Adab Rasul

Inilah yang Membuat Aisyah Takjub Pada Rasulullah

Di bawah kubah yang sekarang menjadi bagian dari Masjid Nabawi, Rasulullah dimakamkan (foto : Abdullah Shakoor/Pixabay)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Apa yang membuat Nabi s.a.w.  menangis? Bukankah Allah sudah mengampuni dosa-dosa Rasulullah, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?

“Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan pada diri Rasulullah, menurut pengalaman Anda.” Permintaan itu diajukan ‘Atha dan Ubaid bin Umair ketika mereka mengunjungi Aisyah r.a., seperti diriwayatkan oleh Yahya bin Ya’la dari Abu Khabab.

“Adakah yang beliau lakukan, yang tidak mengagumkan?” Aisyah bertanya kepada kedua tamunya, sambil menangis.

“Maafkan. Bukan begitu maksud kami.”

Demikian,  kita sadur dialog selanjutnya. Dan Aisyah pun bercerita:  “Suatu malam,” katanya, “beliau datang kepadaku. Kami pun tidur di tempat biasanya, sehingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa saat, beliau berkata, ‘Wahai Putri Abu Bakr, kau izinkanlah aku bangun untuk beribadah kepada Tuhanku.’ Aku menjawab, ‘Saya senang berdekatan dengan Bapak, tapi saya mengizinkan’. Beliau pun bangun, berwudu, lalu salat.”

“Kemudian?”

Aisyah meneruskan ceritanya. “Rasulullah mulai menangis,” katanya. “Dadanya basah. Beliau rukuk, terus menangis, sujud, terus menangis, mengangkat kepala, terus menangis. Begitu terus sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk salat subuh. Tentu saja saya takjub.”

“Lalu?”

“Saya bertanya, ‘Apa yang membuat Rasulullah menangis? Bukankah Allah sudah mengampuni dosa-dosa Rasulullah, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?”

“Jawab beliau?”

“Katanya, ‘Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? Bagaimana aku tidak menangis  sedangkan Allah sudah menurunkan ayat ini kepadaku: ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan perbedaan siang dan malam, dan bahtera yang berlayar di laut membawa semua yang berguna bagi manusia, dan hujan yang diturunkan dari angkasa, yang dengan itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya, dan dia sebarkan di dalamnya setiap binatang melata, dan perputaran angin dan awan-awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi mereka yang menggunakan akal.’ (Q. 2:164).”

Pada Nabi, syukur bukan sesuatu yang mewujud dalam, misalnya, kalimat otomatis “Marilah kita panjatkan puji dan syukur…” atau yang  diekspresikan dalam acara jamuan makan-makan sambil ber-hahahehe, yang kedua-duanya lazim kita lakukan. Tetapi, sesuatu yang dalam dan religius. Di dalamnya ada unsur mengingat Allah secara intens.

Jadi syukur, sebagaimana halnya sabar dalam menghadapi cobaan, adalah sebuah usaha yang mengantarkan kita kepada kemampuan menghargai dan menggunakan nikmat Allah itu. Bukan penggunaan untuk bermaksiat kepada Allah. Misalkan Anda terlanjur mempersepsikan jabatan politik sebagai nikmat yang pantas disyukuri, dan bukan amanat yang harus diwaspadai, well, tapi jangan gunakan kedudukan Anda itu untuk perbuatan durhaka. Kata Al-Junaid, “Syukur hakikatnya tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda