Tasawuf

Zuhud Orang Awam, Khawwas, dan Kaum Arifin

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kata seorang sufi, kekayaan yang ada pada kita baru menjadi milik kita sesudah berpindah ke tangan orang.

“Ahlan. Selamat datang!” Perempuan itu menyambut tamu-tamunya. “Kalian bermaksud menghiburku? Kalau itu tujuan kalian, silakan pulang.”
Muadzah binti Abdillah Al-Adawi, alias Ummu Ash-Shahbah, baru saja kehilangan suami dan anak semata wayang. Mereka gugur di medan pertempuran melawan tentara kafir. Karena itu banyak ibu-ibu yang ingin berbela sungkawa. Tapi, seperti juga Asma binti Abu Bakr yang kehilangan putranya, Abdullah ibn Zubair, yang gugur ketika menghadapi pasukan Hajjaj yang bengis itu, Muadzah tidak merasa malang. Ia hanya malu kepada diri sendiri.

Dikisahkan, perempuan yang hidup sezaman dengan Rabi’ah Al-Adawiah ini tidak pernah mendongakkan kepalanya, selama hampir 40 tahun. Selalu berpuasa, dan melek terus di malam hari. Seorang sahabatnya mengingatkan “Apa tindakanmu itu tidak menyakiti diri sendiri?”
“Tidak ,” kata Muadzah. “Soalnya aku mengganti makan di waktu siang dengan di waktu malam. Tidur malam juga aku ganti siang hari.” Kegiatan rutinnya adalah sembahyang dan sembahyang. Tidak kurang dari 600 rakaat ia bersembahyang sehari semalam. “Aku heran kepada mata yang tertidur,” katanya. “Berapa lama ia akan memejam, di kubur nanti?”
Jika Al-Adawiyah lebih fokus pada mistisisme, atau “pengalaman”dalam dunia mistik, Ummu Ash-Shahbah lebih menitikberatkan diri pada kezuhudan. Ia memang pengikut tasawuf Al-Hasan Al-Bashri, yang hidupnya selalu dibayang-bayangi murka Allah. Bagi aliran ini, kesucian diri bisa diperoleh kalau seseorang bisa melepaskan ikatan cintanya dengan dunia (hubbud-dunya). Kata Al-Hasan, “Dunia ini laksana mimpi atau bayangan fana. Seorang bijak tidak bakal tertipu.”

Tidak berarti mereka membenci dunia. Mereka yakin, dunia adalah tempat bercocok tanam bagi akhirat. Nabi bersabda: “Dunia ini diciptakan untuk kamu, sedangkan kamu diciptakan untuk akhirat.”
Soalnya, bagaimana melepaskan ikatan cinta itu? Kata seorang sufi, kekayaan yang ada pada kita baru menjadi milik kita sesudah berpindah ke tangan orang. Rezeki memang tidak untuk dikangkangi, tapi untuk diedarkan. Nabi pernah menasihati Asma binti Abu Bakr, dan tentu saja kita semua: “Janganlah kamu mengumpulkan harta dan kemudian menumpuknya. Jika kamu berbuat demikian, Allah akan berbuat sebaliknya. Jangan pula kamu kikir. ……Berilah sebatas kemampuanmu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Mengutip gurunya, Syekh Abu Ali Ad-Daqqaq, Imam Qusyairi mengatakan bahwa kalangan ulama banyak yang berbeda pendapat sehubungan dengan zuhud. Ada yang mengatakan, zuhud dengan perkara yang haram saja, sebab perkara yang halal diterima Allah s.w.t. Apabila Allah memberikan berkat kepada Hamba-Nya berupa harta yang halal dan hamba itu bersyukur atas berkat itu, maka ia meninggalkan menurut upayanya, tanpa harus mengajukan hak izin untuk mengekangnya. Sebagian yang lain mengatakan, zuhud terhadap perkara yang halal merupakan suatu keutamaan.

Apabila hamba yang berzuhud miskin tetapi sabar terhadap keadaannya, bersyukur serta merasa puas atas segala sesuatu yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya, maka hal itu lebih baik ketimbang berusaha menimbun kekayaan berlimpah di dunia. Al-Qusyairi juga mengutip pendapat ulama lainnya. Misalnya, Sufyan Ats-Tsauri yang mengatakan bahwa zuhud terhadap dunia adalah membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar.

Ulama lain yang ia sering kutip pendapatnya tentang zuhud adalah Ahmad Ibn Hanbal. Menurut pendiri mazhab fikih Hanbali ini ada tiga macam zuhud. Pertama, zuhud kaum awam, yakni bersumpah menghindari perkara yang haram. Kedua, zuhud golongan khawwas, yaitu menjauhi sikap berlebih-lebihan. Ketiga, zuhud kaum ‘arifin, yaitu menjauhi apa pun yang memalingkan sang hamba dari Allah.

Sumber: Imam Al-Qusyairi an-Naisaburi, Risalah al-Qusyoiriyah (t.t)

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda