Adab Rasul

Sikap Nabi Menghadapi Hoaks

Hoaks hingga berita bohong harus disikapi dengan tenang dan hati-hati (ilustrasi foto :rawpixel.com/Unsplash)
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Wahai orang yang beriman, apabila datang kepada kamu seorang fasik dengan berita besar, lakukanlah penyelidikan – kalau-kalau kamu menimpai suatu kaum akibat kebodohan, lalu menyesal oleh apa yang kamu lakukan.

Organisasi massa terbesar NU dan Muhamadiyah sepakat memerangi berita bohong atau hoaks. “Di era masa kini yang penuh dengan tantangan, era teknologi yang bisa membuat masyarakat bisa diadu domba dan terpengaruh hoaks fitnah, kami NU dan Muhammadiyah perlu merapatkan barisan,” kata Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Sirodj, beberapa waktu lalu. Pernyataan ini diperkuat oleh  Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, yang mengatakan bahwa pada era digital ini perlu kehati-hatian yang lebih karena bertebarannya pelbagai macam berita hoaks, ujaran kebencian dan fitnah yang berpotensi mengganggu keutuhan bangsa.  

Tidak syak lagi, malapetaka sering timbul hanya karena desas-desus atau berita bohong atau hoaks, yang disebarkan mereka yang rusak moral, baik yang jahat maupun yang sekadar suka bohong. Sering pula berbentuk informasi yang sengaja didistorsikan, atau info yang memang salah.

Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. di Madinah, berita bohong yang dibawa seseorang hampir menimbulkan petaka, jika tidak disikapi secara hati-hati oleh Nabi.

Syahdan, berdasarkan riwayat Qatadah r.a., suatu hari Nabi s.a.w. mengutus Al-Walid ibn ‘Uqbah (Ibn Abi Mi’yath) r.a., sebagai amil zakat, kepada Bani  Mushthaliq. Ketika kaum itu melihat Walid, mereka menghambur menyambutnya. Tapi itu membuat Al-Walid takut (dalam satu riwayat: karena dendam yang ada di antara mereka, layaknya dari masa jahiliah),  dan karena itu ia kembali kepada Nabi.  Ia melapor bahwa  orang-orang Bani Musthaliq itu  sudah murtad alias keluar dari Islam.

Namun demikian, Rasulullah  tidak mentah-mentah menolak atau mengiyakan laporan Walid itu. Beliau  mengutus Khalid bin Al-Walid r.a., memerintahkannya menyelidiki masalahnya dan agar tidak bertindak buru-buru. Khalid berangkat, dan sampai ke sana malam hari. Lalu menyebarkan intel-intelnya. Khalid kemudian mendapat laporan dari para telik sandinya bahwa tidak benar Bani Musthaliq sudah keluar dari Islam. Bukti bahwa kaum itu masih  berpegang pada Islam,  mereka sendiri mendengar suara azan dan shalat mereka. Khalid pulang kepada Nabi s.a.w dan melapor. Setelah itu lalu turun ayat Alquran yang terjemahannya sebagai berikut: “Wahai orang yang beriman, apabila datang kepada kamu seorang fasik dengan berita besar, lakukanlah penyelidikan – kalau-kalau kamu menimpai suatu kaum akibat kebodohan, lalu menyesal oleh apa yang kamu lakukan.” (Al-hujurat: 6)   Di situ Nabi bersabda, “Sikap pelan-pelan (hati-hati; pen) datang dari Allah, sikap buru-buru datang dari setan.”

Dalam riwayat lain disebutkan, Bani  Mushthaliq tersebut baru saja masuk Islam. Walid, yang takut melihat orang-orang meloncat ke tunggangan mereka dan menuju ke arahnya, berbalik pulang dan melapor kepada Nabi: orang-orang itu ingin membunuhnya dan tidak bersedia menyerahkan zakat. Nabi lalu bermaksud menggunakan kekuatan senjata terhadap mereka. Dalam keadaan begitu, datang perutusan kaum itu. “Ya Rasulullah,” kata mereka. “Kami menghormatinya dan menunaikan zakat yang akan diterimanya, tapi ia balik pulang. Lalu kami mendengar, ia berdalih kepada Rasulullah bahwa kami keluar untuk menyerangnya. Demi Allah! Kami keluar bukan untuk itu!” Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat tadi.

Lalu apakah, dengan demikian, Al-Walid disebut fasik? Jika fasik diartikan pembohong, menurut pendapat Ibn Zaid,  Muqatil, dan Sahl ibn’Abdillah, r.a., sebagaimana dikutip Syu’bah Asa (2001)  dari Tafsir Qurthubi, Al-Walid bisa disebut fasik karena dia telah membuat hoaks. Tetapi menurut Abul Hasan Al-Warraq, seorang fasik adalah orang yang mengerjakan tindak dosa terang-terangan. Sedangkan menurut Ibn Thahir, orang yang tidak malu kepada Allah. Tetapi, menurut Thanthawi, yang lebih tepat ialah menganggap “seorang fasik” dalam ayat itu sebagai  sebuah ungkapan umum  — “fasik yang mana saja” –dan tidak harus Al-Walid ibn ‘Uqbah. Sebab, katanya. Walid sebenarnya hanya “keliru sangka, karena itu bukan fasik”. Jika memang demikian, laporannya kepada Nabi bahwa Bani  Mushthaliq “murtad dan menolak membayar zakat”, menurut Syu’bah,  adalah asumsi, bukan kebohongan.

Mufassir  lain yaitu  Zamakhsyari, tanpa bermaksud “mendiskreditkan” Al-Walid, mengingatkan sesuatu tentang tokoh ini. Ia adalah saudara kandung (satu ibu, lain ayah) Utsman bin Affan r.a. Ketika Utsman menjadi khalifah ia mengangkatnya sebagai penguasa Kufah menggantikan Sa’d ibn Abi Waqqash r.a., Nah, Walid pernah mengimami shalat subuh sambil mabuk, empat rakaat—-lalu bertanya: “Apa aku tadi menambah, ya?” Mendengar kabar tidak sedap itu, Khalifah Utsman lalu mencopot Walid.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda