Cakrawala

Mencari Kejernihan

Konon ada dua cara untuk memahami dunia. Cara yang pertama: masuki dunia sampai ke lorong-lorongnya yang paling tersembunyi; pelajari dia habis-habisan. Bongkar semua penjelasan yang ada, intip struktur-strukturnya, telisik semua sisinya; kalau perlu sampai ke ruang-ruangnya yang paling semu sekalipun.

Inilah cara yang konon paling manjur untuk merebut ‘pengetahuan’ tentang dunia. Penguasaan atas ‘pengetahuan’ ini akan membuat kita tidak gampang tertipu oleh dunia lagi. Asumsinya: dengan pengetahuan, justru dunialah yang akan berada dibawah ‘kekuasaan’ kita.

Sebenarnya cara ini tampak meyakinkan, paling tidak sebelum Foucault bilang sebaliknya, ‘power is knowledge’. Celakanya, realitas peradaban modern sepertinya justru memberi banyak fakta untuk membenarkan pandangan ini.

Kalau pengetahuan boleh diibaratkan dengan cahaya, maka kekuasaanlah yang bakal menentukan kemana cahaya itu harus diarahkan, seberapa terang ia harus dibuat, pantulan warna apa yang harus dihasilkan, dan seterusnya.

Sehingga, meski pada suatu waktu dunia selalu tampak ‘seolah’ nyata, ‘seolah’ jelas, ‘seolah’ terpahami; pada kenyataannya dunia tak pernah habis dikelupas, dianalisa, disimpulkan; untuk kemudian diragukan, dipertanyakan, lantas dikelupas, dianalisa dan disimpulkan kembali sesuai dengan selera pengendalinya.

Itu baru satu sisi dari pengembaraan di dunia ‘pengetahuan. Sisi lain, yang lebih intrinsik, menunjukkan betapa banyak ketidakstabilan yang dengan gampang bisa di temui dalam   simpulan-simpulan pengetahuan itu sendiri.

Einstein, berdasar capaian pengetahuannya tentang keteraturan semesta, sampai pada kesimpulan adanya Sang Maha Pengatur. Sementara Hawking, berdasar capaian pengetahuan yang sama, justru menyimpulkan sebaliknya: tak perlu ada Maha Pengatur, karena semua sudah serba teratur. Ini contoh kecil saja, bahwa dalam pengetahuan sehebat apapun, unsur pembaca sangat berpengaruh pada hasil bacaannya.

Cara kedua justru kebalikan dari yang pertama, yakni dengan sama sekali ‘meninggalkan’ dunia. Kita tak perlu pusing-pusing mengembara kian kemari mengumpulkan ‘pengetahuan’ tentang dunia; tapi cukup dengan menyucikan diri dari segenap ‘gravitasi’ bumi, dan dari sana kita menjelajah diri sendiri sampai titik terjauhnya. Dengan cara ini orang akan memiliki kejernihan untuk ‘memahami’ segenap tingkah dunia, tanpa harus terjebak oleh tipuan-tipuan kemungkinannya.

Ada catatan menarik dari Syaikh Ahmad Al ‘Alawi, seorang sufi dari Aljazair. Ketika dia diperintah oleh gurunya untuk mengelola diri, muncul kebimbangan dalam dirinya: jangan-jangan nanti pengetahuannya tertinggal dari kawan-kawan seangkatannya, karena selama mengelola diri dia hampir tak punya kesempatan untuk belajar dari kitab-kitab yang ada.

Gurunya menepis kebimbangan ini dengan mengatakan bahwa kelak justru dialah yang akan jadi panutan, tempat bertanya kawan-kawannya. Dan memang kemudian terbukti, bahkan bukan cuma kawan-kawannya yang datang untuk belajar tentang banyak hal, tapi juga orang-orang lain, termasuk banyak intelektual dari Eropa dan Amerika.

Tampaknya kita tidak memiliki kemauan yang cukup untuk melakukan salah satu dari kedua cara tersebut. Dan sebagai akibatnya, kita jadi serba tanggung. Lewat cara pertama, kita cuma menghasilkan pengekor-pengekor, yang sudah pasti tidak berani kreatif menerobos batas-batas yang diciptakan tuannya.

Sementara cara kedua cuma berhasil melahirkan mistikus-mistikus palsu yang berlagak wali atau kalau perlu nabi, yang beroperasi dengan klaim-klaim ukhrawi untuk meraup sebesar-besar keuntungan duniawi, apapun wujudnya.

Paling tidak, begitulah fakta-fakta yang dengan gampang bisa kita temukan di medan realitas keseharian kita. Saya tak tahu, apakah hal-hal inilah yang selama ini membuat langkah kita ke depan selalu terseok-seok?

Kita kehilangan kejernihan untuk memandang dan mengurai realitas, bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita tidak mau. Kita tidak mau karena gampang terpikat dengan kemilau keuntungan jangka pendek. Padahal, dilihat dari perspektif akhirat, semua kepentingan dunia -apapun bentuknya dan betapapun panjangnya- pada dasarnya tetap bisa dipandang sebagai kepentingan jangka pendek juga.

Semoga Allah tidak bosan membimbing dan menunjukkan betapa bertubi-tubinya kepandiran kita selama ini.

*Anis Sholeh Ba’asyin seorang budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah sekaligus pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka