Mutiara

Kepercayaan yang Salah Tempat

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kehidupan mufasir besar, Abdullah Yusuf Ali, berayun di antara masa-masa gelap dan puncak-puncak prestasi, dan berakhir tragis. Akibat kepercayaan yang salah tempat?

The Holy Qur’an: Text, Translation, and Commentary. Pada abad ke-20 dan sampai sekarang, inilah kitab tafsir yang paling banyak beredar di kalangan kaum muslimin. Menjadi rujukan pokok di masjid-masjid dan rumah-rumah-rumah di dunia Islam yang berbahasa Inggris (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah dan Sapardi Djoko Damono) . Karya hebat ini ditulis oleh seseorang yang hidupnya “berayun di antara masa-masa gelap dan puncak-puncak prestasi,dan berakhir tragis.” Itulah Abdullah Yusuf Ali.

Rabu 9 Desember 1953, seorang tua renta dibawa polisi ke rumah sakit Westminster, London. Dalam udara sangat dingin, ia ditemukan di tempat terbuka, di teras sebuah rumah, seperti orang bingung. Esoknya, ia dilepas — dan ditampung di rumah jompo di Chelsea. Tapi pada hari itu pula ia mengalami serangan jantung dan dilarikan ke RS St. Stephen’s di Fulham. Tiga jam kemudian, pukul delapan malam, meninggal. Tidak ada yang mengambil jenazahnya. Untunglah Komisi Tinggi Pakistan di London mengenalinya sebagai tak lain, Abdullah Yusuf Ali. Lalu jenazahnya diurus Seksi Muslim dari Pekuburan Brookwood. Orang tua yang malang ini mengakhiri kehidupannya  yang luar biasa pada usia 81 tahun.

Lahir pada 4 April 1872 di Surat, kota tekstil di Gujarat, India Barat, Abdullah Yusuf Ali adalah anak kedua Yusufali Allahbukhs. Berasal dari lingkungan pedagang yang salih, yang disebut kaum Bohra, tetapi bekerja di dinas kepolisian. Kaum ini keturunan da’i dari Kairo yang dulu diburu para penguasa Syi’ah Fathimiyah. Masa kanak-kanak Abdullah singkat saja, hanya sampai usia sembilan. Setelah itu, “rumah” bagi Abdullah Yusuf Ali berarti sekolah dan asrama. Kecuali tentang ayahnya, ulama mufasir ini tidak punya kenangan tentang kehidupan keluarga. Pola pengasuhannya menjadikan dia remaja yang serius dan matang sebelum waktunya — mandiri sejak usia dini. Ini memang sering menjadikan orang  tahan banting. Tapi pada Abdullah Yusuf Ali, justru dia ringkih di dalam. Meski penampilannya di depan publik memikat, kawan-kawannya menganggap dia terlalu sensitif, cepat merasa tidak dipahami, “dikorbankan”, dan sangat bahagia jika diterima sebagai orang kepercayaan atau di suatu lingkungan terpilih. Setelah menyelesaikan kuliah empat tahun di Cambridge . Inggris, pada 1896 Abdullah diterima menjadi pegawai pamong praja India (ICS), pekerjaan paling bergengsi. Usianya baru 23. Jabatan pertamanya, asisten hakim dan kolektor (pajak) di Sharanpur, United Provinces. Kemampuannya di bidang penulisan pertama kali muncul lewat ‘Monograf tentang Pabrik Sutra di Provinsi-provinsi Barat Laut dan Oudh’. Selain teknik dan industri, masalah budaya dan agama terkandung di dalam karya ini.

Abdullah Yusuf Ali pada 1911 (sumber : wikipedia)

Pada 1900 Abdullah kembali mengunjungi Inggris dan ternyata di sana menikah dengan Teresa Mary Shalders. Aneh, barangkali, perkawinan berlangsung di Gereja St. Peter. Teresa boyong ke India. Anak pertama mereka lahir pada 1901. Disusul putra kedua setahun berikutnya. Kemudian Teresa dan anak-anak balik ke Inggris.

Pada 1905, ketika mendapat cuti dua tahun. Abdullah menyusul Teresa, yang waktu itu sudah melahirkan putra ketiga, sekalian masuk sekolah hukum di Lincoln’s Inn. Tahun itu pula Muhammad Iqbal tiba di Inggris dan masuk Cambridge. Abdullah berusaha keras mencurahkan perhatian pada keluarga (Teresa sedang menanti kelahiran putra keempat), tapi waktu itu pula dirinya sedang penuh gagasan tentang apa yang perlu dilakukan di India. Ia banyak menulis,  banyak berpidato,  mengenai agama dan politik serta kerja sama Hindi-Muslim.

Yusuf Ali adalah tokoh yang, diungkapkan M.A. Sherif, penulis biografinya, menjalani kehidupan yang tegang: satu bagian dirinya menerima keunggulan Inggris, sementara bagian yang lain mencari sesuatu untuk dapat memulihkan kehormatan muslimin di India. Di situ ia berbeda dari jenius lain seangkatannya — Iqbal misalnya. Yusuf Ali mengemukakan suatu pandangan dunia yang rumit dan meletakkan Barat dan Inggris sebagai kekuatan dominan. Ia memandang penting upaya mendamaikan Timur dan Barat. Iqbal tidak berminat kepada rekonsilasi semacam itu. Yusuf Ali, sebaliknya, mengira Iqbal punya obsesi mencari-cari cacat spritual dan moral dunia Barat.

Bagi Yusuf Ali, kata Sherif, agama merupakan wilayah kesalehan pribadi. Berbeda dengan Iqbal yang melihat manusia muslim sebagai manusia yang bertindak dan berjuang, sementara agama mencakup segalanya.

Abdullah Yusuf Ali di masa tuanya (sumber : wikipedia)

Lalu peristiwa yang menghancurkan itu pun datang. Di India, ketika meminta izin pulang sambil berobat (1908), Abdullah Yusuf Ali mendapat berita bahwa istrinya di Inggris menyeleweng. Satu cobaan yang bukan main — lebih-lebih setelah diketahui perselingkuhan sang istri sudah berlangsung lama dan sedang membuahkan bayi dalam kandungan. Anak-anak, yang lahir susul-menyusul itu, tidak mampu menjadi tali pengikat perkawinan. Boleh jadi Yusuf Ali terlalu asyik dengan dunianya, sementara Teresa merasa kosong. Yang jelas, dalam keadaan terluka itulah Abdullah kembali mendekati Al-Qur’an dan belakangan tergerak menyusun tafsirnya. Toh rasa sedih itu masih terasa ketika ia menuliskan pengantar penerbitan karyanya itu lebih 25 tahun kemudian (edisi 1934): “Kehidupan seorang manusia dapat tertimpa musibah batin yang jauh lebih menghancurkan ketimbang angin topan yang meluluhlantakkan dunia sekitar…… Badai semacam itulah….yang nyaris menghilangkan akal  saya dan membuat hidup saya terasa tanpa makna.”

Abdullah Yusuf Ali, kata Sherif, adalah tokoh besar dengan otak cemerlang dan ketekunan luar biasa. Tapi kehidupannnya merupakan kisah yang menyedihkan akibat kepercayaan yang salah tempat. Tentu saja tidak hanya terhadap istri.

Sumber: M.A. Sherif, A Biography  of Abdullah Yusuf Ali, Interpreter of  The Qur’an (2004) 

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda