyu Gun. Tidak seorang anak Nasyiyatul Aisyiyah yang dalam penjagaannya yang dibiarkan bekerja menjadi pelayan-pelayan di kantor-kantor. Raja-rajalah yang banyak kesanggupan memberi.”

Di kemudian hari, kerja samanya dengan pihak Jepang menimbulkan reaksi, bahkan dari kalangan Muhammadiyah sendiri. Hamka yang kaget mendapat laporan bahwa Jepang sudah menyerah dan Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya (dia mengira kemerdekaan itu akan diberikan Jepang  6-7 bulan lagi), Hamka pergi ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Ia baru kembali ke Medan 18 hari kemudian.

“Sayang Engku Haji tinggalkan kota Medan, di saat tidak boleh ditinggalkan,” kata MS Xarim kepada Hamka yang baru tiba di Medan. “Engku Haji dituduh orang “lari”! Sepeninggalan Engku Haji segala hinaan, makian dan cercaan bertimpa atas diri Engku Haji payah saya memperbaikinya.”

Dalam satu musyawarah Muhammadiyah, Hamka bercerita tentang perjalanannya ke Bukittinggi dan pertemuan-pertemuannya dengan para pemimpin-pemimpin  di Sumatera Barat. Dikatakannya pula, bahwa ia tidak jadi ke Jawa, melainkan kembali ke Medan karena ingin melanjutkan mempertahankan kemerdekaan. Kawan-kawannya mendengarkan omongannya itu  tapi, kata Hamka, dengan sikap yang dibuat-buat.

Setelah itu, Mohammad Yusuf Ahmad, sekretaris Muhammadiyah Sumatera Timur, yang dipersilakan berbicara membaca sebuah mosi. Isinya:

“Tidak percaya kepada kebijaksanaan  Hamka buat memimpin terus perserikatan Muhammadiyah di Sumatera Timur. Karena dia meninggalkan kewajibannya di saat perserikatan perlu benar akan pimpinannya. Oleh sebab itu, salah satu dari dua harus dipilihnya. Pertama dia meletakkan jabata sebagai Konsul Muhammadiyah. Dan pimpinan Muhammadiyah diteruskan oleh Majlis Pimpinan dengan ketua yang baru,  tidak memakai konsul. Dan kalau Tuan Hamka keberatan meletakkan jabatannya, maka Majlis Pimpinan semuanya akan meletakkan jabatannya dengan serentak.

Ketika  Hamka meninggalkan Medan, memang tersiar kabar tersiar kabar bahwa dia melarikan diri karena takut dibunuh rakyat yang murka kareba tudauhan ia adalah kaki tangan Jepang. Si Hamka itu menjual kehormatan gadis-gadis kepada Jepang. Bergoni-goni beras dikirim ke rumahnya. Romusha dikirim ke mana-mana Hamka yang anjurkan. Orang disuruhnya berbuka puasa hanya dengan kurma dan seteguk air! Padahal dia yang menganjurkan memberikan beras kepada Jepang, sehingga rakyat lapar.”

Hamka juga menerima surat kaleng, yang isinya memaki-maki, seperti “Juallah olehmu perawan bangsamu kepada Jepang!”. Sementara dari kalangan ulama ia juga mendapat tuduhan,mempermudah-mudah agama untuk kepentingan Jepang. Alhasil, seperti dikeluhkan Hamka, ke mana pun dia pergi, tempatnya tidak ada lagi. Ke Muhammadiyah telah dipencilkan. Ke kaum nasional, ia tidak dihitung. Ke istana Sultan pergi takziah,  tidak ada pula yang menegur. Menurut Hamka, suara-suara miring pada zaman revolusi itu keluar dari orang-orang yang tidak suka karena ia mendapat kedudukan tinggi pada zaman Jepang.

Caci-maki yang menyebut Hamka “menjual kehormatan gadis-gadis kepada Jepang”, menunjukkan bahwa perekrutan wanita untuk memenuhi kebutuhan seksual orang-orang Jepang, tampaknya sudah menjadi pengetahuan umum. Dan sebagai ulama yang bersedia bekerja sama dengan Jepang, meskipun hampir dipastikan ia tidak mungkin melakukan perbuatan jahat itu, mau tidak mau ia harus menerima kemarahan rakyat. Hal itu, boleh jadi karena Hamka San mungkin bersikap pasif terhadap  kekerasan seksual yang dilakukan oleh “saudara tua” itu. Meskipun, harus diakui bahwa Hamka pun pernah dengan perasaan yang hancur membicarakan itu dengan Bung Karno.

Sumber: Hamka, Kenang-kenangan Hidup Jilid III, (1974)   

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda