Muzakarah

Apa Khasiat Al-Qur’an?

Membaca Al Quran dengan tartil memberi manfaat kepada kaum muslim (foto : Hashem Islami/Pixabay)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Dulu saya biasa berpikir, Al-Quran itu jangan cuma dibaca, apalagi cuma dilantunkan, seperti yang dilakukan para qari dan qari’ah. Apa guna membaca kalau tidak paham artinya. Al-Quran kan harus dipelajari dan dihayati artinya. Namun, akhir-akhir ini, ketika saya pulang kampung, saya mendapatkan ketenangan kalau menyimak orang membaca Quran di surau. Menurut orang- orang kampung saya, Surah Yasin, juga surah-surah lainnya seperti Al-Waqi’ah, mempunyai beberapa faedah. Betulkah demikian, Ustadz?

Fitri Andriani (Anyer, Serang, Jawa Barat)

Jawaban:

KH Ali Musthofa Ya’qub, Pengasuh Pesantren Darus Sunnah Jakarta

Di kalangan kaum modernis memang ada kecenderungan untuk “mengecilkan” arti pembacaan Al-Quran, terutama jika tidak disertai penghayatan terhadap kandungan isinya. Dan di kota-kota besar, semakin menyusut kebiasaan membaca Al-Quran. Sementara di kampung-kampung dan kota-kota kecil masih berkembang ajaran atau keyakinan bahwa surah-surah atau ayat-ayat tertentu memiliki khasiat dan keistimewaan. Tapi, betulkah itu?

Imam Jalaluddin As-Suyuthi, seorang ulama sangat produktif yang hidup pada abad ke-10 H, menulis dalam bukunya Tadribur Rawi bahwa sebagian besar hadis mengenai fadhilah (khasiat) bacaan Al-Quran itu palsu. Nuh ibn Abi Maryam, seorang ulama Irak abad ke-2 yang sebenarnya cukup salih/ disebut mengaku telah membuat 20.000 hadis palsu, sebagian besar mengenai fadhilah bacaan Al-Quran. Ketika ditanya mengapa berbuat begitu, ia menjawab, “Karena sekarang banyak orang yang tidak mau belajar Al-Quran.”

Meski begitu, kata As-Suyuthi, tidak semua hadis sejenis itu palsu. Ada pula yang sahih dan hasan, termasuk hadis-hadis tentang khasiat surah-surah Al-Fatihah dan Yasin, Al-Waqi’ah dan semacamnya. Meski ada pula hadis- hadis mengenai surah-surah tersebut yang palsu. Misalnya, seperti disebut Al-Harawi dalam bukunya Al- Mashnu’ fi Ma’rifatil Haditsil Maudhu’, hadis-hadis “Al- Faatihatu limaa quriat lahu” (Surah Al-Fatihah itu bisa dipakai untuk tujuan apa saja, tergantung niat pembacanya) dan “Yaasin limaa quriat lahu” (Surah Yasin apa kata niatnya).

Dik Fitri, janganlah banyaknya hadis palsu mengenai bacaan Al-Quran dijadikan sandaran untuk “mengecilkan” arti pembacaan Al-Quran. (Meski tentu saja, mendalami dan menghayati isinya jauh lebih penting). Karena ada perintah untuk itu dalam Al-Quran. “Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Quran” (Q.S 73:20).

Mungkin Anda katakan: yang dimaksud di situ bisa mempelajari dan menghayati isinya. Baiklah. Tapi, pada ayat lain ada perintah yang lebih tegas, “Dan bacalah Quran dengan tartil,” Tartil berarti: membaca pelan-pelan dan dengan jelas hurufnya. Hal ini dipertegas lagi dalam hadis: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Quran, maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan itu (diganjar) dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan, alif-lam-mim itu satu huruf tapi, alif itu satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf pula” (riwayat At- Tirmizi). Berdasarkan dalil-dalil itu, para ulama sepakat, membaca Al-Quran terhitung ibadah.

Dik Fitri, para ulama juga sepakat, boleh berwasilah (tawassul) dengan amal saleh. Dalam satu hadis riwayat Al- Bukhari, Rasulullah s.a.w. bercerita tentang tiga orang yang terjebak dalam satu gua. Ada batu besar yang jatuh dan menutupi mulut gua. Setelah mereka berdoa sambil menyebut kebaikan yang pernah mereka lakukan, ajaib, batu itu bergeser dengan izin Allah. Karena membaca Al-Quran tergolong amal saleh, maka boleh pula kita memakainya sebagai wasilah (perantara) untuk mendukung doa kita.

Di samping itu, seperti saya sebut tadi, ada hadis-hadis sahih yang menyebut secara khusus keistimewaan surah- surah atau ayat-ayat tertentu. Aisyah, seperti termaktub dalam Shahihul Bukhari, bertutur, jika Nabi merasa sakit, beliau membacakan surah-surah Al-Falaq dan An-Nas pada bagian tubuh yang sakit. Dan jika sakit beliau sudah demikian parah, Aisyah yang membaca lalu mengusapkan tangan beliau ke bagian yang sakit. Mengenai Surah Al- Ikhlash (Qul Huallahu Ahad), beliau bersabda, “Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, dia (Al-Ikhlash) sebanding dengan sepertiga Al-Quran” (riwayat Al-Bukhari). Begitupun dengan ayat kursi, dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah, Al-Fatihah, dan lain-lain; ada hadis-hadis sahih yang menyatakan tentang keistimewaannya.

Artikel ini telah terbit di Majalah Panji Masyarakat No.19 tahun 2 26 Agustus 1998

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda