Tafsir

Karunia yang Hilang

Buldoser Amirmachmud. Sudah tentu tidak secara serta merta—pengubahan oleh Allah itu. Bahwa dampak pengubahan oleh manusia lebih acap kelihatan dalam waktu relatif panjang ditunjukkan oleh ayat ini:
“Dan jika Kami berkehendak menghancurkan suatu negeri,
Kami berikan titah kepada vorang-orangnya yang hidup mewah, maka mereka pun bertindak fasik di sana, lalu menjadi sah sabda atas negeri itu dan lalu Kami hancurkan dia selumat-lumatnya” (Q.S 17:16). Di sini sebuah proses ditunjukkan oleh perbuatan para durjana yang tentu berlangsung dalam rentang masa tertentu.

Ambillah contoh, untuk kasus Indonesia, rentang waktu 26 tahun antara Hari Kemerdekaan dan saat kejatuhan rezim Soekarno. Perubahan yang menentukan dalam politik (bukan dalam dirinya, yang kita tak tahu) tentunya terjadi pada 5 Juli 1959, ketika Soekarno memberlakukan Dekrit Presiden yang membubarkan Konstituante dan memberlakukan UUD 45 sebagai pengganti UUDS 1950. Dengan itu kehidupan bebas (“liberal”) partai-partai dihabisi. Dengan Demokrasi Terpimpin-nya Soekarno naik ke puncak kemegahan, dengan kekuasaan absolut. Perubahan apakah yang muncul dalam diri masyarakat?

Kultus. Semua mengkultuskan Bung Karno. Juga para ulama. Sebagian hanya di mulut, tapi memang ada yang meyakin-yakinkan diri agar bisa menerima pemimpin besar ini—di samping yang memang pencinta. Tragis bahwa lewat perlombaan kultus itu tak urung PKI juga yang menang. Tapi dengan kultus tidak urung seluruh bangsa mendapat hukumannya. Masyarakat terbelah- belah. Dan pecahlah makar PKI pada 1965. Ratusan ribu rakyat terbantai—dan, bekas luka yang ditinggalkannya belum seluruhnya sembuh sampai sekarang. Tapi, di mana letaknya “karunia Allah” , dalam kasus rezim Soekarno, kalau titik perubahannya bisa dicari?
Pertama, tentu saja, dalam anugerah kemerdekaan, seperti yang dengan khusyuk diguratkan dalam mukadimah UUD. Kedua, bisa saja anugerah besar potensial: sumber alam, tenaga kerja (dalam tilikan sekarang) yang besar dan murah, sifat penduduk yang rukun (tak ada perang suku, perang agama, bahkan perang etnis yang sebenarnya) dan pada dasarnya religius, dan kepercayaan kepada pemerintah dalam arti kemauan baik dan kesediaan untuk dipimpin, yang kentara sekali di saat- saat segera setelah proklamasi. Juga meningkatnya taraf hidup, yang betapapun menjadi lebih baik sebelum babak akhir era Soekarno dibanding di hari Kemerdekaan—sampai kemudian gejolak politik menggelora. Tanah Air bagai membuih dan inflasi melambung sampai 650%. Kemudian sebuah rezim ambruk.

Pada era Soeharto, anugerah Allah potensial yang diberikan di awal Kemerdekaan itu juga kita dapati berwujud kemauan baik (dengan bekas luka yang sudah disebut) untuk, kali ini, di bawah kepemimpinan orde yang baru, meninggalkan “era politik” dan membangun kehidupan bersama. Perubahan agaknya mulai bisa diraba pada 1970-an: dengan dukungan sebagian intelektual, pelepasan diri dari “alam liberal” ke alam pembangunan produktif pada akhirnya dilaksanakan dengan pengebirian partai-partai setahap demi setahap, Dan akhirnya dilaksanakan buldozering dengan aparat Amirmachmud.

Dengan kekuasaan yang tahun demi tahun akhirnya berhasil dipusatkan pada diri Soeharto seorang (termasuk kekuasaan yudikatif: kasus tuduhan kepada Menhub Haryanto Dhanutirto yang begitu saja “diputihkan” Presiden, dan bukan pengadilan—dan kawan-kawannya bersorak. Juga kasus dana Jamsostek yang “selesai” karena “sudah langsung ditangani Pak Harto”), Soeharto, seperti pendahulunya, juga memegang ubun-ubun “semua orang”. Termasuk para ulama. Betapapun, pembangunan berhasil digencarkan dengan banyak keberhasilan (jalan- jalan layang, gedung-gedung tinggi, aspal mulus sampai ke seluruh pelosok; rakyat akan mengingat “peninggalan. Pak Harto” ini), dengan sangat sedikit pemerataan, dan lebih banyak kebocoran. Juga masjid-masjid dibangun, dengan sokongan para pegawai. Juga dakwah dalam pengertian lambang.

Tapi sudah berlaku sunnah Allah. Power tends to corrupt. Kekuasaan bisa membawa keserakahan. Dan keserakahan bisa menggembung luar biasa. Keserakahan penguasa melahirkan keserakahan para birokrat, makin lama semakin luas. Dan menciptakan masyarakat bisik-bisik, juga walaupun di depan tersenyum, masyarakat gelisah yang memendam rasa ketakadilan dan kemarahan—sementara hampir semua penguasa pada akhirnya ditipu kekuasaannya sendiri yang memberinya kesan “pasti kuat” menahan gempuran. Lalu bencana datang menggempur—bencana demi bencana. Lalu datang krisis moneter. Lalu krisis ; ekonomi keseluruhan. Lalu keresahan umum. Demonstrasi mahasiswa. Penculikan-penculikan, dan pembunuhan, oleh aparat. Kerusuhan besar. Penjarahan. Perkosaan. Pembakaran. Kelumpuhan Ibu ; Kota dan kota-kota besar, Dan tumbanglah rezim yang kedua.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda