Cakrawala

Tujuh Langit dan Agama Cinta

Masjid Al Aqsa yang menjadi tempat Nabi Muhammad SAW mi'raj ke langit ketujuh (ilustrai foto : Rwayne307/Pixabay)
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Saat mi’raj, Rasulullah melampaui tujuh langit. Sebagaimana dikabarkan lewat hadits, di setiap langit ada Nabi yang menemui beliau. Ada delapan Nabi yang disebut dalam peristiwa tersebut.

Di langit pertama, beliau ditemui Nabi Adam alaihi salam. Di langit kedua, nabi Isa alaihi salam dan nabi Yahya alaihi salam. Di langit ketiga, nabi Yusuf alaihi salam. Di langit ke empat, nabi Idris alaihi salam. Di langit ke lima, nabi Harun alaihi salam. Di langit ke enam, nabi Musa alaihi salam. Di langit ke tujuh, nabi Ibrahim alaihi salam.

Ada banyak tafsir yang bisa ditempelkan pada informasi ini, salah satunya dengan menelisik keutamaan Nabi-nabi tersebut untuk mencoba meraba dan memahami pengertian tujuh langit.

Kita mulai dari nabi Adam alaihi salam. Secara langsung Adam diajari oleh Allah nama-nama benda keseluruhannya (QS 2:31). Dari informasi ini, kita bisa mengatakan bahwa Adam telah menguasai seluruh pengetahuan tentang benda-benda, tentang hal-hal yang bersifat materi, jasad; dan dengan demikian kehadirannya dianggap mewakili alam tersebut. Dari sini bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan lapis langit pertama adalah alam benda, materi.

Di langit kedua, yang tampil adalah nabi Yahya dan nabi Isa. Dari kata Yahya saja kita bisa meraba bahwa ini berkait dengan hidup, kehidupan. Nabi Isa alaihi salam, juga nabi Yahya alaihi salam, antara lain dikenal karena kemampuan penyembuhannya; bahkan nabi Isa alaihi salam mampu menghidupkan orang mati. Dari sini bisa dikatakan bahwa kehadiran mereka mewakili pengetahuan tentang hidup dan kehidupan. Kalau kita terima pemahaman ini, maka bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan langit kedua adalah alam hayat, alam kehidupan; yang sudah dimulai dengan adanya tumbuh-tumbuhan.

Di langit ketiga, hadir nabi Yusuf alaihi salam. Yang segera tampak paling menonjol dari nabi Yusuf adalah kemampuannya mengendalikan nafsu; salah satu yang terkenal adalah kisahnya dengan Zulaikha. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa kehadiran nabi Yusuf di langit ke tiga, menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan langit ke tiga adalah alam nafsu, yang mulai ada di dunia binatang.

Sementara di langit ke empat, hadir nabi Idris alaihi salam, nabi yang dari namanya saja yang berasal dari kata darasa yang artinya belajar, bisa kita pakai untuk meraba makna langit ini. Nabi Idris memang dikenal sangat rajin mengkaji ajaran Allah, yang diturunkan kepada Adam dan Nabi Syits. Ia adalah manusia pertama yang pandai baca tulis dengan pena. Kepada Idris-lah Allah memberikan 30 lembaran ajaran, berisi petunjuk untuk disampaikan kepada umatnya. Nabi Idris diberi bermacam-macam pengetahuan, antara lain, merawat kuda, ilmu perbintangan (falak), sampai ilmu berhitung alias matematika. Nabi Idris juga orang yang pertama pandai memotong dan menjahit pakaiannya. Orang-orang sebelumnya konon hanya mengenakan kulit binatang secara sederhana dan apa adanya untuk dijadikan penutup aurat.

Dari penjelasan ini, bisa dikatakan bahwa langit ke empat adalah alam akal, alam yang mulai menggejala sejak dari dunia manusia.Di langit ke lima hadir Nabi Harun alaihi salam. Ciri menonjol dari nabi Harun adalah sifat pengasihnya, tidak tega bila sampai manusia harus berkonflik. Saat nabi Harun dititipi untuk memimpin bani Israil selama empat puluh hari, karena nabi Musa harus pergi untuk menerima wahyu Allah, terjadilah peristiwa penyembahan patung sapi emas yang diprakarsai oleh Samiri. Terhadap peristiwa ini, nabi Harun tak mengambil tindakan apa-apa kecuali mengingatkannya secara lisan. Alasannya: nabi Harun kuatir tindakannya justru akan menimbulkan perpecahan di kalangan bani Israil (QS 20:94). Sifat pengasih, yang selalu berupaya menghindari konflik dan perpecahan seperti yang ditunjukkan oleh nabi Harun ini adalah ciri utama dari iman.

Dengan kehadiran nabi Harun, bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan langit ke lima adalah alam iman. Alam yang muncul dari kesadaran manusia akan adanya zat yang mutlak, yaitu Tuhan. Dari manusia menuju Tuhan.

Bila iman mengisyaratkan arah mendekat dari manusia menuju Tuhan, maka pada tahap lanjut, sebagai pasangannya akan datang berita-berita dari Tuhan. Berita ini tentu saja bukan sembarang berita, tapi berita tentang kebenaran untuk dijalani manusia. Mulai dari yang dinamai sebagai ilham sampai yang tertinggi disebut wahyu. Meski hakikatnya hampir sama, namun masing-masing dianggap memiliki perbedaan bentuk, isi dan cakupan maknanya.

Tentu saja yang dianggap paling tinggi peringkatnya adalah wahyu. Wahyu inilah yang disebut sebagai ‘berita besar’ dari Allah, atau dalam bahasa Arab disebut sebagai naba’un. Dari kata ini muncul kata nabiyyun, yang dalam bahasa Indonesia kita sebut nabi. Nabi adalah pembawa berita atau orang yang memperoleh berita dari Allah.

Karena sifat berita ini bagi orang lain akan selalu bersifat ‘ghaib’; dan sulit diverifikasi kebenarannya; maka setiap kehadiran Nabi selalu disertai dengan adanya mukjizat sebagai hujjah atau argumen untuk mendukung kenabiannya (kalau kewalian akan disertai dengan karomah dan seterusnya).

Nah, diantara Nabi-nabi yang ada, yang mukjizatnya paling spektakuler adalah nabi Musa alaihi salam. Tongkatnya bisa berubah jadi ular raksasa, membelah laut, mengeluarkan dua belas mata air dari batu, munculnya cahaya putih tanpa cacat dari telapak tangannya, menanyai orang mati tentang pembunuhnya, sampai munculnya taufan, belalang, kutu, katak dan darah.

Dari penjelasan ini, bisa diperkirakan bahwa kehadiran nabi Musa alaihi salam di langit ke enam adalah untuk menunjukkan bahwa langit ini adalah langit atau alam kenabian. Meski demikian, pada dasarnya berita yang diterima oleh para Nabi dari Tuhan, sifatnya masih terpenggal-penggal, juz’iyyah, masih bagian-bagian, belum utuh sebagai sebuah ajaran. Sehingga menurut pendapat sebagian ulama’; nabi tidaklah mesti mengajar pada ummatnya. Jumlah Nabi sangat banyak, ada yang mengatakan jumlahnya 124.000 Nabi.

Meski sama-sama berita dari Tuhan, tapi dalam bentuknya yang lebih utuh, kulliyah, bersifat menyeluruh sebagai sebuah ajaran disebut sebagai risalah, dan pembawanya disebut Rasul, utusan pembawa risalah, ajaran. Konon ada 313 Rasul (ada yang mengatakan 315); tapi yang dikenalkan, atau wajib dikenal hanya 25 Rasul.

Dari 25 Rasul ini, sebagian besar adalah keturunan Ibrahim alaihi salam; sehingga salah satu sebutan beliau adalah Bapak Para Nabi. Di samping itu, sejak nabi Ibrahim alaihis salam-lah ajaran atau risalah yang utuh tentang tauhid mulai diajarkan. Dan sejak itu secara estafet terus diajarkan sampai Nabi terakhir, Muhammad shalallhu alaihi wa salam.

Di langit ke tujuh, Rasulullah dijumpai Nabi Ibrahim alaihi salam. Artinya, langit ke tujuh adalah langit risalah, alam risalah; yang ditandai dengan kesadaran tauhid yang utuh dan sekaligus berjejak pada kesadaran manusia sebagai ummatan wahidah, ummat yang tunggal.

Inilah sidratul muntaha pohon terakhir bagi pengetahuan dan ilmu manusia. Tak mengherankan bahwa, seperti dikisahkan dalam hadits isra’ mi’raj Nabi, malaikat Jibril berhenti di titik ini, dan tak bisa melangkah lebih jauh lagi. Jibril adalah malaikat penyampai pengetahuan dan ilmu bagi manusia; sementara setelah sidratul muntaha hanya ada Allah, yang tak mungkin secara utuh terbahasakan oleh pengetahuan dan ilmu manapun.

Seperti diceritakan dalam hadits, Jibril akan hangus terbakar bila memaksakan diri untuk melangkah lebih jauh dari sidratul muntaha. Maka Rasulullah melanjutkan perjalanannya sendirian memasuki (apapun namanya) yang sepenuhnya menjadi hak Allah.

Pertanyaannya: bila pengetahuan dan ilmu yang menggejala dari langit pertama hingga ke tujuh sudah tak lagi berguna (bahkan yang berupa naba’ dan risalah sekalipun), dan bahkan akan terbakar bila dibawa, maka apa yang sebenarnya dibawa oleh Rasulullah untuk masuk kesana? Jawabannya mungkin bisa kita ambil dari surat Ali Imran ayat 31 “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”.

Kalau kita pakai ayat tersebut sebagai pegangan; maka ajaran atau agama yang dibawa nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam sejatinya adalah agama cinta. Redaksi ayat tersebut jelas menegaskannya: kalau kamu mencintai Allah, ikutlah aku. Mengikuti Rasulullah adalah karena mencintai Allah dan agar dicintai oleh Allah. Di jalan cinta. Dalam agama cinta.

Dan memang, cinta adalah pemberian terbesar dari Allah bagi manusia. Hanya dengan berbekal cinta-lah, Rasulullah bisa melampaui segala pengetahuan dan ilmu yang berpuncak di sidratul muntaha, untuk langsung berjumpa Allah.

Memang, sejatinya hanya cintalah yang bisa dipakai manusia untuk mendekati-Nya. Karena kalau ukurannya murni ketaatan, malaikat bermilyar kali lebih taat dari manusia; sehingga apapun ketaatan manusia tidak pernah bisa menandingi malaikat. Apalagi kalau ukurannya sekadar pengetahuan atau ilmu.

Kalau nalar ini kita terima, rasanya tidak tepat menyebut bahwa pelajaran penting dari mi’raj Nabi adalah tentang sholat. Yang lebih hakiki dari mi’raj adalah tentang cinta, dan shalat adalah bahasanya.

Ditulis dengan ta’dzim untuk Allahyarham Syaikh Ahmad Zuhri.

*Anis Sholeh Ba’asyin seorang budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah sekaligus pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Tinggalkan Komentar Anda