Tasawuf

Tiga Golongan Manusia dalam Menghadapi Hawa Nafsu

Nafsu amarah menimbulkan tindakan khianat dengan segala akibat-akibatnya. Enggan menerima nasihat dan petunjuk yang baik.(foto : Olichel Adamovich/Pixabay)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Nafsu amarah menimbulkan tindakan khianat dengan segala akibat-akibatnya. Enggan menerima nasihat dan petunjuk yang baik. Bahkan semua nasihat dan petunjuk dianggap lawan.

Rasulullah  s.a.w. bersabda: “Hal yang kutakutkan dari umatku  adalah pengumbaran hawa nafsu dan panjang lamunan. Mengumbar nafsu memalingkan manusia dari kebenaran (al-haqq), sedangkan melamun panjang membuat orang lupa kepada akhirat. Karena itu ketahuilah, melawan hawa nafsu adalah modal ibadah” (H.r Hakim dan Dailami).

Ada tiga golongan manusia dalam perjuangannya melawan hawa nafsu. Pertama,  orang-orang yang keok dan diperbudak oleh hawa nafsu mereka. “Adakah engkau lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (Q.25:43).

Kedua, orang yang jatuh-bangun ketika melawannya. Inilah golongan menengah atau kaum kebanyakan seperti kita umumnya, yang selalu diingatkan Rasulullah bahwa orang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu. Dan sebagai lazimnya orang kebanyakan, suatu saat dia menang, pada saat yang lain dia kalah, tetapi yang penting: tidak menyerah.

Ketiga, mereka yang dalam derajat para nabi dan wali. Yakni orang-orang yang sudah mengalahkan nafsu sendiri. Dia yang memerintah dan bukan hawa yang mengendalikan. Rasulullah bersabda: “Tidak seorang pun ada syaitan. Allah telah menolongku menghadapinya sehingga aku bisa menaklukkannya. “ 

Allah berfirman: “Adapun orang yang gentar di hadapan kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari hawa, maka sorgalah tempat tinggalnya” (Q. 79: 40-41). Rasulullah  s.a.w. menggambarkan perang melawan hawa nafsu sebagai sebuah jihad. Ini dikatakannya setelah pulang dari Perang Badar melawan musyrikin Quraisy yang dimenangkan kaum muslimin. “Kita kembali dari jihad kecil menghadap jihad besar?”

“Apa yang dimaksud dengan jihad akan kita hadapi itu?”

“Berjihad melawan hawa nafsu.”

Nafsu Terpuji dan Nafsu Tercela

Imam Ghazali, dalam kitabnya  Ihya’ Ulumiddin,  membagi nafsu dalam beberapa golongan. Pertama, nafsu amarah. Yakni nafsu yang belum mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, belum mendapatkan tuntunan, belum dapat menentukan yang bermanfaat dengan yang mafsadat, tetapi pada dasarnya nafsu ini mendorong pada perbuatan yang tidak terpuji.

Nafsu amarah menimbulkan tindakan khianat dengan segala akibat-akibatnya. Enggan menerima nasihat dan petunjuk yang baik. Bahkan semua nasihat dan petunjuk dianggap lawan. Dianggap pula sebagai penghalang tujuan. Ia gembira menerima bisikan iblis dan setan yang menyesatkan. Semua yang bertentangan dengan keinginannya dianggap musuh. Sebaliknya semua yang sejalan dengan kehendaknya dianggap sahabat karibnya.

Kedua, nafsu lawwamah. Ini adalah nafsu yang memiliki rasa insaf dan menyesal setelah melakukan suatu pelanggaran. Ia tidak berani melakukan sesuatu dengan terang-terangan, tetapi dengan sembunyi-sembunyi. Sebab ia tahu akibatnya. Hanya saja nafsu ini, belum bisa mengekang nafsu jahat. Karena itu nafsu lawwamah selalu cenderung pada perbuatan maksiat dan mafsadat. Setelah mengerjakan sesuatu yang buruk, maka nafsu itu merasa menyesal. Kemudian berharap agar kejahatan itu tak terulang kembali. Bahkan ia berharap mendapat ampunan atas dosa yang telah dilakukan.

Ketiga, nafsu musawwalah. Ini adalah nafsu yang dapat membedakan antara nafsu baik dan buruk. Meskipun menurut nafsu ini, mengerjakan yang baik dan yang buruk sama saja. Orang yang memiliki nafsu ini melakukan keburukan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, tidak berani dengan terang-terangan. Sebab sudah ada rasa malu terhadap orang lain yang mengetahui keburukan itu. Jadi posisi nafsu ini, masih condong pada maksiat ketimbang kebaikan. Kelebihannya, ia masih mau bertanya pada akalnya terlebih dulu sebelum berbuat sesuatu. Jadi ia berusaha agar tindakannya jangan sampai diketahui orang lain.

Keempat, nafsu mulhamah. Pemiliknya adalah orang yang mendapatkan ilham dari Allah, dikarunia ilmu pengetahuan dan akhlak yang terpuji. Nafsu ini merupakan sumber kesabaran, rasa syukur, dan keuletan dalam melakukan kebaikan.

Kelima, nafsu raadhiyah.  Yakni, nafsu yang diridhai Allah. Di sini Anda sudah memiliki sikap yang baik, mensyukuri nikmat, qanaah atau merasa puas dengan apa  adanya.

Keenam, nafsu mardhiyah.  Adalah nafsu yang diridhai Allah. Yaitu keridhaan yang dapat terlihat pada anugerah yang diberikan-Nya, berupa: senantiasa berzikir, ikhlas, memiliki karamah, dan mendapatkan kemulian.

Ketujuh, nafsu kamilah. Yakni nafsu yang sudah sempurna baik bentuk maupun dasarnya.

Kedelapan, nafsu muthmainnah. Nafsu yang membikin jiwa bisa tenang, yang mampu melahirkan sikap dan perbuatan yang terpuji, membentengi diri dari serangan kejahatan dan kekejian. Mendorong kebaikan dan  menghindarkan diri dari pekerjaan yang keji dan yang mungkar. Dapat kita simpulkan, garis besarnya nafsu terbagi dua, yakni nafsu tercela dan nafsu terpuji. Yang pertama, nafsu yang mendorong kita kepada kehendak-kehendak jahat. Yang kedua, nafsu yang mengarahkan kita kepada hal-hal kebaikan, seperti mencari penghidupan yang halal, menambah ilmu dan meningkatkan keterampilan

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda