Ahmad Dahlan Bintang Zaman

Pemahaman Keagamaan Ahmad Dahlan

Pengurus Muhammadiyah periode 1918-1921. Ahmad Dahlan duduk di tengah
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Ahmad Dahlan memahami Islam melalui serangkaian pengalaman batin, intelektual, dan  spiritual yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dia menghadapi misi Kristen?

Semasa hidupnya Ahmad Dahlan tidak banyak meninggalkan karya tulis, kecuali dua buah dokumen yang disampaikan dalam Kongres Islam I, dan yang diterbitkan HB Majelis Pustaka beberapa bulan sesudah ia wafat pada 1923. Dua dokumen itu mencerminkan pemikiran kritis, penguasaan berbagai cabang ilmu dan filsafat, serta pandangannya terhadap masyarakat dan peran Islam dalam pengembangan peradaban Islam. Di dalamnya juga tercermin konsepnya tentang metodologi dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam dari sumber utama Al-Quran.

Ahmad Dahlan memahami Islam melalui serangkaian pengalaman batin, intelektual, dan spiritual yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sungguhpun demikian, pemahaman keagamaan Ahmad Dahlan ini terbagi dalam dua fase. Fase pertama adalah saat ini menunaikan ibadah hajinya yang pertama tahun 1889 yang lebih pada pemahaman pemurnian ajaran Islam, dan fase kedua ketika ia menunaikan ibadah haji kedua tahun 1903, yang telah maju pada upaya pembaruan Islam.

Pada fase pertama ini, selain menunaikan ibadah hajinya yang pertama, ia juga termotivasi untuk memperdalam ilmu agama Islam, karena saat itu Timur Tengah telah menjadi pusat studi Islam yang banyak dikunjungi umat Islam. Dalam pengembaraannya itu, Ahmad Dahlan mengalami semacam kegelisahan. Di satu sisi, ia melihat Islam yang ditransformasikan Nabi Muhammad s.a.w mampu membawa perubahan besar bagi masyarakatnya. Sementara di sisi lain, ia melihat Islam sama sekali tidak mampu melakukan perubahan.

Namun pengembaraannya selama kurun waktu setahun itu tidak mampu menjawab kegelisahannya selama ini. Ia belum sampai pada titik kesimpulan tentang pemikiran Islam yang sebenarnya, meskipun wawasan keislamannya bertambah dan pemikirannnya menjadi lebih luas daripada sebelum naik haji.

Karena itu, sepulangnya dari berhaji, Ahmad Dahlan baru mampu mengaktualisasikan pemahaman keagamaannya ‘hanya’ terlihat dari gerak langkahnya dalam memprakarsai pertemuan ulama untuk membahas masalah arah kiblat (1897), masalah shaf atau garis shalat (1897), serta pembangunan dan pembongkaran langgar (1898). Fokus kegiatan pemurnian ajaran Islam ini setidaknya berlangsung dalam kurun waktu 14 tahun sejak menunaikan ibadah hajinya yang pertama tahun 1889 sampai menunaikan ibadah haji kedua pada tahun 1903. Kenapa gerakan dakwah yang dilakukan Ahmad Dahlan waktu itu baru sebatas pada upaya pemurnian ajaran Islam, belum kepada pembaruan ajaran Islam? Ini bisa dimengerti karena pada fase itu Ahmad Dahlan belum menemukan metode efektif untuk memahami ajaran Islam yang sebenarnya. Kondisi ini berubah setelah ia menunaikan hajinya yang kedua.

Saat menunaikan ibadah hajinya yang kedua itulah Ahmad Dahlan banyak memanfaatkan waktunya untuk terus menajamkan pencarian jawaban atas metodologi pemahaman dan aktualisasi ajaran Islam serta ajaran Islam yang sebenar-benarnya. Ia banyak membangun jaringan dengan ulama lokal dan internasional. Ia juga banyak mempelajari kitab-kitab yang disusun oleh pemimpin Islam yang menganjurkan untuk kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Di antaranya adalah karya-karya Ibn Taimiah, Ibn Qaiyim, Muhammad Ibn Abdil Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammmad Abduh, Muhammad Rashid Ridha, Farid Wajdi dan Rahmatullah Al-Hindi. Dalam menelaah kitab-kitab tersebut, Ahmad Dahlan melakukan perbandingan dan mendiskusikannya dengan para ulama lokal dan internasional.

Pada periode kedua itu pula, Ahmad Dahlan sempat bertemu dan bertukar pikiran tentang masalah-masalah keislaman dengan Muhammad Rashid Ridha. Ahmad Dahlan juga mengembangkan telaah Islam langsung dari sumber utamanya Al-Quran dan Sunnah dengan menggunakan akal dan hati. Lewat metode inilah, ia merasa misalnya, Ahmad Dahlan tidak berhenti pada tataran teori, tetapi diteruskan pada tataran praksis, yaitu melakukan aksi kemasyarakatan. Dengan demikian, metode pemahaman dan pengamalan Islam Ahmad Dahlan adalah nasional-fungsional.

Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta saat ini setelah diresmikan KH Ahmad Dahlan pada 1923 (foto : RS PKU Muhammadiyah)

Rasional dalam arti menelaah sumber utama ajaran Islam dengan kebebasan ajaran akal pikiran dan kejernihan akal nurani, sekaligus membiarkan Al-Quran berbicara tentang dirinya sendiri, dalam arti tafsir ayat dengan ayat (termasuk hadis). Fungsional dalam arti kelanjutan dan tuntutan hasil pemahaman tersebut adalah aksi sosial, yaitu melakukan perbaikan masyarakat. Metode inilah yang khas pada Ahmad Dahlan; pemahaman sekaligus pengamalan,pemikiran sekaligus aksi sosial.

Ada penjelasan naratif yang menunjukkan bahwa Dahlan pernah bertemu dan berinteraksi langsung dengan beberapa tokoh Kristen terkemuka. Penjelasan-penjelasan tersebut diceritakan berkali-kali  oleh orang-orang yang menulis tentang Dahlan dan Muhammdiyah secara berlebihan. Pada cerita-cerita itu Dahlan dikesankan sangat menguasai ajaran-ajaran Kristen dan mampu mengungguli rekan-rekannya di kalangan kristen dalam perdebatan mengenai masalah agama.

Dilaporkan bahwa Dahlan sering bertemu dengan misionaris Kristen bernama Domine Baker. Menurut laporan yang terkesan memuji-muji itu, Dahlan menantang bahwa seandainya Baker mau meninggalkan Kristen, maka dia akan menemukan kebenaran Islam.  Diceritakan bahwa Baker enggan memenuhi tantangan tersebut, diduga karena Baker “takut menghadapi hasil akhir perdebatan tersebut.” Akibatnya Baker memutuskan mengemasi barang-barangnya dan segera kembali ke Belanda untuk selamanya. Namun demikian, laporan itu melanjutkan  bahwa akibat pertemuan tersebut, dua orang pengikut Baker kemudian meninggalkan Kristen dan memeluk Islam.

Ada penjelasan lain, dengan pola yang sama, saat Dahlan diduga mengajukan tantangan terhadap Dr. Zwemer – seorang misionaris Amerika yang ditunjuk untuk menyebarkan injil  dikalangan bangsa Asia termasuk Indonesia. Disamping laporan tadi, pertukaran pandangan antara  Dahlan dengan tokoh misionaris Kristen lain Dr. Laberton, juga dilaporkan dengan nada pujian yang  berlebih-lebihan.

Selain Dahlan digambarkan mampu mengungguli lawan-lawan debatnya, tidak satupun dari berbagai biografi Dahlan tersebut yang memberikan penjelasan otentik mengenai perjumpaan Dahlan yang sesungguhnya dengan orang-orang Kristen di Indonesia. Namun demikian dari sebagian biografi itu umumnya tersirat kesan bahwa hubungan Dahlan dengan kalangan Kristen lebih bersifat persahabatan dan bukan konfrontasi.

Memang terdapat cukup tanda-tanda yang mengindikasikan sikap damai dan toleran yang tulus dari  Dahlan terhadap kelompok-kelompok Kristen. Dia berhasil menjalin kontak dan persahabatan yang erat dengan banyak pendeta Kristen. Oleh karena itu, semua indikasi menunjukkan bahwa Dahlan menggunakan pendekatan yang lunak dan moderat dalam perjumpaannya dengan kalangan Kristen.

Dahlan berusaha menghindari konfrontasi dengan pihak manapun termasuk misi Kristen. Sebaliknya, dia mengarahkan pandanganya melampaui segala sesuatu yang dapat menghambat kemajuan ke arah tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kesadaran Islami para pengikutnya. Oleh karena itu, bagi Dahlan, perjumpaan itu lebih terekspresikan dalam bentuk persaingan dalam membangun lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan, ketimbang terlibat dalam semacam konfrontasi langsung.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda