Cakrawala

Islam dan Yahudi (1): Terkikisnya Hegemoni Ahli Kitab

Pemandangan kota Madinah saat ini (foto : Konevi/Pixabay)
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Kaum Yahudi mendorong para penyembah berhala  untuk mengakui Muhammad sebagai  Nabi. Selain merupakan orang-orang yang mapan secara  ekonomi karena menguasai perkebunan, mereka  lebih terpelajar karena menguasai Kitab.

Para khatib Jumat dan penceramah agama (dan belakangan para tentara cyber muslim)  kerap mengutip ayat surat Al-Baqarah ayat 120: “Walan tardha ‘ankal yahudu laisatin nasharaa hatta tattabi’a millatahum (Tidak akan rido kepada engkau baik Yahudi maupun Nasrani sampai engkau ikut agama mereka).”

Itu  terutama  jika muncul peristiwa yang terkait atau dikait-kaitkan dengan “perlakuan” orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kaum Muslim atau kepentingan Islam atau kejayaan Islam. Mulai dari soal serangan Israel terhadap Palestina (yang tentu saja penduduknya bukan hanya Islam), keterlibatan  Amerika dalam krisis di Timur Tengah, berkembangnya terorisme yang sesungguhnya sengaja disponsori oleh negara-negara Barat untuk menghancurkan Islam dari dalam, sampai urusan pemilu dan pilpres.  Persoalan-persoalan politik yang sebagian besarnya bersumber dari ketidakadilan, oleh para khatib dan penceramah dan kaum “pembela Islam” itu sebagai urusan akidah. Bahkan ketika mendiang Presiden Abdurrahman dulu mewacanakan untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel, oleh para khatib ditangkal lewat ayat “walan tardha’tadi. Sampai-sampai Gus Dur pun mengeluarkan sanggahan yang tidak kalah kocaknya. Kurang lebih dia mengatakan, bahwa orang-orang Yahudi adalah orang beragama,  ahli kitab pula, tidak seperti orang Rusia  atau RRT yang komunis.

Ayat di atas sebenarnya merupakan rekaman atas interaksi kaum Muslim dan Yahudi yang semula damai tetapi kemudian kisruh. Sejarah mencatat, di Madinah  kaum Yahudi (juga Nasrani) menempati lapisan atas dalam struktur masyarakat di kota yang semula bernama Yatsrib ini.  Namun, keberadaan Nabi di Madinah, yang semula mereka sambut dengan senang hati, lama-kelamaan dirasakan sebagai ancaman bagi kedudukan mereka yang sudah established. Hegemoni mereka sebagai orang-orang kaya terusik oleh kehadiran kelas ekonomi baru di kalangan kaum Muslim yang sejak dari Mekkah memang sudah dikenal sebagai orang-orang kaya dan pandai berniaga. Sementara untuk kaum Muslim yang ekonominya kurang beruntung Nabi mendistribusikan zakat untuk mereka, selain harta yang diambil dari pampasan peran. Sebagai kelompok terpelajar atas penguasaan mereka terhadap Kitab, juga mendapat saingan karena Nabi juga menawarkan sumber-sumber pengetahuan yang berasal dari Alquran. Itulah sebabnya mereka tidak suka mendapat saingan baru yang dilukiskan Alquran dengan kalimat Walan tardha itu.

Adalah warga Yahudi (Bani Nadhir dan Bani Quraidzah) yang membuat kota ini menjadi pusat pertanian terkemuka. Mereka adalah suku Arab keturunan Aramik yang telah menganut agama Yahudi. Meski begitu, intinya mereka adalah Bani Israil alias orang Israel yang lari dari Palestina saat ditaklukkan Romawi pada permulaan tahun Masehi. Sedangkan Aus dan Khazraj merupakan dua suku non-Yahudi yang berasal dari Yaman. Anehnya,  yang mendorong para penyembah berhala  untuk mengakui Muhammad sebagai  Nabi adalah warga Yahudi tadi. Selain merupakan orang-orang yang mapan secara  ekonomi karena menguasai perkebunan, orang-orang Yahudi ini  lebih terpelajar karena menguasai Kitab. Dan bersama orang-orang Nasrani yang juga mayoritas pendatang di Madinah mereka, sebagaimana disebut Alquran, sebagai ahli kitab. Karena itu mereka (Yahudi dan Nasrani) sebelum kedatangan Nabi menempati  lapisan atas dalam strata sosial Kota Madinah. Sedangkan Arab Yaman yang penyembah berhala tadi (sebagian kecilnya menganut sisa-sisa agama Nabi Ibrahim) berada di lapisan bawah. Struktur sosial ini kemudian terjungkal karena golongan rendahan yang menjadi pengikut Nabi tadi “menyodok ke atas”.

Orag-orang Yahudi Madinah memang tidak rela melihat Nabi dan kaum muslimin yang telah membawa banyak perubahan di Madinah, dan dengan sendirinya ikut mengikis hegemoni kaum Yahudi. Sampai Nabi mengikuti  agama (millah) mereka? Bukankah semula mereka cocok-cocok saja dengan kehadiran Nabi baru, dan bahkan menyemangati para penyembah berhala untuk memeluk Islam?

Sejatinya, seperti dikemukakan sejumlah mufassir, itu tidak berarti Nabi Muhammad dan kaum Muslim di Madinah harus ikut agama mereka alias menjadi Yahudi (atau Nasrani). Tetapi menjadikan mereka sebagai panutan atau suri tauladan, atau menjadikan mereka sekelompok acuan. Satu hal yang sering dilupakan, seperti halnya Budha dan Hindu-Bali, Yahudi bukanlah agama dakwah. Sebagai “bangsa pilihan”, orang Yahudi (yang identik dengan  bangsa, ras dan agama sekaligus) pada dasarnya menganggap agama mereka hanya untuk mereka.  Ini tentu berbeda dengan kaum Muslim  dan Nasrani yang memiliki semangat untuk menambah jumlah umat.

Membaca ayat dengan sama sekali mengabaikan konteks, sering membawa kekeliruan dalam melihat persoalan. Tidak sedikit yang dikira sebagai problem agama, seperti pendudukan Israel atas Palestina yang sekarang berusia 50 tahun, menjalin hubungan investasi dengan komunis Tiongkok,   apalagi pemilihan kepala negara atau kepala daerah, sesungguhnya  bukan problem akidah yang memiliki konsekuensi keselamatan di akhirat.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda