Ahmad Dahlan Bintang Zaman

Ahmad Dahlan, Memperbarui Pendidikan dan Mendirikan Muhammadiyah

Amal usaha Muhammadiyah yang dirintis sejak KH Ahmad Dahlan memunculkan puluhan universitas. Salah satunya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) (foto : website resmi UMY)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Pembaruan sistem pendidikan yang dilakukan Ahmad Dahlan ternyata banyak mendatangkan kritik. Ia dituduh meniru perbuatan kaum penjajah dan kafir. Bahkan, Dahlan juga sempat dituding hendak membuat agama baru.

Kiai Ahmad Dahlan, untuk meluaskan cita-cita pembaruannya,  tak hanya mengajar di lingkungannya. Pada tahun 1909 ia bergabung dengan Boedi Oetomo(BO). Organisasi ini didirikan pada 1908 untuk kepentingan priyayi Jawa. Tekadnya masuk BO adalah untuk memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya yang notabene belajar di sekolah-sekolah Belanda. Upayanya tidak sia-sia, semangat keberagamaan para anggota BO meningkat.ide-ide pembaruannya pun mulai dikenal luas. Bahkan, beberapa dari mereka menyarankan Ahmad Dahlan untuk mendirikan lembaga pendidikan dengan dukungan organisasi permanen, untuk menghindari kelemahan pesantren yang biasanya ikut mati jika kiainya meninggal.

Atas anjuran kawan-kawannya itulah pada 8 Dzulhijah 1330 H/18 November 1912 Ahmad Dahlan mendirikan sebuah persyarikatan bernama Muhammadiyah, yang diambil dari nama Nabi dengan imbuhan huruf nisbat (yah), yang berarti umatnya Nabi Muhammad. Ini sesuai dengan pendiriannya, yaitu berarti umatnya Nabi Muhammad. Ini sesuai dengan pendiriannya, yaitu menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w kepada penduduk bumiputera. Deklarasi berdirinya Muhammadiyah diselenggarakan di sebuah gedung di sekitar Malioboro, Yogyakarta.

Selanjutnya ia dirikan madasah ibtidaiyah dan madrasah diniyah di rumahnya di Kauman. Madrasah ini merupakan sekolah pertama yang dibangun dan dikelola pribumi dengan sistem klasikal-memakai bangku, kursi, papan tulis, dengan guru berdiri di depan kelas. Di sekolahnya itu, ia memasukkan kurikulum modern, yang memadukan ilmu umum dan ilmu agama.

Pembaruan sistem pendidikan yang dilakukan Ahmad Dahlan ternyata banyak mendatangkan kritik. Ia dituduh meniru perbuatan kaum penjajah dan kafir. Bahkan, Dahlan juga sempat dituding hendak membuat agama baru. Namun ia tidak peduli. Sebaliknya, murid malah semakin bertambah, dan sitem klasikal ini kemudian diikuti oleh pesantren-pesantren yang selama ini sistem pendidikan dan pengajarannya dilakukan dengan halaqah- murid mengelilingi guru dengan duduk di lantai.

Saat mendirikan sekolah pertama kali, banyak tantangan menghadang

Di bidang pendidikan dan sosial, Dahlan sesungguhnya banyak mengadopsi sistem penjajah dan kaum misionaris Kristen yang waktu itu tengah gencarnya melakukan propagandis di Pulau Jawa. Dahlan berpandangan bahwa tidak semua yang berasal dari penjajah atau umat agama lain itu buruk. Hal-hal yang baik boleh diikuti. Ini termasuk ketika ia memasukkan kurikulum pengetahuan umum seperti ilmu mantiq (logika). Di sekolahnya Dahlan juga membentuk Hizbul Wathan (kepanduan) yang diadopsi langsung dari kaum misionaris, dengan maksud agar murid-muridnya terampil dan kreatif. Ia juga mendirikan panti asuhan, panti jompo, panti korban perang, rumah sakit, hingga perpustakaan dan penerbitan media cetak berupa majalah Suara Muhammadiyah. Adopsi sistem yang dilakukan Ahmad Dahlan juga dimaksudkan untuk membendung gerakan misionaris yang sedang gencar-gencarnya menyebarkan agama Kristen.

Selain bergerak di bidang pendidikan, Muhammadiyah juga melakukan gerakan dakwah, dengan fokus pada perang terhadap segala hal yang berbau takhayul, bid’ah, serta khurafat. Untuk mencairkan kebekuan pemikiran di kalangan umat Islam, ia menyeru kembali kepada Alquran dan hadis serta meninggalkan taqlid buta dengan membuka pintu ijtihad lebar-lebar.

Pada tahun-tahun pertama Muhammadiyah memfokuskan ruang geraknya di lingkungan Kauman. Baru pada tahun 1917 persyarikatan ini mulai memperluas wilayah gerakannya, dengan memanfaatkan momentum kongres BO yang kebetulan berlangsung di rumah Ahmad Dahlan. Kongres tersebut dimanfaatkan oleh Ahmad Dahlan untuk mengenalkan pokok-pokok pikirannya tentang pembaruan Islam kepada seluruh peserta.

Hal ini, ternyata cukup berhasil karena terbukti banyak yang tertarik untuk bergabung dan mendirikan cabang Muhammadiyah di berbagai daerah, khususnya pulau Jawa. Pembukaan cabang-cabang Muhammadiyah itu baru terwujud setelah anggaran dasar Muhammadiyah yang hanya membatasi ruang dakwahnya di daerah Kauman diubah. Setahun berikutnya, Muhammadiyah sudah menyebar ke seluruh Indonesia, terutama di daerah Sumatera Barat (Minangkabau), termasuk di Surabaya yang waktu itu justru dikenal sebagai kalangan Islam tradisional.

Muhammadiyah begitu cepat diterima di masyarakat perkotaan antara lain disebabkan oleh faktor pergaulan Ahmad Dahlan yang begitu luwes dan luas, di samping memang ajaran-ajarannya dinilai tidak kaku, cukup terbuka terhadap pikiran-pikiran dari luar selain berdampak pada kemaslahatan umat serta tidak bertentangan dengan akidah Islam yang bersumberkan Alquran dan hadis. Selain itu, di sela-sela kesibukannya sebagai mubalig, guru, dan organisatoris, Dahlan adalah seorang pedagang batik. Profesi itu memungkinkan dirinya berkenalan dengan para pedagang dari daerah lain yang notabene memiliki pemikiran yang sama dengan Dahlan tentang pembaruan Islam.

Terlebih, Dahlan dikenal aktif sebagai penasihat Sarikat Islam (SI), yang ketika didirikan di Solo pada tanggal 11 November 1911 bernama Sarekat Dagang Islam. SDI didirikan oleh para pedagang batik untuk menghadapi superioritas para pedagang Cina terhadap pedagang Pribumi, sehubungan dengan berhasilnya revolusi Cina pada tahun 1911. Setahun kemudian SDI berubah menjadi SI dan lebih memfokuskan pada kegiatan politik. Selain di SI. Dahlan juga bergabung di Jamiat Khair (1910), dan aktif berhubungan dengan organisasi pembaruan lain seperti Persatuan Islam (Persis).

Pada sisi lain, profesinya sebagai pedagang membuatnya  mandiri, jauh dari pamrih ekonomi saat berjuang di Muhammadiyah. Kemandirian itu pula yang barangkali menjadi dasar salah satu ucapannya., yang kemudian menjadi diktum perjuangan Muhammadiyah: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah.”

Demi Muhammadiyah ia rela uang pribadinya dipakai, bahkan sempat berutang untuk membayar gaji guru-guru. Untuk Muhammadiyah pula ia merelakan seluruh barang-barangnya, perkakas rumah tangga, dan pakaiannya untuk dilelang. Dari hasil lelang yang senilai 4.000 gulden ia hanya mengambil 60 gulden untuk kebutuhannya.

Meski demikian, pada awal-awal perjalanannya, Muhammadiyah banyak mendapat tantangan baik dari pemerintah kolonial, kaum nasionalis, maupun dari beberapa kelompok masyarakat yang ingin mempertahankan tradisi keberagamaan yang lama. Bagi pemerintah kolonial, sekalipun mereka menyatakan netral terhadap semua agama di Indonesia, kenyataannya tidak demikian terhadap Islam. Hal ini karena kebijakan politik Belanda yang bertujuan melemahkan kekuatan Islam.

Terlebih ketika Muhammadiyah semakin memiliki pengaruh kuat di masyarakat dipandang oleh Belanda sebagai ancaman yang bisa menggoyahkan wibawa mereka. Karena itu, Belanda pun mencoba menghambat dan membatasi ruang gerak Muhammadiyah. Sebagai contoh, Belanda pernah melarang tablig para aktivis Muhammadiyah. Begitu pula para guru Muhammadiyah dilarang untuk mengajar. Belanda pernah pula membuat peraturan, setiap shalat Id digelar di lapangan, harus mendapat izin dari polisi kolonial.

Sementara itu kaum nasionalis menuding Muhammadiyah memiliki hubungan dan bekerja sama dengan Belanda, hanya karena organisasi ini tidak menggunakan politik sebagai dasar gerakannya. Yang menarik justru pergesekan Muhammadiyah dengan masyarakat Islam berbasis pesantren. Muhammadiyah memandang kaum “tradisionalis” telah terkungkung dalam ritus ubudiyah yang tercampur dengan segala bid’ah dan khurafat, sehingga jauh dari ajaran Islam sebenarnya. Di sisi lain kaum Islam tradisional melihat apa yang dilakukan Muhammadiyah adalah sebuah ancaman. Apalagi ketika Muhammadiyah membuka cabang di Surabaya pada 1 November 1920 yang diresmikan langsung oleh Ahmad Dahlan. Padahal, daerah itu khususnya kawasan Kepanjen, merupakan basis kaum Islam “tradisionalis”. Ini tentu saja membuat kalangan “tradisionalis” tersinggung. Sejak saat itulah pergesekan antara Muhammadiyah dan kaum tradisi  tidak terelakkan. Kondisi ini semakin memanas manakala berlangsung Kongres Al-Islam I pada tahun 1922 di Cirebon. Ketika itu, para pembaru dari Muhammadiyah, Sarekat Islam, Al-Irsyad, dan dari kalangan “tradisionalis” ikut serta dalam acara tersebut. Kongres berubah menjadi sebuah perdebatan, antara kaum pembaru dan kaum “tradisionalis”.

Akhir 1922 Ahmad Dahlan mulai jatuh sakit yang kian hari semakin parah. Sesuai nasihat dokter dan para sahabatnya, Ahmad Dahlan lalu beristirahat di Tretes, Jawa Timur. Dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk itu, Dahlan tetap melanjutkan aktivitas dakwah sosialnya. Bersama penduduk setempat ia berhasil mendirikan sekolah dan lembaga pendidikan.

Sakitnya semakin parah, sehingga harus dibawa kembali ke Yogyakarta. Melihat kondisi tersebut, Nyai Ahmad Dahlan meminta agar suaminya beristirahat total. Demikian pula para sahabatnya. Dengan halus Dahlan menolak permohonan istri dan para sahabatnya itu.

Cikal bakal rumah sakit PKU yang kini tersebar di berbagai daerah

Dalam Kongres Muhammadiyah, Desember 1922 di tengah sakitnya yang semakin parah, Ahmad masih menyampaikan pidato yang transkripnya diterbitkan Hoofd Bestuur Majelis Pustaka tahun 1923 dengan judul “Tali Pengikat Hidup”. Bulan Februari 1923, ia masih sempat meresmikan berdirinya Rumah Sakit PKU yang pertama di Yogyakarta. Dan tak lama setelah itu, dalam usia 55 tahun, Ahmad Dahlan wafat dengan meninggalkan sejumlah amal warisan sosial.

Ia memimpin langsung Muhmmadiyah hanya 10 tahun 3 bulan. Meski demikian, hampir satu abad kemudian, gagasan, karya dan amalnya telah mampu mengubah pola kehidupan keagamaan pemeluk Islam agama ini menjadi fungsional. Dulu, khutbah Jum’at di masjid-masjid yang disampaikan tidak dengan bahasa Arab, kini hampir di semua pelosok negeri khutbah-khutbah disampaikan dengan bahasa Indonesia, Jawa atau bahasa setempat.

Jika pada 1925 (dua tahun setelah meninggalnya Ahmad Dahlan), baru mempunyai 29 cabang dengan 4.000 anggota, maka saat ini Muhammadiyah telah memiliki ribuan cabang,dengan kurang lebih 30 juta anggota dan simpatisan. Di beberapa negara jiran pun Muhammadiyah telah memiliki cabang. Di antaranya di Singapura dan Malaysia.

Meski pada awalnya fokus perhatian Muhammadiyah hanya pada bidang dakwah dan pendidikan, dalam perjalanannya telah melebar menjadi sebuah gerakan ekonomi, sosial dan kemasyarakatan secara umum dengan memiliki sejumlah amal usaha. Amal-amal usaha yang dikelola Muhammadiyah saat ini, meliputi 300 rumah sakit, panti asuhan, bank, dan sekolah dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Tanah Air. Untuk perguruan tinggi, hingga saat ini telah mencapai 126 buah, 24 diantaranya universitas, dan selebihnya akademi dan institut. Cendekiawan Nurcholis Madjid pernah mengatakan, bahwa Muhammadiyah, dilihat dari segi amal usahanya, merupakan organisasi massa Islam terbesar di dunia.

Bersambung ke Bagian 3

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda