Tasawuf

Menabur Benih dan Menyerahkan Keberuntungan Kepada Allah

Bekerja keras laksana menyemai benih di tanah, Allah nanti yang memberi keberuntungannya (ilustrasi foto : Ian Schneider/Unsplash)
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Hanya dengan bekerja dengan sungguh-sungguhlah kita dapat merealisasikan wujud keimanan kita. Yakni melalui amal-amal saleh. Beriman memang selalu harus diikuti dengan amal-amal saleh.

Salah satu ujar-ujaran atau kata-kata mutiara yang paling populer di masyarakat adalah “Man jadda wa jada”  Secara harfiah berarti,  “Barang siapa bersungguh-sungguh pasti dapat.” Artinya, kalau  ingin sukses, kita harus kerja keras, mau keluar keringat, dan berdarah-darah istilahnya. Sebab pada dasarnya tidak ada keberhasilan yang bisa diraih dengan mudah, apalagi dengan sekejap, atau semudah orang membalik telapak tangan. Sukses bukan keberuntungan. Sebab, ibarat undian, keberuntungan bisa didapat tanpa harus bersusah-payah. Namun demikian, bagi kaum beriman, kerja keras saja tidak cukup, ia juga harus menyertainya dengan  sikap tawakkal.

Syahdan, suatu ketika Khalifah Umar ibn Khattab melewati sekumpulan orang. Khalifah bertanya: “Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab: “Kami sedang bertawakkal.” Apa tanggapan  Khalifah Umar kemudian? Beliau berkata: “Bukan. Tetapi kalian sedang menggantungkan nasib kepada orang lain. Tawakkal sebenarnya adalah orang yang menaburkan benih di tanah, lalu menyerahkan keberuntungannya kepada Allah.” 

Ungkapan Sayidina Umar ibn Khattab  tentang menabur benih itu,  bisa kita maknai sebagai sebuah keharusan orang untuk bekerja keras untuk mencapai yang diinginkannya. Sebelum menuai atau memanen,  orang harus menabur benih terlebih dulu pada lahan yang yang sudah diolah tentunya. Setelah itu dia juga diharuskan untuk merawat tanamannya agar tumbuh subur, terhindar dari serangan hama, hingga mencapai hasil yang optimal. Dengan lain perkataan, terdapat prosedur dan langkah-lagkah yang harus ditempuh seseorang untuk mencapai  keberhasilan.  Allah SWT berfirman, Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Q.S. 86:3)

Kerja keras yang kemudian diikuti dengan sikap tawakkal akan membentuk sebuah etos kerja pada diri seorang Muslim, yang bukan saja menganggap bahwa segala sesuatu yang ingin dcapai tidak bisa diraih dengan cara “sim salabim”, serba mudah dan instan, melainkan dengan tekad baja keras, namun juga dengan mengindahkan kaidah-kaidah agama dan norma-norma hukum yang berlaku. Dalam konteks ini Prof. Koentjaraningrat (almarhum), “bapak” Antropologi Indonesia, pernah mengingatkan kita bahwa karakteristik sebagian besar manusia Indonesia adalah “bermental penerabas”, yang cenderung ingin segera memperoleh apa yang diinginkan tanpa mematuhi kaidah-kaidah moral dan hukum yang berlaku. Mental penerabas ini pula yang ikut menyuburkan praktek yang sekarang menjadi jihad kita bersama untuk memeranginya yaitu KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).

Dengan itu pula, yang patut digarisbawahi adalah bahwa etos kerja seorang Muslim lebih berorientasi pada proses (process oriented) daripada berorientasi pada hasil (result oriented). Manusia yang mempunyai kecenderungan pada process oriented biasanya sangat memperhatikan cara yang baik dan benar dalam melakukan pekerjaan apa pun, serta menyerahkan hasil yang diupayakannya kepada Tuhan. Man proposes, God disposes. Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Jadi,  dia  tidak akan menerabas pagar etika dan peraturan untuk mewujudkan keinginan-keinginannya.

Sementara itu, mereka yang berkecenderungan pada result oriented berperilaku sebaliknya. Mereka cenderung hantam kromo, melabrak apa saja, seakan tidak mengenal prinsip  halal dan haram dalam menjalani hidup. . Sikap yang berorientasi pada hasil ini kerap didorong oleh keinginan untuk memiliki segala sesuatu dan sebanyak-banyaknya. Tamak atau rakus alias serakah, jelas bukan bagian dari etos kerja seorang Muslim.

Kerja keras yang disertai sikap tawakkal, juga mengindikasikan bagaimana sikap seorang Muslim dalam memandang hidup. Yakni sikap optimistis. Dia memandang ketidakberuntungan, sebagai sebuah kesialan yang harus terus disesali. Dunia di matanya tidak tampak kelam, sendu lara, tetapi cerah dan menyenangkan. Dia percaya akan janji Allah  yang senantiasa menunjukkan jalan bagi hamba-hamba-Nya.  Bukankah Allah ‘azza wa jalla telah berfirman, “Wa man jaahada fiina lanahdiyannahum subulana” Artinya, “Barang siapa berjuang di jalan Kami niscaya akan Kami tunjukkan jalan-jalan kami. Jadi, sudah saatnya kita, kaum Muslim, untuk memperbarui atau membangun  kembali etos kerja kita. Sebab, hanya dengan bekerja dengan sungguh-sungguhlah kita dapat merealisasikan wujud keimanan kita. Yakni melalui amal-amal saleh yang kita lakukan. Beriman memang selalu harus diikuti dengan amal-amal saleh. Dan pengertian amal yang sesungguhnya bukan sedekah, melainkan kerja atau berbuat.  Wallahu a’lam.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda