Cakrawala

Tanda-tanda Zaman

Banyak penghambaan” (ta’bid) baru umat manusia, yang berlawanan dengan semangat ajaran pokok Islam yaitu tauhid, (ilustrasi foto : Steven Spassov/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Muncul berbagai bentuk penghambaan (ta’bid)  baru umat manusia, yang berlawanan dengan semangat ajaran  tauhid. Agama pun seakan kehilangan elan vital.   

Konon, kita hidup di sebuah zaman yang penuh paradoks, serba bertentangan. Telah kita ketahui, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa pesat, ternyata juga dibarengi dengan proses kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam secara tidak kendali. Tidak kalah pentingnya adalah, bahwa manusia modern sekarang, termasuk kaum muslimin, telah mengalami proses sekularisasi kehidupan yang menyebabkan hilangnya keseimbangan-keseimbangan hidup yang bersifat religius.

Sekarang, kehidupan kita diwarnai oleh kecenderungan yang bersifat serba bebas, serba boleh, serba menafikan nilai, sehingga memberi peluang bagi tumbuhnya anti-agama (agnotisme) dan anti-Tuhan atau atheisme. Semua atas nama kebebasan dan hak azasi manusia. Agama tinggal menjadi dongeng masa lalu, nilai-nilai yang diusungnya sudah lapuk. Bahkan,  lebih jauh lagi agama telah menjadi sumber konflik yang berkepanjangan, dan menjadi alat legitimasi untuk melakukan tindak kekerasan dan terorisme. Keadaan semacam ini tentu saja amat paradoks dengan risalah atau misi yang dibawa agama sebagai rahmatan lil-‘alamin.

Dalam pada itu, pada era global yang ditandai dengan kemudahan bagi umat manusia untuk menjalin hubungan, silaturahmi, yang serba-melintas, kita menyaksikan “penghambaan” (ta’bid)  baru umat manusia, yang berlawanan dengan semangat ajaran pokok agama yaitu tauhid, mengesakan Tuhan, yang justru berfungsi membebaskan berbagai ikatan yang membelenggu manusia. Bentuk-bentuk penghambaan baru itu antara lain penghambaan terhadap egoisme, penghambaan terhadap materi, penghambaan terhadap nafsu seksual, dan penghambaan terhadap kekuasaan.

Di tengah maraknya ekstremisme, baik yang berbasis agama maupun etnik, kita juga menyaksikan semakin terpuruknya kelompok-kelompok masyarakat yang lemah (dhuafa), dan tertindas (mustad’afin), akibat pesatnya pengaruh neoliberalisme yang lebih memihak kaum borjuasi, para pemilik kapital dan para penguasa culas. Sekali lagi, kita menyaksikan agama seakan kehilangan elan vital-nya dalam membebaskan manusia dari segala keterpurukan, yukhrijun-naas minadz-duzulumati ilan-nur, sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w. semasa hidup beliau

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda