Cakrawala

Novel dan ‘Agama’ Lupa

Mudah lupa, jenis kesadaran manusia yang tak seharusnya diteruskan (ilustrasi : Alexas_Foto/Pixabay)
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Sungguh pahit untuk mengenang, betapa ‘lupa’ secara sadar telah diintegrasikan sebagai bagian penting kesadaran modern. Bahkan, sampai batas tertentu, ‘lupa’ tampaknya begitu diandalkan untuk menjaga kelangsungan peradaban ini.

Kecepatan perubahan tema dan topik informasi, tampaknya sangat membantu kita untuk cekatan memelihara ‘lupa’. Jelas, orang tak mungkin mengakses semua informasi di balik satu peristiwa. Alih-alih peristiwa yang jauh dari jangkauan, bahkan peristiwa yang dekat dengannya pun, belum tentu orang bisa mengaksesnya secara penuh.

Selama ini, orang hanya mengandalkan versi-versi yang disediakan lewat media massa (baik mainstream maupun media sosial). Versi-versi yang disana-sini potensial mengalami distorsi, editing, framing dan sejak awal tak bebas dari unsur tafsir. Tafsir yang bisa muncul dari mana saja, termasuk dari narasumbernya.

Apalagi dulu Joseph Goebbels, ahli propagandanya Hitler, pernah memperbarui sekaligus mengkristalkan metode yang sebenarnya lazim dipraktekkan oleh kekuasaan dari masa ke masa, dalam ungkapannya ‘kebohongan yang disampaikan secara berulang-ulang akan dianggap kebenaran’; kemudian kita juga mengenal istilah dis-informasi yang memang dirancang sebagai penyesatan, akhir-akhir ini kita dibanjiri dengan istilah firehose of falsehood.

Akibatnya, memori kita pada akhirnya hanya akan menyimpan gambar-gambar kabur dengan paket-paket penafsiran yang secara instan sudah disiapkan untuknya.

Berjalannya waktu sekaligus potensial mengubur pertanyaan-pertanyaan kritis yang mungkin sempat melintas. Sehingga akhirnya -mau tak mau- kita terpaksa harus puas dengan sekedar merasa tahu sesuatu yang pada dasarnya kita tidak pernah benar-benar tahu.

Dan, seperti tumpukan peristiwa lainnya, kebenaran faktual tiap peristiwa pada akhirnya kita biarkan hidup di kerajaan lupa. Dan kita pun hidup dalam apa yang sekarang tiba-tiba kita ributkan sebagai post-truth. Ini gejala yang pada dasarnya sudah menggejala sejak dahulu kala, setiap rezim kekuasaan selalu memanfaatkannya demi kelanggengannya. Pasti ada yang aneh bila sekarang semua ini diangkat ke permukaan seolah sebagai sesuatu yang baru dan mengagetkan kita semua.

Sekadar menyegarkan ‘ingatan’, dalam peradaban modern ini sebenarnya kita bisa dengan telanjang menyaksikan bagaimana firehose of falsehood diarahkan ke ummat Islam, ke negeri-negeri muslim dengan narasi-narasi tentang kekerasan dan terorisme, yang menghasilkan post-truth berupa Islamophobia.

Yang aneh, sekarang firehose of falsehood dinarasikan sebagai propaganda Rusia, hanya untuk melengahkan orang bahwa pihak yang menarasikannya, dalam hal ini Amerika khususnya dan Barat umumnya, adalah salah satu biangnya sampai sekarang.

Tapi kita malas merunut semua ini karena terlanjur tersugesti untuk selalu membayangkan, bahwa pilihannya cuma ‘lupa’ atau membuka kotak pandora. Padahal, yang terakhir -yang mengandaikan terurainya fakta-fakta dan terungkapnya motif-motif- dianggap potensial meneror konstruksi kesadaran kita. Sesuatu yang tak siap kita tanggung sakitnya.

Tak heran, bila akhirnya banyak pengetahuan yang konstruksinya kita susun dari lupa ke lupa. Pengetahuan menjadi muara kerajaan lupa kita. Kerajaan yang begitu berkuasa mengarahkan ke mana mata harus memandang dan kaki harus melangkah.

Lupa memang membuat kita potensial -lebih dari keledai- berulang-ulang terperosok di lubang yang sama; dan justru karena itu -langsung tak tak langsung- ia diintegrasikan dalam konstruksi kesadaran peradaban ini.

Lupa selalu dengan mudah menilep fakta dan peristiwa -meski dengan milyaran luka yang masih menganga dan coreng moreng gambar penanganannya- dan membuatnya ketlingsut dalam kesadaran kita, yang terlanjur di-setting hanya untuk terpana oleh aktualitas dan sensasi sesaat saja.

Masalahnya, bisakah lupa mengubur kenangan orang yang secara langsung telah dan akan selalu bermuka-muka dengan kesemrawutan birokrasi, ketidak-adilan hukum, kekerasan aparat, ketidakramahan kebijakan atau dengan segala macam kebusukan yang selama ini kita biarkan tersembunyi rapat-rapat di bawah permukaan? Bisakah lupa menghapus ini semua, lebih-lebih bagi mereka yang merasa telah menjadi korbannya?

Untuk menyebut sekadar contoh: bisakah lupa menghibur mereka yang semakin terseok hidupnya? Bisakah lupa menghapus kesakitan para korban penggusuran? Bisakah lupa mengakhiri kenangan orang-orang yang tiap Kamis berdiri di depan istana? Bisakah lupa menghilangkan kematian Munir dari kesadaran orang-orang terdekatnya? Bisakah lupa mengembalikan mata Novel Baswedan?

Kita tak berani menjawabnya, karena takut dikejar firehose of falsehood dari arah sebaliknya. Dulu ini pernah dicoba lakukan: pernah dikembangkan narasi bahwa Munir adalah pengkhianat bangsa misalnya; atau juga pernah dicoba kembangkan narasi bahwa apa yang menimpa Novel bukanlah karena kasus yang ditanganinya, tapi karena masalah domestik usaha keluarganya. Alhasil, narasi-narasi yang dibangun agar kita abai.

Lupa menjadi begitu berkuasa karena kita memang telah mengagamakannya. Para pemimpin, birokrat dan sebagian kelas menengah mengagamakannya karena bisa menangguk untung dari sana.

Tapi jangan ‘lupa’; ingatan, dzikir, mereka yang terdzolimi akan langsung tersambung dengan Allah. Dan jawabanNya bisa datang dari arah yang tak terduga-duga.

Anis Sholeh Ba’asyin, budayawan tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Mulia Indonesia

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Tinggalkan Komentar Anda