Mutiara

Imam Kaum Fundamentalis

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Bagaimana mempertahankan pendirian di hadapan tekanan dan godaan harta. Contoh dari Imam Ahmad ibn Hanbal.

“Khalifah Rasyid sudah oke”, kata Imam Syafi”i. “Tinggal terserah Saudara, ingin ditempatkan di mana.”
“Maaf, Tuan Guru. Saya datang ke sini untuk menuntut ilmu kepada Bapak. Bukan mencari kedudukan atau pangkat di sisi Kepala Negara.”

Syafii malu mendengar penolakan itu. Ini bermula dari order Harun Ar-Rasyid. Khalifah ini meminta dicarikan seorang alim yang ahli hukum untuk menjadi hakim, di pusat ataupun di daerah (Yaman). Syafi’i yang pernah diinterograsi oleh Khalifah karena aktivitas politiknya di Yaman, mengusulkan Ahmad.

Benar, tamu itu Imam Ahmad. Dia baru pulang ke Bagdad, setelah mengembara. Benar pula, Ahmad serius ingin berguru. Maka, jadilah: selama kurang lebih tiga tahun dia belajar fikih berikut usbul-nya kepada Imam Syafi’i, sampai sang guru berangkat ke Mesir (834 M), memenuhi undangan Gubernur Abbas ibn Musa. Waktu itu usia Ahmad 30 — dan, sungguh, Ahmad baru bersedia memberi kuliah di Masjid Jamik Bagdad setelah umurnya berkepala empat.

Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal lahir di Bagdad pada Rabiulawal 164 H (November 780). Anak yatim ini hanya mewarisi rumah dan sepotong kain tenun — yang, untuk memenuhi hajat hidupnya, kedua-keduanya dia sewakan. Setelah belajar di kampung, ia menjadi siswa pengembara ke berbagai negeri: Irak, Suriah, Hijaz, hingga Yaman. Dari sana ia menghimpun hadis, yang kelak merupakan bidang keahliannya. Musnad , himpunan hasil penelitiannya, yang disusun Abdullah, putranya, memuat 28.000-29.000 hadis.

Ahmad bekerja apa saja. Pernah menjadi buruh konveksi. Pengrajin tenun. (Kopiah bulu dombanya, kata Abdullah, hasil tenunan sendiri). Bekerja di perkebunan. Menjadi penulis upahan. Juga kuli angkut. “Lebih baik punya pekerjaan berat yang dipandang rendah kebanyakan orang daripada melakukan perbuatan nista. Lebih baik lapar daripada makan sesuatu yang belum terang halalnya.. Itu ditekankannya.

Berbeda dengan Syafi’i, yang menyusun sendiri sistematika fikihnya, mazhab Hanbali dibentuk oleh murid-murid sang Imam yang mengkompilasi jawaban-jawabannya mengenai berbagai soal. Ahmad bukan terutama seorang pengarang — -tidak seperti Syafii, yang sebenarnya juga penyair. Kemunculan Ibn Hanbal, menurut Farouq Abu Zaid, merupakan gejala pertama yang bertolak belakang dengan perkembangan alami fikih Islam yang sedang menuju peningkatan pesan ijtihad dan rasionalisasi. Setelah zaman kenabian menjauh dan kaum muslimin mencapai kemajuan peradaban, pemakaian rasio dan ijtihad seharusnya semakin kuat. Tapi mengapa Ahmad justru memperlihatkan arus sebaliknya?

Waktu itu sedang marak aliran-aliran Islam, dengan sikap ekstrem masing-masing: Syi’ah, Mu’tazilah, Jahmiah, Murji’ah. Dan Ahmad sebal. Itulah sebabnya. Di situ kelihatan, meski mirip Maliki, yang juga hadis oriented, mazhab Ibn Hambal terhitung lebih keras. Juga, “kaku”. Karena itu kampiun gerakan kembali kepada Alquan dan Hadis ini mendapat sebutan imam kaum “fundamentalis”. Eksponen terpenting mazhab yang terhitung paling kecil ini (yang juga mazhab orang Saudi kini) adalah Ibn Taimyiah , itu pembaru luar biasa. Ahmad sangat keras memvonis aliran-aliran yang dinilainya menyalahi Alquran dan Sunnah. Ia mengkafirkan golongan Jahmiah, selain mengutuk Mu’tazilah. Dan memberondong Syi’ah.

Apalagi sesudah Al-Ma’mun (naik tahta 813) menjadikan Mu’tazilah paham resmi negara. Sampai-sampai memaksa para ulama menerimanya — termasuk untuk gagasan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Sebagian besar ulama menyatakan ya — di bawah tekanan — tapi Ahmad bilang, “Tidak.” Akibatnya: hukuman cambuk dan bui. Apalagi karena dalam kuliah-kuliahnya imam ini banyak mengecam Al-Ma’mun dan “hobi” Mu’tazilahnya. Ma’mun mangkat selagi Imam dalam penjara. Toh beliau masih menerima perlakuan sama di zaman Mu’tashim dan Watsiq. Total: 15 tahun

Baru di masa Al-Mutawakkil (naik tahta 847 M), imam yang sudah menjadi uzur itu dibebaskan. Usianya hampir 70. Khalifah bahkan memintanya menjadi guru hadis putra mahkotanya, Al-Mu’taz. Ditolak. Juga hadiah-hadiah uang, dan sebuah rumah mewah. Ditolak. Ketika akhirnya ia terpaksa menerima 10.000 dinar, uang itu dibagi-bagikannya begitu saja.

Bertubuh sedang, rambut kemerah-merahan (ketika beranjak tua dia bisa menyemirnya dengan pacar kuning), tokoh besar yang tampan ini selalu serius. Hampir tak pernah bercanda. Tidak suka acara santai, atau jalan-jalan di pasar. Enggan bergaul dengan orang yang senang glamour. Kata putranya , Abdullah, “Ayah paling tahan menyendiri.” Tapi ia bukan orangtua berwajah sangar. Ia ramah.

Ahmad ibn Hanbal wafat di Bagdad, Jumat 12 Rabiulawal 241 (31 Juli 855). Masih tutur Abdullah: “Lima kali ayah pergi haji. Dua kali dengan kendaraan, tiga kali jalan kaki.” Satu di antaranya, menurut cerita Imam sendiri dengan bekal cuma 30 dirham.

Sumber: Farouq Abu Zaid, Hukum Islam Antara Tradisional dan Modernis (1986);Khwaja Jamil Ahmad, Hundred Greater Muslims (1984)

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda