Tasawuf

Obat Jiwa yang Gelisah

Written by A.Suryana Sudrajat

Membaca Alquran adalah yang pertama dari lima langkah yang harus ditempuh untuk mencapai derajat kesalihan. Bagaimana dengan kisah H.B. Jassin?

Dalam kitabnya Kifayah  al- Atqiya’ wa Minhaj al-Ashfiya’ (Kelengkapan Orang Takwa dan jalan Orang Suci), Syekh Abu Bakr (Sayyid Bakri al-Makki) ibn Muhammad Syatha al-Dimyathi mewejang lima jalan yang mesti ditempuh seseorang untuk mencapai derajat kesalihan. Yakni dengan membaca Alquran berikut maknanya, shalat malam, zikir di waktu malam, mengosongkan perut, alias puasa, dan duduk melingkar di sekitar orang salih. Itulah lima resep batin yang kemudian dijawakan dan dijadikan tembang pitutur (pengajaran) yang biasa didendangkan anak-anak sebelum shalat di langgar-langgar di Jawa. Ada yang menyebutnya Shalawat Tamba (Obat) atau Tombo Ati. Shalawat ini belakangan diberi aransemen dan dibawakan  antara lain oleh Kiai Kanjeng Emha Ainun Nadjib,  dan pelantun lagu-lagu religi,  Opick.

Bagi kaum Muslim Alquran merupakan pedoman dalam menempuh bahtera kehidupan. Melalui petunjuk-petunjuknyalah akan diperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hal ini  diyakini karena Al-Qur;an mengandung ajaran-ajaran moral yang universal dan abadi sifatnya.  Selain itu, kaum Muslim juga  meyakini benar bahwa membaca Alquran merupakan obat berbagai penyakit hati, dan penawar jiwa yang sedang gelisah. Abdullah ibn Mas’ud r.a., salah satu sahabat terkemuka Rasulullah s.a.w., suatu hari kedatangan tamu. Dia tampak gelisah dan bingung. Kataya:

“Ibn Mas’ud, Anda lihat keadaan saya. Dalam beberapa hari ini saya merasa tidak tenteram. Jiwa saya gelisah. Pikiran saya kusut. Makan tidak enak, tidur pun tak nyenyak. Berilah saya nasihat yang bisa mengobati keadaan saya.

“Kalau benar itu penyakit kamu, bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat. Pertama, ke tempat orang yang sedang membaca Alquran. Anda ikut membaca atau dengarlah orang-orang yang membacanya. Kedua, bisa juga ke majelis pengajian, yang mengingatkan hati kepada Allah. Atau silakan kamu cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana kamu berkhalwat menyembah Allah. Seperti di tengah malam, ketika orang-orang tidur, kamu bangun lalu shalat, memohon kepada Allah ketenangan jiwa, ketenteraman pikiran dan kemurnian hati. Andaikan jiwa kamu belum terobati  dengan ketiga cara itu? Kamu harus minta kepada Allah agar kamu diberi-Nya hati yang lain. Sebab hati yang kamu pakai,  bukan lagi hati kamu.”

Kita tambahkan pengalaman H.B. Jassin (almarhum) sebagaimana dia tuturkan kepada Majalah Panji Masyarakat 19 Agustus 1998. Kritikus sastra terkemuka Indonesia ini  menerjemahkan Alquran (Bacaan Mulia) secara puitis. Tahun 1962 ia ditinggal istrinya berpulang ke rahmatullah. Menurut Jassin, (namanya diabadikan di salah satu gedung di  Pusat Kesenian Jakarta  Taman Ismail Marzuki yaitu  Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jasin), kejadian itu menggugah kesadarannya akan arti hidup yang singkat. Kata dia,”Berbuat baiklah terhadap sesama manusia, bersabarlah, beramal-lah, dan balaslah kejahatan dengan kebaikan.”

Selama tujuh hari berlangsung pengajian Quran di rumah Jassin, hingga selesai 30 juz. Setelah itu, Jassin merasa rumahnya menjadi sepi. Tidak ada lagi yang datang mengaji. Maka timbul pikiran, mengapa dia tidak teruskan sendiri pengajian itu? Lalu ia pun mencoba mengaji dengan “suara perlahan, makin lama makin nyaring, dengan suara beralun, terbawa rasa haru yang terkandung di dalam hati,” katanya. Mengapa?

“Saya terharu, teringat nenek saya dahulu yang setiap hari di kampung membaca Alquran. Terharu karena saat sekarang bisa juga membaca Alquran. ..Terharu karena teringat mendiang istri saya yang pernah menyatakan keinginannya hendak belajar shalat, dan dengan susah payah belajar menghafal firman-firman Tuhan dan doa shalat.”

Tidak puas dengan sekadar membaca, Jassin pun mempergunakan beberapa buku terjemahan  untuk mendalami dan meresapi isi kitab suci Alquran. Dengan demikian, dia merasa mendapat jalan untuk menyumbangkan doa kepada  yang telah mati, dan merasa mendapat kontak dengan Yang Abadi. Kata Jassin, jiwa dan pengetahuannya tumbuh karena menyelami hikmah-hikmah yang terkandung dalam ayat-ayat Qur’an. ‘saya merasa mengisi jiwa saya dengan firman-firman Tuhan sehingga firman-firman itu menjadi nafas saya, menjadi darah yang beredar dalam tubuh saya. Hari demi hari saya saya dalami dan saya resapi isi Alquran. Keyakinan saya bertambah mantap dan padat. Saya menghadapi hidup dengan hati yang aman dan tenteram

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda